Jogging Di Aspire Park

Jogging Di Aspire Park

Tanggal 12 Februari merupakan Hari Olahraga Nasional di Qatar (Sport Day), seluruh pekerja dan siswa libur semua.

Beberapa perusahaan besar membuat acara di taman-taman yang biasanya menjadi tempat favorit penduduk Qatar untuk berolahraga. Beberapa klub olahraga menawarkan potongan harga jika kita mendaftar pada tanggal ini. Ada juga perusahaan telekomunikasi yang mengganti jumlah langkah yang tercatat pada aplikasi olahraga di henpon kita hari itu menjadi paket data. Misalnya kita mencapai 10 ribu langkah, maka kita akan diberikan paket data 1GB secara cuma-cuma. Menarik yah?

Kebiasaan saya untuk jogging masih terus berlanjut. Kalau musim panas, biasanya saya cuma jogging di treadmill dalam ruangan gym di lantai dasar apartemen. Kalau musim dingin, saya menikmatinya dengan jogging di luar rumah.

Salah satu tempat jogging yang asyik di Doha menurut saya adalah di ASPIRE PARK. Sebelumnya saya sudah pernah cerita tentang taman ini di sini kan yah. Kali ini saya ingin menceritakannya dari sisi yang berbeda.

Di dalam Aspire Park ada peta jogging track yang bisa kita temui hampir di setiap 500 meter. Dalam papan besar ini berisi informasi beberapa jogging track yang digambarkan dalam warna berbeda. Setiap warna dijelaskan berapa jaraknya, berapa langkah yang bisa kita tempuh, berapa waktu yang dibutuhkan, sampai berapa kalori yang terbakar. Di setiap persimpangan jogging track, ada tanda panah yang menunjukkan arah kemana kita harus melanjutkan langkah.

Biasanya saya mengambil jogging track paling luar yang berwarna abu-abu. Jarak 1 putarannya sekitar 3 KM. Untuk mencapai target harian saya yang cuma 5 KM, biasanya saya menambah ke jogging track warna merah yang putarannya lebih kecil.

Setiap jogging di sini baik pagi maupun petang, kita bisa bertemu dengan beraneka ragam manusia dengan segala penampilannya. Qatar yang 80% penduduknya merupakan pendatang, bisa kita lihat dengan jelas di taman ini.

Kita bisa melihat segala rupa manusia dengan berbagai jenis warna kulit, bermacam-macam warna rambut, aneka postur tubuh dengan segala macam bahasa yang mereka ucapkan dengan sesamanya.

Untuk penduduk lokalnya, mereka tetap berolahraga menggunakan pakaian sehari-hari yaitu abaya untuk perempuan dan thoub (gamis putih) untuk laki-laki. Saat pakaian mereka tersingkap angin, kita bisa melihat kalau mereka tetap menggunakan celana training dan sepatu olahraga seperti pada umumnya.

Jangan tanya saya apakah tidak ribet jogging menggunakan gamis panjang seperti itu … karena saya belum pernah mencobanya.

Mungkin sama rasanya dengan jogging menggunakan daster kali ya?

Taman Aspire ini sangat bersih dan terawat. Hampir tidak ada sampah secuil pun di dalamnya. Tempat sampah bisa kita temui di hampir setiap 500 meter. Di bawah rerumputan sudah disiapkan selang yang memancarkan air pada waktu-waktu tertentu. Untuk area yang tidak terjangkau oleh selang otomatis, ada petugas yang keliling dengan mobil tangki kecil untuk menyiram secara manual. Belum lagi puluhan tukang sapu dan tukang gunting rumput yang tersebar di seluruh area.

Jogging track di Aspire Park tidak hanya jalan mendatar. Ada kawasan yang dibuat seperti bukit kecil. Kalau kita ambil jalur berwarna abu, kita akan melewati bukit ini dengan jogging track yang berupa tanjakan dan turunan. Lumayan bikin ngos-ngosan loh. Tapi akan terbayar lunas saat kita sampai di puncak bukit kecilnya, karena kita bisa menikmati pemandangan taman secara keseluruhan dari atas sana.

Fasilitas di dalam taman ini super duper lengkap deh.

Playground untuk anak-anak aja tersedia lebih dari 2 titik, begitu pun untuk alat-alat olahraga statis nya. Toiletnya sangat bersih dan selalu dijaga petugas.

Danau di tengah taman pun dilengkapi dengan angsa yang suka berkeliaran di sekitarnya atau asyik berenang anggun di dalam danau.

Aspire park ini bersebelahan dengan Kidzania dan arena tempat bermain Go-Kart.

Musholla untuk laki dan perempuan dibuat dalam bangunan yang terpisah. Selain tempat wudhu, musholla juga dilengkapi dengan bilik toilet. Terhampar rumput lembut dari plastik di halaman musholla. Jadi batas suci bisa terlihat jelas dengan perbedaan warna rumputnya. Karena saat musim dingin, taman ini biasa digunakan untuk piknik. Begitu masuk waktu sholat, jamaah akan membludak sampai ke halaman. Orang sini tidak menggunakan sajadah saat sholat, mereka langsung merapatkan barisan karena bisa dipastikan hamparan rumput di halaman musholla sangat terjaga kebersihannya.

Penduduk yang memiliki hewan peliharaan, tidak bisa membawa hewan dengan bebas ke taman-taman umum. Karena tidak semua taman diperbolehkan untuk binatang peliharaan. Jadi kalau mau bawa anjing jalan, harus cek dulu taman mana yang diperbolehkan untuk membawa hewan.

Seringnya sih saya jogging di sini sendirian saat anak-anak sekolah.

Kebetulan di depan taman ada sebuah mall besar yang suka menjadi tempat janjian anak-anak dengan teman mereka. Saat anak-anak janjian dengan temannya di dalam mall, saya menghabiskan waktu dengan jogging sore di sini. Daripada buang uang karena tergoda bendera merah yang berkibar dengan tulisan SALE di dalam mall, mending saya buang keringat dan membakar lemak aja kan yah?

Beberapa kali saya pernah janjian jogging bareng teman. Kami pernah juga melakukan PICNICRUN, jogging santai sebelum gelar tikar piknik dan menikmati cemilan.

Sebelum jogging, tas yang berisi minuman dan makanan kami letakkan di salah satu bangku taman. Kemudian kami tinggal jogging beberapa putaran. Alhamdulillah meski ditinggal hampir sejam, barang bawaan kami masih tergeletak aman di bangku taman. Gak ada yang berani mencolek ataupun mengambilnya. Coba kalo kita melakukan hal ini di Monas, balik lagi masih ada gak tasnya? Hehehe

Yang menarik dari taman ini, saya melihat banyak bangku putih di beberapa titik dalam Aspire Park. Dari samping ada logo ikon elektronik. Ketika lihat diatasnya, ternyata bangku ini merupakan Solar Panel yang menkonversi cahaya sinar matahari menjadi listrik. Ada kabel yang ditutup paving kuning di sebelahnya dan terhubung ke kios kecil ataupun vending machine. Jadi kios minuman yang membutuhkan listrik untuk menjalankan blender, bisa mengambil listrik dari situ. Begitu pun vending machine yang menjual aneka minuman dan jajanan dalam kemasan, mengambil listrik juga dari bangku Solar Panel. Untuk lampu taman, mengambil listrik dari Solar Panel besar di dekat danau. Waahh cerdas banget ya!

Insya Allah akan saya ceritakan tempat jogging favorit saya yang lainnya di Doha.

Ditunggu yaaaa …

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Berburu Spot Foto Keluarga Di Bandung

Berburu Spot Foto Keluarga Di Bandung

Bosan gak sih beberapa waktu terakhir posting di blog ini selalu cerita tentang Qatar? Ya memang gak bisa dihindari sih ya, secara yang punya blog sekarang tinggal di negara tersebut.

