Alhamdulillah Mas Rafa Mau Kuliah

Alhamdulillah Mas Rafa Mau Kuliah

Foto kiri diambil tahun 2004 ketika hari pertama Rafa masuk sekolah Playgroup. Sampai TK, beberapa kali mamade dipanggil kepala sekolah karena Rafa dianggap “pengganggu” yang gak bisa duduk manis di kelas.

Ketika kami bawa ke psikolog, ternyata Rafa tergolong anak Super Aktif (di bawah hyper) dan Kinestetis. Kombinasi kece yang bikin ortu ngos2an deh 😅.

Akhirnya disarankan utk menyalurkan energi Rafa ke olahraga (bola & renang), musik (gitar atau drum) dan supaya diam di kursi saat pelajaran berlangsung … Rafa disuruh memainkan alat tulis. Kalo gak gambar, ya puter2in pensil pake jari.

Saat belajar di rumah, Rafa gak bisa tuh yang duduk diam dan membaca buku.

Jadi Mamade yang selalu membacakan buku dan memberikan soal dalam bentuk lisan, dia mendengarkan dan mengerjakan sambil main mobil2an atau skateboard keliling rumah. Pokoknya mah banyak tepok jidat dan elus dada melihatnya 🙈

Foto kanan diambil di Bandung saat kami mudik tahun lalu, disempatkan mengunjungi ITB ke bagian informasi untuk tanya jalur masuk dan persyaratannya. Kami juga mendatangi beberapa bimbel di sekitarnya untuk mengumpulkan informasi persiapan masuk ITB.

Rafa juga hadir waktu beberapa orang direktur ITB datang ke Qatar bulan November 2018 untuk sosialisasi Program Internasional (jalur masuk ITB khusus bagi WNI di LN dan WNA).

Keinginan Rafa dari SMP gak goyah, mau kuliah di ITB pokoknya.

Kami sampai bilang “Dari Qatar ke Eropa itu lebih dekat dan tiketnya juga lebih murah daripada ke Indonesia. Kamu gak pingin kuliah di Eropa aja?. Tanggung loh, mas … udah sampai sini kita

Anaknya malah bilang “kalo universitas di negeri sendiri, world rank-nya lebih tinggi … untuk apa aku kuliah di negara lain“.

Dia gak mau cuma sekedar gengsi kuliah di luar negeri yang rank universitasnya masih di bawah ITB.

Tapi Rafa juga tau diri dan mengukur kemampuan otaknya juga dompet bapaknya. Rafa belum tertarik untuk kuliah di negara mahal seperti Amerika, Canada, Inggris, Singapura dan Australia. Dia bilang “nanti aja aku cari beasiswa S2 untuk lanjut kuliah di sana“.

Awalnya sempat kekeuh mau jurusan Aristektur atau FSRD yang ternyata gak ada jalur internasionalnya, akhirnya 2 minggu sebelum pendaftaran tutup … Rafa banting setir daftar 2 jurusan lain : Mechanical dan Aerospace Engineering.

Rafa tidak bisa ikut SBMPTN karena syaratnya harus punya NISN (nomor induk siswa nasional) dan minimal harus 5 semester bersekolah di SMA Indonesia. Rafa cuma sempat menjalani 3 semester SMA di Indonesia, sisanya di Qatar.

Selaku orangtua, kami sempat kesal melihat dia gak mau daftar universitas lain dengan alasan “kalo ditolak gelombang pertama ITB, baru aku mau daftar Belanda dan Malaysia”. Gemes gak sih dengernya 🤦🏻‍♀️

Alhamdulillah tanggal 18 April, dapat juga Letter Of Acceptance dari ITB.

Alhamdulillah ikhtiar Rafa menjaga grafik nilai raport selama SMA harus nanjak setiap semesternya, IELTS dan SAT lebih tinggi dari nilai minimal yang diminta bbrp kampus favorit, juga doa dari sekelilingnya … Allah mudahkan jalan dan membuahkan hasil sesuai keinginannya. Hingga Rafa bisa diterima ITB tanpa tes.

Masya Allah … Tabarakallah.

Alhamdulillah yaa Karim.

Lega banget, akhirnya sekarang saya bisa mulai hunting tiket mudik ke negara tercinta.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Zekreet Film City

Zekreet Film City

Mumpung masih tinggal di Qatar, kami berusaha menjelajah negeri ini bersama anak-anak. Sebentar lagi kan anak sulung akan kuliah yang belum tau di negara mana nantinya, jadi kami berencana memanfaatkan waktu 3-4 bulan ke depan untuk mendatangi tempat-tempat yang menarik. Mumpung kami masih lengkap berempat di sini.

Kalau melihat peta Qatar seperti gambar di atas, kami sudah pernah ke atas (kota Al Khor) dan ke bawah (kota Al Wakrah dan Mesaieed). Jadi kali ini kami mencoba melakukan perjalanan ke kiri, soalnya kalau ke kanan sudah mentok laut. Hehehe…

Jalan tol yang menghubungkan antar kota di negara ini menyenangkan deh. Kalau orang bule menyebut jalan tol sebagai FREE WAY … mungkin karena di negara mereka kondisinya sama seperti ini di sini ya. It is really a free way lebar, gak bayar dan lancar karena gak banyak mobil lain.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan … kami mulai melihat bukit-bukit batu di kanan kiri jalan. Jalanan pun sudah tidak selebar sebelumnya. Artinya kami sudah mau sampai.

Ketika adzan berkumandang, kami keluar di kota Dukhan menuju masjid raya untuk ikut melaksanakan sholat Jumat. Alhamdulillah lumayan banyak juga jamaah perempuannya di sana.

Setelah bertemu 1 mobil teman, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Zekreet. Kawasan padang pasir berbukit batu di utara kota Dukhan.

Karena sama baru pertama kali ke kawaan ini, kami agak bingung juga ketika ada di persimpangan jalan dimana sejauh mata memandang hanya padang pasir.

Cuaca hari itu angin dingin bertiup kencang. Dan ternyata badai pasir datang. Seorang teman yang datang bersama 3 mobil lain, mengirimkan foto di bawah ini. Mereka memutuskan untuk berhenti, sampai badai pergi. Karena mereka tidak bisa melihat apapun di hadapannya. Berbahaya kalau memaksa lanjut.

ZEKREET diambil dari bahasa arab yaitu ZIKRA, yang artinya mengingat, ingatan atau memori. Awalnya kawasan ini tak ada penghuni, tapi setelah Qatar membangun tambang minyak di tahun 1940 … mulai lah dibangun pelabuhan untuk alat-alat tambang minyak dan akhirnya menjadi sebuah kota.

Untuk masuk ke kawasan RAS ABROUQ di daerah Zekreet, kita tinggal mengikuti papan biru yang bisa kita temui di setiap beberapa kilometer. Pintu masuk kawasan ini ditutup menjelang matahari terbenam. Ada petugas keamaan yang standby di dalam mobil warna merah, dan memberhentikan semua orang yang masuk dengan menanyakan:

apakah kamu bawa senapan? apakah kamu membawa binatang? Kamu mau apa ke sini? Tidak untuk berburu kan?

Karena memang kawasan ini dilindungi oleh UNESCO dan di dalamnya masih bisa kita lihat beberapa hewan khas gurun salah satunya yang kami temui adalah ORYX, rusa gurun yang tanduknya lurus panjang.

Setelah hampir 2 jam akhirnya kami tiba juga di tujuan yang pertama yaitu FILM CITY di dalam kawasan Ras Abrouq. Lega rasanya melihat tempat ini dari kejauhan.

Film City … Tempat ini seperti kota mati … tak berpenghuni tapi tetap terawat rapi.

Di dalamnya ada masjid, beberapa rumah, warung, toilet umum dan sumur … seperti layaknya desa mungil tradisional khas Arab.

Disebut Film City, karena memang kota ini dibangun murni untuk syuting film seri TV.

Jadi tidak ada bangunan yang otentik asli, bukan pula peninggalan penduduk jaman sebelum masehi.

Area Zekreet ini juga menjadi lokasi syuting film Transformer dalam adegan mereka melawan robot berbentuk kalajengking. Cuplikannya bisa dilihat di youtube:

“Kok di film kelihatan beda?”

Ya karena sudah diberikan sentuhan grafika komputer supaya lebih dramatis.

View this post on Instagram

Zekreet – Film City . Tempat ini seperti kota mati … tak berpenghuni tapi tetap terawat rapi. . Di dalamnya ada masjid, beberapa rumah, warung, toilet umum dan sumur … seperti layaknya desa mungil tradisional khas Arab. . Disebut Film City, karena memang kota ini dibangun murni untuk syuting film seri TV. . Jadi tidak ada bangunan yang otentik asli, bukan pula peninggalan penduduk jaman sebelum masehi. . Area Zekreet ini juga menjadi lokasi syuting film Transformer dalam adegan mereka melawan robot berbentuk kalajengking. Bisa cek di youtube dengan kata kunci “Battle in Qatar scene – Transformer”. . “Kok di film kelihatan beda?” . Ya karena sudah diberikan sentuhan grafika komputer supaya lebih dramatis. . Kami menempuh 90 KM lebih dari kota Doha, dengan waktu hampir 2 jam. Beberapa mobil teman di belakang kami sempat terhenti karena Sand Storm menerjang sebentar. Makin sore, makin kencang angin dinginnya. . Liat posting setelah ini juga deh. . Cerita lengkapnya seperti biasa akan ditulis di blog aja yaaa. . #merantaudidoha

A post shared by De (@punyade) on

Akhirnya kami bertemu juga dengan teman-teman lain di sini.  Kami pun meminta ijin petugas Film City untuk menggunakan tempat di pojokan untuk menggelar makanan. Kami memang sudah janjian sebelumnya dan mengatur menu makan siang hari ini. Masing-masing dari kami membawa makanan, aneka minuman panas dan dingin, cemilan asin dan manis, sampai peralatan makan sekali pakai. Harusnya ada 8 keluarga yang ikut piknik, tetapi sayangnya 2 keluarga membatalkan karena satu dan lain hal.

Gak lama setelah makan siang, adzan ashar berkumandang. Para lelaki pun bergegas sholat berjamaah di masjid kecil dalam area Film City. Masjidnya kecil, jadi setelah mereka selesai baru kami yang perempuan sholat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan sebelum gerbang Ras Abrouq ditutup petugas.

Kami sempat mampir di salah satu area untuk mengabadikan pemandangan yang masya Allah sangat luar biasa, terlebih karena matahari sudah mulai kemerahan tanda akan tenggelam. Gak sampai 10 menit sih, karena kami gak kuat menahan angin dingin yang menusuk tulang.

Di perjalanan kami bertemu pasangan bule yang sebelumnya kami jumpai di Film City. Gak nyangka kalo mereka berdua jalan kaki. Dari tas ransel, pakaian, sepatu boots dan masker yang digunakan … kelihatan sekali kalau mereka petualang yang profesional.  Entah berapa lama perjalanan ini mereka tempuh. Sungguh kami salut.

Sayangnya kami membatalkan kunjungan ke MYSTERY VILLAGE yang kalau hasil gugling penampakannya seperti foto di atas. Padahal gak jauh, sekitar 10 menit bisa sampai .. tetapi karena keterbatasan kemampuan kendaraan, waktu yang sudah menjelang malam, dan badai pasir yang sempat menghadang … kami putuskan untuk kembali pulang.

Walau kawasan Zekreet ini merupakan gurun dengan tekstur lebih padat dari pada SeaLine, tapi kami kepayahan menggunakan kendaraan SUV. Kami sarankan sih mengunjungi tempat ini menggunakan 4WD ya, jadi bisa melaju cepat tanpa khawatir dengan bebatuan dan angin berpasir yang menghadang.

Alhamdulillah kami tiba di Zekreet Mosque bertepatan dengan adzan magrib. Seperti masjid lain di Qatar, kondisi di dalamnya cukup mewah. Kamar mandi yang bersih dan berlimpah air + tisu, alas sholat pun karpet tebal nan wangi. Meskipun ini tergolong masjid kecil di daerah terpencil.

Bersyukur setiap waktu sholat datang, kami bisa melaksanakannya di tempat yang layak. Padahal kami semua sudah membawa tikar plastik, sajadah, galon isi air dan tenda toilet untuk berjaga-jaga kalau ditengah gurun kami harus melaksanakan hajat.

Zekreet … sesuai namanya Zikra … akan menjadi memori yang selalu kami ingat.

Abis ini kemana lagi yaaaa …

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Jogging Di Aspire Park

Jogging Di Aspire Park

Tanggal 12 Februari merupakan Hari Olahraga Nasional di Qatar (Sport Day), seluruh pekerja dan siswa libur semua.

Beberapa perusahaan besar membuat acara di taman-taman yang biasanya menjadi tempat favorit penduduk Qatar untuk berolahraga. Beberapa klub olahraga menawarkan potongan harga jika kita mendaftar pada tanggal ini. Ada juga perusahaan telekomunikasi yang mengganti jumlah langkah yang tercatat pada aplikasi olahraga di henpon kita hari itu menjadi paket data. Misalnya kita mencapai 10 ribu langkah, maka kita akan diberikan paket data 1GB secara cuma-cuma. Menarik yah?

Kebiasaan saya untuk jogging masih terus berlanjut. Kalau musim panas, biasanya saya cuma jogging di treadmill dalam ruangan gym di lantai dasar apartemen. Kalau musim dingin, saya menikmatinya dengan jogging di luar rumah.

Salah satu tempat jogging yang asyik di Doha menurut saya adalah di ASPIRE PARK. Sebelumnya saya sudah pernah cerita tentang taman ini di sini kan yah. Kali ini saya ingin menceritakannya dari sisi yang berbeda.

Di dalam Aspire Park ada peta jogging track yang bisa kita temui hampir di setiap 500 meter. Dalam papan besar ini berisi informasi beberapa jogging track yang digambarkan dalam warna berbeda. Setiap warna dijelaskan berapa jaraknya, berapa langkah yang bisa kita tempuh, berapa waktu yang dibutuhkan, sampai berapa kalori yang terbakar. Di setiap persimpangan jogging track, ada tanda panah yang menunjukkan arah kemana kita harus melanjutkan langkah.

Biasanya saya mengambil jogging track paling luar yang berwarna abu-abu. Jarak 1 putarannya sekitar 3 KM. Untuk mencapai target harian saya yang cuma 5 KM, biasanya saya menambah ke jogging track warna merah yang putarannya lebih kecil.

Setiap jogging di sini baik pagi maupun petang, kita bisa bertemu dengan beraneka ragam manusia dengan segala penampilannya. Qatar yang 80% penduduknya merupakan pendatang, bisa kita lihat dengan jelas di taman ini.

Kita bisa melihat segala rupa manusia dengan berbagai jenis warna kulit, bermacam-macam warna rambut, aneka postur tubuh dengan segala macam bahasa yang mereka ucapkan dengan sesamanya.

Untuk penduduk lokalnya, mereka tetap berolahraga menggunakan pakaian sehari-hari yaitu abaya untuk perempuan dan thoub (gamis putih) untuk laki-laki. Saat pakaian mereka tersingkap angin, kita bisa melihat kalau mereka tetap menggunakan celana training dan sepatu olahraga seperti pada umumnya.

Jangan tanya saya apakah tidak ribet jogging menggunakan gamis panjang seperti itu … karena saya belum pernah mencobanya.

Mungkin sama rasanya dengan jogging menggunakan daster kali ya?

Taman Aspire ini sangat bersih dan terawat. Hampir tidak ada sampah secuil pun di dalamnya. Tempat sampah bisa kita temui di hampir setiap 500 meter. Di bawah rerumputan sudah disiapkan selang yang memancarkan air pada waktu-waktu tertentu. Untuk area yang tidak terjangkau oleh selang otomatis, ada petugas yang keliling dengan mobil tangki kecil untuk menyiram secara manual. Belum lagi puluhan tukang sapu dan tukang gunting rumput yang tersebar di seluruh area.

Jogging track di Aspire Park tidak hanya jalan mendatar. Ada kawasan yang dibuat seperti bukit kecil. Kalau kita ambil jalur berwarna abu, kita akan melewati bukit ini dengan jogging track yang berupa tanjakan dan turunan. Lumayan bikin ngos-ngosan loh. Tapi akan terbayar lunas saat kita sampai di puncak bukit kecilnya, karena kita bisa menikmati pemandangan taman secara keseluruhan dari atas sana.

Fasilitas di dalam taman ini super duper lengkap deh.

Playground untuk anak-anak aja tersedia lebih dari 2 titik, begitu pun untuk alat-alat olahraga statis nya. Toiletnya sangat bersih dan selalu dijaga petugas.

Danau di tengah taman pun dilengkapi dengan angsa yang suka berkeliaran di sekitarnya atau asyik berenang anggun di dalam danau.

Aspire park ini bersebelahan dengan Kidzania dan arena tempat bermain Go-Kart.

Musholla untuk laki dan perempuan dibuat dalam bangunan yang terpisah. Selain tempat wudhu, musholla juga dilengkapi dengan bilik toilet. Terhampar rumput lembut dari plastik di halaman musholla. Jadi batas suci bisa terlihat jelas dengan perbedaan warna rumputnya. Karena saat musim dingin, taman ini biasa digunakan untuk piknik. Begitu masuk waktu sholat, jamaah akan membludak sampai ke halaman. Orang sini tidak menggunakan sajadah saat sholat, mereka langsung merapatkan barisan karena bisa dipastikan hamparan rumput di halaman musholla sangat terjaga kebersihannya.

Penduduk yang memiliki hewan peliharaan, tidak bisa membawa hewan dengan bebas ke taman-taman umum. Karena tidak semua taman diperbolehkan untuk binatang peliharaan. Jadi kalau mau bawa anjing jalan, harus cek dulu taman mana yang diperbolehkan untuk membawa hewan.

Seringnya sih saya jogging di sini sendirian saat anak-anak sekolah.

Kebetulan di depan taman ada sebuah mall besar yang suka menjadi tempat janjian anak-anak dengan teman mereka. Saat anak-anak janjian dengan temannya di dalam mall, saya menghabiskan waktu dengan jogging sore di sini. Daripada buang uang karena tergoda bendera merah yang berkibar dengan tulisan SALE di dalam mall, mending saya buang keringat dan membakar lemak aja kan yah?

Beberapa kali saya pernah janjian jogging bareng teman. Kami pernah juga melakukan PICNICRUN, jogging santai sebelum gelar tikar piknik dan menikmati cemilan.

Sebelum jogging, tas yang berisi minuman dan makanan kami letakkan di salah satu bangku taman. Kemudian kami tinggal jogging beberapa putaran. Alhamdulillah meski ditinggal hampir sejam, barang bawaan kami masih tergeletak aman di bangku taman. Gak ada yang berani mencolek ataupun mengambilnya. Coba kalo kita melakukan hal ini di Monas, balik lagi masih ada gak tasnya? Hehehe

Yang menarik dari taman ini, saya melihat banyak bangku putih di beberapa titik dalam Aspire Park. Dari samping ada logo ikon elektronik. Ketika lihat diatasnya, ternyata bangku ini merupakan Solar Panel yang menkonversi cahaya sinar matahari menjadi listrik. Ada kabel yang ditutup paving kuning di sebelahnya dan terhubung ke kios kecil ataupun vending machine. Jadi kios minuman yang membutuhkan listrik untuk menjalankan blender, bisa mengambil listrik dari situ. Begitu pun vending machine yang menjual aneka minuman dan jajanan dalam kemasan, mengambil listrik juga dari bangku Solar Panel. Untuk lampu taman, mengambil listrik dari Solar Panel besar di dekat danau. Waahh cerdas banget ya!

Insya Allah akan saya ceritakan tempat jogging favorit saya yang lainnya di Doha.

Ditunggu yaaaa …

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Berburu Spot Foto Keluarga Di Bandung

Berburu Spot Foto Keluarga Di Bandung

Bosan gak sih beberapa waktu terakhir posting di blog ini selalu cerita tentang Qatar? Ya memang gak bisa dihindari sih ya, secara yang punya blog sekarang tinggal di negara tersebut.

Kali ini mau flashback cerita 1,5 tahun lalu ah, sebelum kami pindah ke Qatar. Kami sempat berburu spot foto keluarga di Bandung. Baru ingat kalo belum pernah diceritakan di blog ini.

Sebenarnya tujuan kami ke Bandung awal bulan Juli 2017 itu bukan sekedar liburan, tetapi kami mengurus dokumen di kampus PakSuami sebagai syarat mengajukan visa kerja Qatar. Walau tujuan utamanya ke kampus PolTek ITB untuk legalisir ijasah dan transkrip nilai, kami memanfaatkannya juga untuk membawa anak-anak liburan mumpung papanya mengajukan cuti kantor 2 hari. Kebetulan mereka yang lebih update sama tempat-tempat yang lagi hits saat itu dan mereka mengusulkan untuk berburu spot foto keluarga.

Berikut 3 Spot Foto Keluarga Di Bandung yang diusulkan anak-anak:

 

Upside Down World

Setelah urusan di kampus PakSuami beres, kami langsung menuju lokasi pertama yang diusulkan anak-anak yaitu Upside Down World yang terletak di daerah Dipati Ukur.

Tempat ini unik banget dan sangat instagramable. Bentuknya dari luar seperti rumah biasa, tetapi di dalamnya banyak ruangan dengan tema yang berbeda-beda dalam kondisi terbalik. Ada ruang keluarga, ruang makan, kamar tidur, dapur sampai kamar mandi. Semua benda yang diletakan secara terbalik ini sudah terjamin keamanannya, jadi gak perlu khawatir akan kejatuhan sesuatu yang bisa menimpa tubuh kita.

Di setiap ruangan ada petugas yang akan membantu kita untuk mengambil foto menggunakan kamera atau henpon milik kita sendiri. Mereka sudah paham banget angle terbaik untuk posisi kamera dan orang-orang yang akan difoto. Bahkan mereka juga yang membantu mengarahkan gaya kita. Pokoknya tinggal nurut dan nyengir aja deh.

Ini salah satu hasil foto kami berempat di Upside Down World:

The Lodge Maribaya

Hari berikutnya kami pergi menuju Lembang. Kalau sebelumnya kami asyik foto di dalam ruangan, kali ini kami mencari spot foto outdoor. Yang lagi ramai diupload di berbagai media sosial kala itu, apa lagi kalo bukan The Lodge Maribaya.

Meskipun kami ke sana hari Selasa (bukan akhir pekan), tapi karena masih musim liburan kenaikan kelas … pengunjung yang datang ke tempat ini sangat berlimpah. Untuk 1 spot foto saja, kami harus antri berbaris lebih dari 1 jam. Di setiap spot foto kita harus membayar sekitar 15-25 ribu per orang. Di sana ada petugas yang siap dengan kamera profesionalnya untuk membidik pose terkece kita. Begitu selesai kita bisa mengunduh file foto tersebut dengan aplikasi ShareIt. Tentunya ada biaya yang harus kita bayar lagi, kalo gak salah 10 ribu per foto deh.

Alhamdulillah berhasil juga dapat foto kece di Mountain Swing alias ayunan yang bikin deg-degan:

Taman Hutan Raya IR. H. Juanda (TAHURA)

Sebenarnya saat di Maribaya, Fayra minta kami untuk foto di hammock. Tapi mas Rafa keberatan karena males berdiri antri lebih dari sejam lagi. Akhirnya kami pindah lokasi ke Taman Hutan Raya Juanda yang lebih sedikit pengunjungnya. Kebetulan di sana pun ada tempat foto di atas hammock.

Yang ingin duduk dalam hammock posisi teratas, diminta naik duluan. Kami diminta melepas sepatu karena harus memanjat pohon dengan menaiki tali-tali yang diikat di antara 2 pohon. Fayra minta duluan karena mau paling atas. Saya mengalah ambil posisi terakhir mengingat kondisi badan yang sudah tidak bisa selentur jaman muda. Posisi paling bawa pun ketinggiannya lebih dari 3 meter. Jadi masih lumayan juga naiknya.

https://www.instagram.com/p/BWIX7-TFknQ/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=s6p9y79bcw2l

Selain petugas yang membantu memasang peralatan pengaman ke tubuh kita, ada juga petugas yang mendampingi kita saat manjat pohon dan ada petugas lain yang siap mengabadikan dibawah dengan kamera henpon kita. Petugas-petugas ini yang mengarahkan kemana kita harus menghadapkan badan, dimana kita harus meletakan kaki juga tangan dan mereka juga akan mengecek apakah hasil foto di kamera sudah cukup bagus atau kita harus mengulang lagi. Setelah selesai, kami turun satu-persatu dimulai dari yang posisi paling bawah.

Lucu juga kalo ingat betapa mendadaknya liburan kami ke Bandung ini.

Awalnya PakSuami cuma bilang “ma, besok pagi aku harus ke Bandung untuk legalisir ke kampus

Eh anak-anak nyeletuk di belakang “ikut dong pa … kita kan udah lama gak liburan ke Bandung

Akhirnya PakSuami bilang “ya udah sana cari hotel di Bandung deh

Saya langsung buka web PegiPegi untuk mencari penginapan saat itu juga. Tinggal masukkan ‘Bandung’ di kota tujuan, kemudian masukkan ‘tanggal check-in dan check-out’, lanjut menulis angka 4 pada kolom ‘jumlah tamu’ dan angka 1 pada kolom ‘jumlah kamar’ dan klik CARI. Langsung deh keluar hotel-hotel yang memiliki kamar berukuran besar yang bisa digunakan untuk 4 orang tanpa tambahan kasur (extra bed).

Anak-anak kami memang sudah besar (usia 12 dan 17 tahun), harusnya memang sudah bisa pesan kamar terpisah di hotel. Tapi kami malas membawa beberapa tas dan toiletries, karena itu kami memilih 1 kamar tapi yang muat untuk berempat. Yang canggihnya … web PegiPegi sangat membantu kami dalam hal ini. Pesan malam untuk pergi besok pagi pun gak masalah.

Alhamdulillah urusan dokumen berjalan lancar, anak-anak berasa liburan, dan kami jadi punya stok foto keluarga baru deh.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Tidak Ada Parkiran Motor Di Qatar

Tidak Ada Parkiran Motor Di Qatar

Setahun tinggal di Qatar, saya belum pernah melihat area khusus untuk parkir kendaraan beroda dua.

Memang jumlah kendaraan roda dua di Qatar sangat sedikit. Jangankan sepeda, motor pun jarang kita lihat berkeliaran di jalan raya. Dengan struktur daratan negara gurun yang didominasi pasir, pastinya tidak mudah mengendalikan kendaraan roda dua. Meski sekarang pembangunan negara sudah sedemikian pesat dan seluruh jalan raya sudah menggunakan aspal yang mulus … jumlah motor dan sepeda juga tidak meningkat secara tajam.

Faktor cuaca juga menjadi salah penyebabnya sih. Siapa coba yang mau naik motor dibawah terik matahari dengan suhu mencapai 50 celcius saat musim panas. Belum lagi kalau badai pasir datang menghampiri. Biasanya motor baru mulai berkeliaran ketika musim dingin datang dengan suhu di bawah 20 celcius (bulan Desember – Februari). Kalau suhu masih 30an celcius, orang sini masih malas mengeluarkan motornya. Ketika mereka lewat … suaranya menggelegar di jalan, karena memang kebanyakan motor dengan kapasitas mesin yang besar di atas seribu cc.

Tidak seperti di Indonesia yang parkiran motornya selalu penuh dengan barisan shaf sangat rapat bagai sholat hari raya, di Qatar semua motor diparkir di tempat parkiran mobil. Ya karena memang tidak ada area khusus untuk parkir motor di tempat umum, terlalu sedikit jumlahnya hingga dirasa tidak harus dibuatkan khusus.

Kejadian ini suka mengecoh ketika kita cari parkir mobil, dari jauh melihat ada rongga lowong … ternyata ketika mendekat ada seonggok motor di situ. Hahahaha

Gak cuma di tempat parkir tertutup, di pinggir jalan raya pun motor parkir di tempat yang sama dengan mobil. Dan tetap mengambil jatah luas yang sama.

Di sini gak ada tuh yang berusaha mepet-mepet jatah parkiran.

Photo credit : om Dody

Harga motor di Qatar sebenarnya tidak mahal, kalau dibanding dengan harga di Indonesia sih ya. Lihat saja foto di atas, kebetulan om Dody main ke sebuah showroom untuk melihat harganya.

Motor dengan kapasitas mesin 1000cc ke atas yang di Indonesia dijual dengan harga 500 juta bahkan sampai ada yang lebih dari 1 miliar rupiah …. di Qatar bisa didapat dengan harga kurang dari 1/2nya saja. Contohnya motor bekas dengan merk Ducati 1200cc tipe S Stripe produksi tahun 2015, dijual di Qatar dengan harga QAR 33,000 atau sekitar 130 juta rupiah. Harga pasaran di Amerika sendiri masih sekitar $12,000 … ini cuma $9,000 saja.

Photo credit : om Dody

Karena cuma digunakan saat musim dingin yang paling lama 3 bulan, selebihnya motor diabaikan di parkiran sampai berselimutkan debu tebal.

Suka miris aku tuh melihatnya … pingin bawa pulang rasanya.

Dengan harga motor yang gak terlalu mahal, para restoran yang biasanya menggunakan mobil untuk jasa pesan antar (delivery service) … sekarang mulai menggunakan motor.

Talabat, jasa pengantar titip beli makanan seperti halnya Go-Food di Indonesia, juga muai menggunakan motor. Bedanya di sini gak pake motor bebek, tapi menggunakan motor gede nan kece.

Apakah ini pertanda bisnis ojek online juga akan segera tersedia di Qatar? Kita lihat nanti ya … Hahahaha

Aduuh kangen naik motor deh jadinya.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn