I’m a Mom

I’m a Mom

image

No matter how old you are,
how strong you are,
how much money you have,
there is a relationship in which you unconditionally lose.

The one who loves more is always the weaker one.

image

My kids are like that to me.

More than the food I eat,
I’m more full when my kids eat.

A strange and mysterious being.

I am a mom

 

 

 

 

 

(Quote from Angry Mom drama)

Kita Di Sosial Media

Kita Di Sosial Media

Saat pertama ngeblog di akhir tahun 2003, bisa dibilang itu langkah awal wujud eksitensi saya di dunia maya. Setelah itu saya bergabung dalam forum komunitas yang bergerak dari mailing-list kemudian wadahnya berubah menjadi bentuk web.

Kemudian dunia maya ini disebut sebagai sosial media karena menjadi tempat interaksi sosial dan berbagi informasi. Dapat diakses tidak hanya melalui komputer meja tetapi sudah sampai komputer tangan alias smartphone. Berbagai aplikasinya pun bermunculan mulai dari Friendster, Facebook, Twitter, Instagram, Path, Snapchat, Youtube, dll. Saya pun mencoba mengikuti perkembangan teknologi dengan menginstal dan aktif di beberapa sosial media tersebut.

Di sisi lain saya tetap berusaha istiqomah menjaga blog ini dengan selalu update tulisan baru. Gak gampang loh berusaha awet ngeblog sampai lebih dari 10 tahun gini. Kebanyakan blog angkatan saya udah pada mati suri tuh karena yang punya alias penulis blognya lebih memilih eksis di sosial media lain.

Sempat ada masa di mana saya terserang rasa malas menulis blog karena khawatir dengan pembaca. Reaksi pengunjung blog memang susah diprediksi. Kadang mereka gak komentar langsung di postingan, tapi mengirim pesan japri (via email, WA, dll) untuk menanggapi tulisan saya.

Komentar negatif sudah pasti saya terima juga.

Atas cerita perjuangan saya melawan penyakit TBC tulang, ada yang meninggalkan pesan “kasian yah masrafa, udah jelek eh punya emak penyakitan pula

Di postingan resep Udang Gulung, ada yang japri berkomentar “kasian amat anak lo cuma dikasih mie instan. Cuma beda bentuk aja ini mah

Setiap saya sharing cerita perjalanan, pasti ada yang tanya “kerjanya apa sih, mba. Enak banget jalan-jalan mulu

Saat berbagi ide menata rumah dengan menampilkan foto-fotonya, ada aja yang bilang “pamer kekayaan banget sih

Catatan kegiatan olahraga, dikatakan “pencitraan hidup sehat banget sih mbak nya”

Lucu yaaa

image

Saya melihat sekarang makin banyak orang yang berasa malaikat, sibuk mencatat kejelekan orang lain. Gak sedikit yang berasa macam Tuhan, sibuk menghakimi postingan orang.

Setiap mau nulis atau posting foto, saya kadang mikir “ntar dianggap atau dikomentarin apa yah?

Manusiawi kan yah.

Tapi lama-lama saya sadar, kok saya ribet sendiri mikirin omongan orang lain. Padahal tidak semua orang beranggapan negatif, ada juga kok yang bilang mereka merasa terbantu dengan postingan saya.

Niatnya kan berbagi, syukur-syukur kalo bisa memotivasi atau menginspirasi orang lain.

Kalo ada yang merasa terintimidasi atau tersaingi, ya maaf aja. Anggap pelajaran bagi saya supaya merubah gaya bahasa penulisan yang tidak berkesan pamer atau sombong.

image

Niat kita menulis memang cuma Allah yang tau. Kita bisa menghapus postingan kita di sosial media, tapi ingat juga kalau kita tidak bisa menghapus internet history itu dari Allah.

Sekarang tinggal merubah pola pikir setiap akan posting, bertanya dalam hati “apakah postingan ini bisa bermanfaat bagi orang lain dan menjadi ladang amal kita?

Yang pasti saya menulis untuk mencurahkan isi hati. Saya ingin saat saya membaca kembali postingan lama, saya tidak akan merasa malu sendiri. Apalagi kalo sampai dibaca oleh anak dan cucu nanti.

Tidak perlu menjadikan sosial media sebagai ajang keluh kesah atau gerutuan terhadap masalah yang sedang dihadapi. Tidak semua hal harus kita bagi, simpan sebagian sebagai rahasia diri.

image

Setuju sama kak Injul yang menulis bahwa postingan di sosial media, sangat mencerminkan tingkat kedewasaan kita. Tidak hanya konten (foto dan gaya bahasa) yang kita unggah, tapi reaksi kita terhadap postingan orang lain juga bisa menggambarkan seperti apa diri kita sesungguhnya. Apakah kita tulus menulisnya, atau kita hanya ingin punya jatidiri yang berbeda di sosial media. Itu pilihan kita, dan tanggung jawab kita.

Rafa Masuk SMA

Rafa Masuk SMA

Sebelumnya saya cerita di sini, kalau Rafa sudah diterima di Boarding Program salah satu sekolah swasta ternama di Jakarta Selatan yang proses seleksi masuknya juga tidak gampang.

Ketika hasil UN keluar, Rafa merasa nilainya cukup tinggi untuk bisa masuk ke sekolah negeri favorit se-Tangerang Selatan. Jadi lah saya dan pak suami sibuk browsing mencari informasi tentang sekolah tersebut.

Saya sampai menghubungi beberapa teman dan tetangga yang anaknya sekolah di situ. Saya juga menyempatkan diri untuk ngobrol langsung dengan anak seorang teman, yang saya tau sangat berprestasi di sekolahnya.

Iya sebut saja saya sebagai emak posesip, segitunya cari informasi tentang sekolah anak. Tidak hanya melihat dari web sekolah, reputasi dan prestasi sekolah, bertanya ke orangtua murid, saya juga mewawancara anaknya untuk mendengar pengalaman dan sudut pandang siswa terhadap sekolah tersebut.

Sebelum mendaftar online, saya dan pak suami mengajak diskusi Rafa. Kami menjelaskan pro dan kontra antara sekolah swasta dan sekolah negeri. Kami menjabarkan konsekuensi yang harus Rafa hadapi di masing-masing sekolah tersebut. Kami juga menyampaikan apa harapan kami jika Rafa masuk di salah satu sekolah tersebut, serta apa hasil yang harus Rafa capai ketika keluar dari sekolah itu.

Akhirnya Rafa memutuskan untuk mencoba sekolah negeri. Setidaknya dia sudah paham apa yang akan dihadapi dan konsekuensinya. Kami menghargai keputusan Rafa, dan akhirnya mendaftarkan secara online.

Saat itu kami baru tau rasanya 3 hari deg-degan memantau situs PPDB, karena setiap ada pendaftar baru dengan nilai lebih tinggi maka posisi anak bisa melorot hanya dalam hitungan detik. Alhamdulillah Rafa berhasil menempati posisi 41 dari kapasitas 90 murid yang diterima melalui jalur reguler (murni berdasarkan NEM). Dan Rafa memutuskan untuk memilih sekolah ini.

Di sisi lain, saya dan pak suami harus ikhlas melepas uang masuk sekolah swasta yang sudah dibayarkan beberapa bulan yang lalu. Hangus! Gak bisa balik sepeserpun karena mengundurkan diri dengan alasan apapun. Padahal nominalnya bisa untuk biaya umroh 2 orang tuh *elap jidat*. Etapi dengan masuk ke sekolah negeri, biaya operasionalnya juga jauh lebih murah kan. Alhamdulillah meringankan pengeluaran bulanan keluarga kami selama 3 tahun ke depan.

image

Kalau dilihat dari segi fasilitas, sekolah negeri ini tidak kalah dengan sekolah swasta loh. Absennya menggunakan mesin sidik jari di gerbang sekolah, masjid besar berdiri tegak di tengah area sekolah, ada mobil operasional sekolah, fasilitas lab lengkap, kondisi sekolah juga terjaga kebersihannya (saya keliling cek setiap sudut sekolah sampai ke toiletnya). Program-program di sekolah ini bisa dibilang luar biasa. Disiplinnya juga gak kasih kendor. Murid-muridnya rajin menorehkan prestasi di kompetisi tingkat nasional dan internasional. Wajar kalo setiap tahun beberapa PTN dan universitas swasta menyodorkan undangan maupun beasiswa untuk puluhan siswa berprestasi dari sekolah ini.

Seminggu pertama saat masa orientasi sekolah, kelihatan kalau Rafa menghadapi culture shock. Di sekolah sebelumnya, kegiatan belajar mengajar semuanya well-managed dan well-informed. Di sekolah negeri ini, setiap siswa dituntut untuk mandiri dan aktif mencari informasi. Kalau sekolah sebelumnya ada mas dan mbak ISS untuk membersihkan semua sudut sekolah, baru sekarang Rafa merasakan bawa sapu lidi ke sekolah dan harus ikut kerjabakti membersihkan sekolah. Alhamdulillah Rafa cepat menyesuaikan diri dan mampu beradaptasi.

Semua anak yang masuk melalui jalur REGULER dimasukkan dalam 2 kelas khusus, tidak dicampur dengan anak yang masuk melalui jalur MANDIRI. Jadi bisa dipastikan Rafa tidak boleh main-main dalam berkompetisi dengan teman sekelasnya. Saingannya anak luar biasa semua, 90 anak pemilik nilai paling tinggi dari 500an yang mendaftar secara online.

image

Minggu ini mas Rafa mulai mengenakan seragam putih-abu nya. Seminggu sebelumnya selama masa orientasi, murid diminta menggunakan seragam dari SMP asal. Walo Rafa tidak menemukan 1 orang pun yang menggunakan seragam SMP yang sama selain dirinya, tapi alhamdulillah Rafa sudah bisa memiliki teman seru-seruan sekarang.

It’s your life,

It’s your choice,

It’s your responsibility.

We appreciate it and will always support you, mas.

Enjoy high schooler life and have fun!

 

 

 

Dengan ini saya resmi menjabat MAHMUD ABAS … mamah muda yang anaknya baru SMA ^_*

Parenthood

Parenthood

Buat saya, menjadi orangtua itu adalah pekerjaan yang menantang sekaligus membutuhkan kreatifitas tingkat tinggi.

image

Ketika kita menjadi seorang orangtua, diri ini bukan lagi pusat dari kehidupan kita. Posisi itu berubah menjadi anak-anak kita. Mereka lah yang sekarang menjadi pusat dari kehidupan diri kita.

Ustad Ahmad Alhabsy menyampaikan:

ANAK = Allah Nitip Ama Kita

Jika sudah punya anak, bersyukurlah. Semua manusia ditakdirkan menjadi anak, tetapi tidak semua anak ditakdirkan menjadi orangtua. Merawat dan mendidik anak dengan baik, adalah bentuk rasa syukur kita terhadap Sang Pencipta yang telah memberikan kita kesempatan untuk menjadi orangtua.

Jangan mimpi bisa punya anak sholeh dan sholehah, kalau kita sebagai orangtuanya juga belum sholeh.

Gimana anak mau hafal Quran kalau si anak dari dalam kandungan diperdengarkan musik Mozart, bukan murotal Quran.

Anak tidak bisa berbahasa Inggris, orangtua malu … ketika anak tidak bisa membaca Quran, apakah kita sebagai orangtua malu juga?

#selfreminder

Semoga kita bisa menjadi orangtua yang lebih baik dari pada orangtua kita. Dan semoga anak-anak kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari orangtuanya. Semoga doa mereka bisa menyelamatkan akherat kita.

Semoga anak-anak kita dikayakan dengan ilmu, dihiasi dengan kelembutan, dimuliakan dengan ketaqwaan, diperindah dengan kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin … Allahuma amin.

Fayra’s 2nd Client

Fayra’s 2nd Client

Suatu hari sepulang sekolah, Fayra dengan semangat bercerita di mobil kepada saya “ma, aku dapat order dari Ustad Fathur untuk membuat rompi

Katanya, rompi tersebut akan digunakan sebagai pelengkap baju seragam mengajar di sekolah.

Tidak lama ustad juga mengirim pesan WA ke saya untuk meminta ijin yang sama. Saya sih terserah Fayra aja. Selama anaknya mengerjakan order dengan senang hati, saya tidak akan keberatan. Tapi saya mengingatkan ustad, kalau Fayra masih moody. Apalagi order diterima ketika menjelang Ujian Kenaikan Kelas.

Sabtu sesuai dengan jadwal sekolah fashionnya, Fayra meminta saya untuk tidak buru-buru mengajaknya pulang ke rumah. Ternyata Fayra menghampiri guru pola untuk diskusi cara mengukur badan dalam pembuatan rompi. Semua dicatat dengan seksama dalam bukunya.

Senin Fayra membawa meteran ke sekolah untuk mengukur badan ustad. Fayra juga meminjam salah satu kemeja ustad untuk lebih memastikan ukuran badannya.

Saya diberi tugas oleh Fayra untuk membeli kain dengan 2 warna netral (dark grey + navy).

Beberapa hari setelahnya kami pergi ke tukang jahit bersama. Fayra menjelaskan gambar dan ukuran secara detil ke tukang jahit. Seminggu setelahnya, rompi untuk ustad sudah siap.

image

Karena sudah masuk waktunya libur kenaikan kelas, rompi dikirim melalui kurir JNE.

Fayra dengan bangganya menunjukkan foto ustad yang memakai rompi rancangannya di Instagram.

image

Alhamdulillah … Another great job, Fay!