Kali ini mau flashback cerita 1,5 tahun lalu ah, sebelum kami pindah ke Qatar. Kami sempat berburu spot foto keluarga di Bandung. Baru ingat kalo belum pernah diceritakan di blog ini.

Sebenarnya tujuan kami ke Bandung awal bulan Juli 2017 itu bukan sekedar liburan, tetapi kami mengurus dokumen di kampus PakSuami sebagai syarat mengajukan visa kerja Qatar. Walau tujuan utamanya ke kampus PolTek ITB untuk legalisir ijasah dan transkrip nilai, kami memanfaatkannya juga untuk membawa anak-anak liburan mumpung papanya mengajukan cuti kantor 2 hari. Kebetulan mereka yang lebih update sama tempat-tempat yang lagi hits saat itu dan mereka mengusulkan untuk berburu spot foto keluarga.

Berikut 3 Spot Foto Keluarga Di Bandung yang diusulkan anak-anak:

 

Upside Down World

Setelah urusan di kampus PakSuami beres, kami langsung menuju lokasi pertama yang diusulkan anak-anak yaitu Upside Down World yang terletak di daerah Dipati Ukur.

Tempat ini unik banget dan sangat instagramable. Bentuknya dari luar seperti rumah biasa, tetapi di dalamnya banyak ruangan dengan tema yang berbeda-beda dalam kondisi terbalik. Ada ruang keluarga, ruang makan, kamar tidur, dapur sampai kamar mandi. Semua benda yang diletakan secara terbalik ini sudah terjamin keamanannya, jadi gak perlu khawatir akan kejatuhan sesuatu yang bisa menimpa tubuh kita.

Di setiap ruangan ada petugas yang akan membantu kita untuk mengambil foto menggunakan kamera atau henpon milik kita sendiri. Mereka sudah paham banget angle terbaik untuk posisi kamera dan orang-orang yang akan difoto. Bahkan mereka juga yang membantu mengarahkan gaya kita. Pokoknya tinggal nurut dan nyengir aja deh.

Ini salah satu hasil foto kami berempat di Upside Down World:

The Lodge Maribaya

Hari berikutnya kami pergi menuju Lembang. Kalau sebelumnya kami asyik foto di dalam ruangan, kali ini kami mencari spot foto outdoor. Yang lagi ramai diupload di berbagai media sosial kala itu, apa lagi kalo bukan The Lodge Maribaya.

Meskipun kami ke sana hari Selasa (bukan akhir pekan), tapi karena masih musim liburan kenaikan kelas … pengunjung yang datang ke tempat ini sangat berlimpah. Untuk 1 spot foto saja, kami harus antri berbaris lebih dari 1 jam. Di setiap spot foto kita harus membayar sekitar 15-25 ribu per orang. Di sana ada petugas yang siap dengan kamera profesionalnya untuk membidik pose terkece kita. Begitu selesai kita bisa mengunduh file foto tersebut dengan aplikasi ShareIt. Tentunya ada biaya yang harus kita bayar lagi, kalo gak salah 10 ribu per foto deh.

Alhamdulillah berhasil juga dapat foto kece di Mountain Swing alias ayunan yang bikin deg-degan:

Taman Hutan Raya IR. H. Juanda (TAHURA)

Sebenarnya saat di Maribaya, Fayra minta kami untuk foto di hammock. Tapi mas Rafa keberatan karena males berdiri antri lebih dari sejam lagi. Akhirnya kami pindah lokasi ke Taman Hutan Raya Juanda yang lebih sedikit pengunjungnya. Kebetulan di sana pun ada tempat foto di atas hammock.

Yang ingin duduk dalam hammock posisi teratas, diminta naik duluan. Kami diminta melepas sepatu karena harus memanjat pohon dengan menaiki tali-tali yang diikat di antara 2 pohon. Fayra minta duluan karena mau paling atas. Saya mengalah ambil posisi terakhir mengingat kondisi badan yang sudah tidak bisa selentur jaman muda. Posisi paling bawa pun ketinggiannya lebih dari 3 meter. Jadi masih lumayan juga naiknya.

https://www.instagram.com/p/BWIX7-TFknQ/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=s6p9y79bcw2l

Selain petugas yang membantu memasang peralatan pengaman ke tubuh kita, ada juga petugas yang mendampingi kita saat manjat pohon dan ada petugas lain yang siap mengabadikan dibawah dengan kamera henpon kita. Petugas-petugas ini yang mengarahkan kemana kita harus menghadapkan badan, dimana kita harus meletakan kaki juga tangan dan mereka juga akan mengecek apakah hasil foto di kamera sudah cukup bagus atau kita harus mengulang lagi. Setelah selesai, kami turun satu-persatu dimulai dari yang posisi paling bawah.

Lucu juga kalo ingat betapa mendadaknya liburan kami ke Bandung ini.

Awalnya PakSuami cuma bilang “ma, besok pagi aku harus ke Bandung untuk legalisir ke kampus

Eh anak-anak nyeletuk di belakang “ikut dong pa … kita kan udah lama gak liburan ke Bandung

Akhirnya PakSuami bilang “ya udah sana cari hotel di Bandung deh

Saya langsung buka web PegiPegi untuk mencari penginapan saat itu juga. Tinggal masukkan ‘Bandung’ di kota tujuan, kemudian masukkan ‘tanggal check-in dan check-out’, lanjut menulis angka 4 pada kolom ‘jumlah tamu’ dan angka 1 pada kolom ‘jumlah kamar’ dan klik CARI. Langsung deh keluar hotel-hotel yang memiliki kamar berukuran besar yang bisa digunakan untuk 4 orang tanpa tambahan kasur (extra bed).

Anak-anak kami memang sudah besar (usia 12 dan 17 tahun), harusnya memang sudah bisa pesan kamar terpisah di hotel. Tapi kami malas membawa beberapa tas dan toiletries, karena itu kami memilih 1 kamar tapi yang muat untuk berempat. Yang canggihnya … web PegiPegi sangat membantu kami dalam hal ini. Pesan malam untuk pergi besok pagi pun gak masalah.

Alhamdulillah urusan dokumen berjalan lancar, anak-anak berasa liburan, dan kami jadi punya stok foto keluarga baru deh.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Tidak Ada Parkiran Motor Di Qatar

Tidak Ada Parkiran Motor Di Qatar

Setahun tinggal di Qatar, saya belum pernah melihat area khusus untuk parkir kendaraan beroda dua.

Memang jumlah kendaraan roda dua di Qatar sangat sedikit. Jangankan sepeda, motor pun jarang kita lihat berkeliaran di jalan raya. Dengan struktur daratan negara gurun yang didominasi pasir, pastinya tidak mudah mengendalikan kendaraan roda dua. Meski sekarang pembangunan negara sudah sedemikian pesat dan seluruh jalan raya sudah menggunakan aspal yang mulus … jumlah motor dan sepeda juga tidak meningkat secara tajam.

Faktor cuaca juga menjadi salah penyebabnya sih. Siapa coba yang mau naik motor dibawah terik matahari dengan suhu mencapai 50 celcius saat musim panas. Belum lagi kalau badai pasir datang menghampiri. Biasanya motor baru mulai berkeliaran ketika musim dingin datang dengan suhu di bawah 20 celcius (bulan Desember – Februari). Kalau suhu masih 30an celcius, orang sini masih malas mengeluarkan motornya. Ketika mereka lewat … suaranya menggelegar di jalan, karena memang kebanyakan motor dengan kapasitas mesin yang besar di atas seribu cc.

Tidak seperti di Indonesia yang parkiran motornya selalu penuh dengan barisan shaf sangat rapat bagai sholat hari raya, di Qatar semua motor diparkir di tempat parkiran mobil. Ya karena memang tidak ada area khusus untuk parkir motor di tempat umum, terlalu sedikit jumlahnya hingga dirasa tidak harus dibuatkan khusus.

Kejadian ini suka mengecoh ketika kita cari parkir mobil, dari jauh melihat ada rongga lowong … ternyata ketika mendekat ada seonggok motor di situ. Hahahaha

Gak cuma di tempat parkir tertutup, di pinggir jalan raya pun motor parkir di tempat yang sama dengan mobil. Dan tetap mengambil jatah luas yang sama.

Di sini gak ada tuh yang berusaha mepet-mepet jatah parkiran.

Photo credit : om Dody

Harga motor di Qatar sebenarnya tidak mahal, kalau dibanding dengan harga di Indonesia sih ya. Lihat saja foto di atas, kebetulan om Dody main ke sebuah showroom untuk melihat harganya.

Motor dengan kapasitas mesin 1000cc ke atas yang di Indonesia dijual dengan harga 500 juta bahkan sampai ada yang lebih dari 1 miliar rupiah …. di Qatar bisa didapat dengan harga kurang dari 1/2nya saja. Contohnya motor bekas dengan merk Ducati 1200cc tipe S Stripe produksi tahun 2015, dijual di Qatar dengan harga QAR 33,000 atau sekitar 130 juta rupiah. Harga pasaran di Amerika sendiri masih sekitar $12,000 … ini cuma $9,000 saja.

Photo credit : om Dody

Karena cuma digunakan saat musim dingin yang paling lama 3 bulan, selebihnya motor diabaikan di parkiran sampai berselimutkan debu tebal.

Suka miris aku tuh melihatnya … pingin bawa pulang rasanya.

Dengan harga motor yang gak terlalu mahal, para restoran yang biasanya menggunakan mobil untuk jasa pesan antar (delivery service) … sekarang mulai menggunakan motor.

Talabat, jasa pengantar titip beli makanan seperti halnya Go-Food di Indonesia, juga muai menggunakan motor. Bedanya di sini gak pake motor bebek, tapi menggunakan motor gede nan kece.

Apakah ini pertanda bisnis ojek online juga akan segera tersedia di Qatar? Kita lihat nanti ya … Hahahaha

Aduuh kangen naik motor deh jadinya.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Kirim Uang Dari Qatar Ke Indonesia

Kirim Uang Dari Qatar Ke Indonesia

Di zaman teknologi sudah berkembang pesat sedemikian rupa, jasa keuangan juga sudah semakin canggih. Sehingga untuk proses pengiriman uang antara negara pun sudah bukan merupakan sebuah masalah berarti.

Ada beberapa pilihan jasa pengiriman uang dari Qatar ke Indonesia, antara lain:

  1. BNI Remittance
  2. Mandiri Remittance
  3. BCA Remittance
  4. Western Union
  5. Internet Banking (e-banking)

Proses pengiriman uang REMITTANCE sebagai berikut:

  • Kita mendaftarkan diri dengan menunjukkan QID/Passport.
  • Mengisi form data diri : nama sesuai passport, no handphone, pekerjaan, nama perusahaan yang menjadi sponsor visa kerja, lokasi kantor, dll.
  • Mendaftarkan data rekening tujuan di Indonesia : nama bank, nomor rekening, nama pemilik rekening.
  • Uang dalam bentuk QAR akan langsung dikonversi menjadi IDR. Tetapi ada beberapa bank yang mengkonversi QAR menjadi USD dulu, baru kemudian dikonversi lagi USD menjadi IDR.
  • Total Rupiah tersebut akan dipotong 30ribu jika nomor rekening tujuan kita ada di bank yang sama, atau dipotong 45ribu jika nomor rekening tujuan di Indonesia ada di bank yang berbeda.
  • Jadi saat kirim uang, kita bisa langsung mengetahui berapa rupiah yang akan masuk di rekening tujuan di Indonesia.
  • Uang akan masuk ke rekening tujuan dalam waktu beberapa jam atau bisa juga beberapa hari kemudian.

Untuk pengiriman uang selanjutnya, kita hanya tunjukkan QID dan serahkan uang … maka petugas akan langsung memproses sesuai data yang sudah pernah terdaftar. Kecuali kalau kita mau kirim uang ke tujuan yang berbeda di Indonesia, maka kita harus mengisi data rekening tujuan yang baru.

Berikut contoh bukti kirim uang:

Proses pengiriman uang menggunakan WESTERN UNION tidak memerlukan data rekening bank tujuan, melainkan cukup memberikan nama penerima sesuai KTP saja. Saat pengambilan uang, penerima tinggal menunjukkan KTP dan nomor resi ke petugas Western Union di cabang terdekat (hampir setiap Kantor Pos Indonesia dan bank ada loket Western Union).

Pak Suami belum pernah mencoba layanan e-banking di Qatar untuk mengirim uang ke Indonesia. Beberapa orang temannya selalu melakukan e-banking karena sudah memiliki rekening dollar di Indonesia. Saya kurang paham apakah memang untuk layanan e-banking ini hanya bisa ditujukan ke rekening dollar atau bisa juga ke rekening biasa (rupiah). Dan saya juga tidak tau biaya pengiriman uang yang dikenakan dan proses konversi mata uangnya bagaimana.

Lokasi pengiriman uang dari Qatar ke Indonesia ada di tempat-tempat berikut:

  • Gulf Exchange
  • Al Fardan Exchange
  • City Exchange

Selain di Doha, katanya sih kota lain di Qatar juga ada tempat-tempat untuk mengirim uang. Gulf Exchange sendiri memiliki beberapa cabang di Qatar.

Suami saya lebih suka ke Gulf Exchange yang gedungnya ada di daerah Bank Street, dekat Terminal Bus Doha. Kebetulan setiap Sabtu kami mengantar anak-anak ke gedung Al Fanar untuk mengikuti pengajian anak Indonesia (Kaifa). Saat menunggu anak-anak mengaji, kami bisa jalan kaki ke Gulf Exchange untuk kirim uang dan mampir ke Supermarket Indonesia (Qatindo) untuk belanja kebutuhan dapur yang tidak bisa saya temukan di supermarket lain. Gak rutin setiap bulan sih, seadanya uang yang mau dikirim aja. Bisa 2-3 bulan sekali.

Selain karena faktor lokasi, di Gulf Exchange ini petugasnya juga orang Indonesia. Jadi lebih enak komunikasinya kalau ada pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut.

Semoga bermanfaat ya!

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Brownis Streusel Tanpa Mixer

Brownis Streusel Tanpa Mixer

Kemarin perkumpulan keluarga Indonesia di kantor paksuami ngajak piknik di taman gak jauh dari rumah. Kami patungan untuk pesan makanan utama, sementara cemilan dibawa sukarela tiap orang.

Sempat bikin roti mini, tapi kurang puas sama hasilnya. Merasa kurang representative aja gitu. Jadi 3 jam sebelum berangkat bikin cemilan baru yaitu Brownis Streusel yang gampang tanpa butuh mixer.

Brownis Streusel Tanpa Mixer

Bahan Streusel:

50 gr butter wajib dingin/beku

20 gr gula pasir halus

100 gr terigu

 

Cara membuat Streusel:

  • Campur semua bahan dalam wadah
  • Remas pakai tangan sampai berbentuk bulir-bulir
  • Simpan dalam kulkas sampai akan digunakan

 

Bahan Brownis:

120 gr butter / mentega

250 gr  choco chips / DCC

200 gr gula

4 butir telur

100 gr terigu

20 gr coklat bubuk

1/2 sdt baking powder

1/2 sdt garam

 

Cara:

  • Lelehkan mentega
  • Masukan coklat ke dalam lelehan mentega
  • Setelah hangat, masukan gula sambil diaduk terus
  • Masukan telur 1 per 1 sambil terus diaduk rata
  • Masukan bahan kering, aduk rata
  • Tuang ke loyang, taburi streusel
  • Panggang kurang lebih 30 menit di api 180 dercel
Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn