Kesehatan Di Qatar

Kesehatan Di Qatar

Asuransi kesehatan biasanya merupakan fasilitas standar yang diberikan perusahaan kepada karyawannya dan ini berlaku di seluruh dunia termasuk di Qatar.

Ketika saya dan anak-anak sudah memiliki QID, paksuami langsung mendaftarkan seluruh nama anggota keluarga ke sistem HRD di kantornya. Tidak lama kemudian perusahaan memberikan kartu asuransi kesehatan bagi kami, yang dikeluarkan oleh QLM yaitu sebuah perusahaan asuransi ternama di Qatar.

Bentuk kartunya seperti pada foto di bawah ini:

Awal Mei 2018 kami medapat musibah.

Paksuami mengalami serangan jantung ringan yang membuatnya harus menginap 3 malam di CCU (Coronary Care Unit), ruangan ICU khusus untuk penderita jantung.

Kami bersyukur dengan tim medis di negara ini yang ‘over protected‘, observasi secara menyeluruh dan sigap melakukan tindakan yang dibutuhkan secara profesional dengan alat-alat super canggihnya. Alhamdulillah setelah dilakukan katerisasi, tidak ditemukan sumbatan pada arteri ke arah jantung pak suami. Dengan demikian resiko tindakan ‘balon’ dan pemasangan ‘ring’ tidak perlu dilakukan.

Ketika kejadian ini, kami pergi ke RS swasta yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Kami menunjukkan kartu asuransi dari kantor paksuami ke petugas pendaftaran dan diminta membayar QAR 25 sesuai dengan angka yang tertulis di kartu.

Setelah dilakukan pemeriksaan dengan berbagai alat dan tes darah,  dokter menyatakan “we need to protect your heart, you have to be admitted immediately“.

Seperti halnya ICU, ruangan pada CCU tidak ada sekat permanen (tembok) antara 1 tempat tidur pasien dengan yang lain. Hanya ada partisi yang tidak penuh sampai ke langit-langit, sehingga kita bisa mendengar ruang pasien di sebelah. Di dalam ruangan terdapat 1 tempat tidur dengan segala kabel yang terhubung dari badan pasien ke layar monitor, 1 buah nakas untuk menyimpan barang pribadi pasien dan 1 kursi plastik untuk keluarga pasien.

Tidak ada sofa-bed seperti yang saya temukan di kamar rawat inap biasa. Dipastikan pasien tidak boleh ditunggu (menginap) oleh siapapun termasuk keluarga. Tapi tidak perlu khawatir karena 1 perawat di ICU/CCU berdedikasi untuk menangani maksimal 2 pasien. Jadi selama paksuami rawat inap, saya pulang ke rumah setiap malam dan kembali ke RS esok pagi setelah anak-anak berangkat ke sekolah.

Sebelum dilakukan tindakan katerisasi, perawat bertanya kepada saya “apa kamu bawa Hamad Card? Jika sampai dibutuhkan tindakan operasi besar sekelas bypass jantung, kami tidak bisa melakukannya di RS ini. Kami harus membawa pasien ke Hamad General Hospital, karena itu kami butuh Hamad Card pasien

Kebalikan dari Indonesia yang alat medisnya lebih lengkap di RS swasta dibanding dengan milik pemerintah … kalau di Qatar justru alat medis dan obat-obatan paling lengkap ada di RS milik pemerintah, yaitu Hamad Medical Corporation. Jadi kalau ada kasus yang tidak bisa ditangani oleh RS swasta, pasien langsung dikirim ke Hamad General Hospital untuk tindakan lanjutan.

Deg …. saya lemas … kami sudah mendengar betapa pentingnya Hamad Card di negara ini (no 2 pentingnya setelah QID), tapi kami belum sempat mengurusnya. Dengan pasrah saya menyatakan kalau kami belum memilikinya. Alhamdulillah kondisi jantung paksuami dalam kondisi baik, arteri ke arah jantung juga tidak mengalami penyumbatan. Jadi tidak perlu tindakan operasi besar sampai paksuami boleh pulang ke rumah.

Saat mengurus administrasi kepulangan pasien, saya hanya diminta membayar QAR 45 dengan rincian biaya untuk kain kassa, dan perintilan kecil lain. Kamar CCU 3 malam, biaya dokter harian dan tindakan katerisasi sudah dipenuhi oleh pihak asuransi. Alhamdulillah jadi total cuma bayar 25 + 45 = QAR 70 aja.

Dan ternyata biaya QAR 25 di awal, merupakan biaya klaim per 1 diagnosa penyakit (FEE per CASE) sampai tuntas. Jadi dari biaya rawat inap sampai pemeriksaan berkala setelah pulang ke rumah (chek-up rawat jalan + USG + lab) sudah tidak dikenakan biaya lagi. Kecuali kalau ditemukan penyakit lain, maka kita harus membayar lagi QAR 25.

Gak kebayang kalo di Indonesia, tindakan katerisasi aja udah harus bayar berapa puluh juta belum obat + kamar + dokter. Belum lagi pemeriksaan berkala setelah itu. Ya Allah.

Setelah paksuami kembali sehat dan berkumpul bersama kami di rumah, saya segera mengurus HAMAD CARD. Kartu Hamad Card merupakan asuransi kesehatan milik pemerintah Qatar (seperti BPJS di Indonesia).

Kemana kita mendaftar Hamad Card?

  • Primary Health Care Center (PHCC) yang terletak dekat rumah
  • Hamad General Hospital

Cari tau lokasi PHCC (semacam puskesmas) terdekat rumah kita. Kebetulan kami diminta datang ke Nakhla Health Center untuk proses pedaftaran.

Apa yang dibutuhkan saat proses pendaftaran Hamad Card?

  1. Copy Qatar ID (kepala keluarga dan seluruh anggota keluarga yang akan didaftarkan)
  2. Copy surat kontrak tempat tinggal (rumah atau apartemen)
  3. Copy tagihan Karahmaa (Listrik dan Air)

TIDAK ADA PENGISIAN FORMULIR PENDAFTARAN.

Begitu sampai di PHCC, bilang ke petugas di depan pintu masuk kalo kita mau urus Hamad Card. Ambil no antrian dan duduk manis sampai nomor kita dipanggil.

Petugas akan scan barcode pada Qatar ID kita dan mencocokan nama di QID kepala keluarga dengan nama yang tertera pada surat kontrak tempat tinggal dan tagihan Karahmaa. Nomor pelanggan Karahmaa juga dicocokan dengan yang tertulis di surat kontrak tersebut. Kalau semua sudah sesuai, petugas akan menuliskan nomor yang harus kita bawa ke Hamad General Hospital.

Komplek RS Hamad pusat (disebut HG) luasnya seperti dari bunderan Hotel Indonesia sampai dengan gedung Bank Indonesia di Jakarta. Tempat parkir ambulance aja seperti terminal bus di Indonesia, karena memang ada ratusan ambulance yang standby di halaman RS. Dalam komplek HG ini ada banyak gedung untuk menampung lebih dari 65 klinik spesialis dan lebih dari 600 tempat tidur pasien rawat inap. Di bagian belakang juga terdapat beberapa tower apartemen tempat tinggal karyawan Hamad Medical Center. Jangan sampe nyasar di dalam komplek HG, kalo gak mau gempor. Hehehehe.

Untuk mengurus Health Card, kita cukup cari GEDUNG ADMINISTRASI. Di pintu masuk kita akan diarahkan oleh petugas. Ruang administrasi untuk laki-laki dan wanita dipisah, saya diminta jalan ke bagian belakang gedung menuju ruang administrasi wanita. Sampai sana, administrasi pengunjung yang status single atau berkeluarga pun dipisah lagi. Semoga yang masih jomblo tidak merasa terdikriminasi ya. Hehehehe

Di sini kita datang untuk print Hamad Card dengan membawa:

  • Nomor dari petugas di PHCC sebelumnya
  • Pasfoto dengan latar belakang biru ukuran 3×4
  • Membayar QAR 100 per kartu per tahun

Mulai dari daftar di PHCC (submit documents) sampai di HG (print kartu) semua bisa dilakukan dalam hari yang sama. Tapi harap diingat jam operasional petugas yaitu dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Kebetulan saya datang jam 7 ke Nakhla Health Center dan masih punya cukup waktu untuk langsung ke Hamad General Hospital. Alhamdulillah kartu untuk seluruh anggota keluarga kami langsung jadi di hari itu juga.

Kenapa Hamad Health Card ini penting?

  • Kalau terjadi kecelakaan di jalan, polisi dan petugas ambulance akan melihat QID + Hamad Card untuk membawa pasien ke RS terdekat. Pemilik Hamad Card tentunya akan mendapat prioritas penanganan di RS.
  • Kalau terjadi kondisi sakit darurat, cukup telpon 999 maka ambulance (baik mobil maupun helikopter) dari Hamad akan datang ke tujuan dalam periode waktu 2-7 menit setelah menerima panggilan telepon.
  • Pemerintah Qatar memberikan subsidi biaya kesehatan bagi pemilik Hamad Card. Seberat apapun penyakitnya dan tindakan yang harus dilakukan, jika kita memiliki Hamad Card … kita hanya perlu membayar maksimal QAR 100 per hari. Jadi misal dibutuhkan operasi bypass jantung dan rawat inap selama 10 hari, maka kita cukup membayar QAR 100 x 10 hari = QAR 1.000 (silakan dikali IDR 3,800). Kalau di Indonesia bisa kena berapa ratus juta kan itu?
  • Pelayanan imunisasi anak, program berhenti merokok sampai klinik diet di Hamad Medical Center pun bisa diberikan secara GRATIS bagi pemilik Hamad Card. Tidak hanya itu, bagi orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, maka segala terapi yang diberikan RS juga termasuk dalam fasilitas dari Hamad Card.
  • Masih banyak lagi fasilitas kesehatan yang diberikan oleh Hamad Card ini.

Bagaimana cara perpanjang Hamad Card?

  • Kunjungi PHCC terdekat atau RS Hamad manapun
  • Tunjukan kartu atau sebutkan no kartu Hamad
  • Bayar QAR 100 per kartu
  • Bisa juga datang ke kantor pos (Qatar General Post Office) terdekat, tetapi kartu baru kita akan dikirim ke alamat rumah dalam waktu 2-3 minggu setelah proses renewal.

Lega deh kalo udah punya kartu ini. Pastikan QID dan Health Card selalu ada di dompet setiap kita keluar rumah ya!

Semoga pengalaman paksuami yang numpang nginep 3 malam di CCU, menjadi pengalaman pertama dan terakhir bagi anggota keluarga kami di Qatar ini. Semoga gak perlu lagi mengeluarkan kartu kesehatan apapun lagi ke depannya. Allahuma aamiin ya Allah.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Awal Musim Panas Di Qatar

Awal Musim Panas Di Qatar

Masya Allah sudah memasuki bulan Juni 2018, artinya mulai harus siap-siap akan datangnya musim panas di negara gurun. Suhu bulan April yang berkisar 30an derajat celcius, beranjak ke bulan Mei suhunya perlahan-lahan mulai naik. Angin mulai berhembus membawa pasir halus. Langit yang tadinya gradasi warna biru, berubah menjadi abu-abu. Kata mas Ragil, pemandangan Doha di foto bawah ini tampak suram. Semoga masa depan kami di negara ini gak sesuram pemandangannya ya. Hehehe

Awal Mei suhu udara mulai mendekati 40 celcius. Pernah ada 1 hari Reddish SandStorm Day, alias hari dimana kondisi langit tampak merah kekuningan. Awalnya saya pikir karena efek warna korden di jendela kamar yang berwarna krem kekuningan. Tetapi ini kejadian nyata begitu keluar dari apartemen, pemandangan di luar benar warna merah kekuningan. Katanya ini efek SandStorm di negara tetangga yaitu Arab Saudi.

Pertengahan Mei sudah masuk bulan Ramadan. Jam kerja dan sekolah di Qatar mulai pertengan bulan Mei 2018 berubah:

  • Kantor pemerintah yang biasanya masuk jam 7 pagi, pulang jam 2 siang … berubah menjadi masuk jam 9, pulang jam 2 siang.
  • Kantor swasta yang biasanya masuk jam 8 pagi, pulang jam 3 sore … berubah menjadi masuk jam 9, pulang jam 2 siang.
  • Anak sekolah yang biasanya masuk jam 7:15 pagi, pulang jam 2 siang … berubah menjadi masuk jam 8:15 pagi, pulang jam 1 siang.
  • Pekerja bangunan bekerja di sore ke malam hari, bukan siang lagi.

Karena semua pegawai pemerintah dan swasta bubar kantor di jam 2 siang, kondisi jalan di Doha menjadi macet luar biasa. Yah kalo dibanding sama kondisi macet Jakarta, macetnya Doha sih cuma tergolong padat merayap. Suami males pulang on-time, memilih menunggu kondisi jalan mulai lancar baru pulang ke rumah.

Akhir bulan Mei suhu makin naik. Kacamata hitam bukan lagi aksesoris penunjang gaya, tetapi sudah menjadi sebuah kebutuhan wajib ketika akan keluar rumah. Selain sinar matahari yang gonjreng, angin berpasirnya juga bikin mata suka kelilipan. Saya jadi paham kenapa orang sini suka kacamuka, itu loh kacamata hitam berukuran besar yang hampir menutupi pipi atau sebagian muka.

Paling kagok kalo liat perkiraan cuaca di henpon sebelum keluar rumah. Angka yang ditunjukan 41 celcius, tapi rasa 46 celcius. Kebayang dong panas menyengatnya?

Dan di negara gurun itu musim panasnya kering, tanpa keringat, anginnya juga panas … malah kadang tanpa oksigen. Jadi terasa eungap susah untuk bernapas. Kayak masuk sauna tanpa keringat.

Kalo gambar di aplikasi cuaca sudah gelap seperti foto di atas padahal tengah hari bolong, berarti suhu 42 celcius rasa 47 celcius itu dibarengi dengan adanya Dusty Storm. Musti siap-siap pake masker deh.

Di tas sekolah anak-anak selalu saya siapkan masker, botol minum dan handuk Good Morning. Generasi 90an pasti tau nih handuk putih tipis berukuran lebih panjang dari saputangan yang biasa dipakai kalau latihan paskibra hehehe.

Kami sekeluarga juga membiasakan diri untuk pakai pelembab ditambah sunblock dengan SPF tinggi. Di Indonesia biasa pakai SPF 15-30, di sini udah gak mempan lagi. Kami harus menggunakan SPF 50, itu pun masih meninggalkan belang di kulit terutama di perbatasan kulit yang terkena matahari langsung dengan yang tertutup lembar pakaian. Beberapa hari lalu saya baru menemukan sunblock dengan SPF 100. Nanti dicoba deh, apakah cukup manfaat atau enggak.

Kadang kita gak bisa percaya begitu aja sama perkiraan cuaca di henpon. Begitu masuk mobil dan liat temperatur pada dashboard, baru deh itu angka suhu udara yang sesungguhnya bisa dipercaya karena mobil terpapar langsung sinar matahari. Awal Juni ini sudah sering banget suhu mencapai 50 derajat celcius. Sementara suhu malam hari tetap adem di 30an derajat celcius.

Suhu 40-50 celcius di siang hari itu pun baru suam-suam kuku untuk penduduk di jazirah Arab. Belum mencapai puncak musim panas katanya … baru permulaan ini. Konon tahun lalu sempat tembus 58 celcius saat puncak musim panas (Juli – Agustus).

Subhanallah…

Ketika sudah menerima notifikasi Heat Wave alias gelombang panas dengan suhu mencapai 50 celcius, artinya musim panas beneran sudah datang.

Tau rasanya saat kita buka pintu oven yang diset 180 celcius? Gelombang panas dari dalam oven yang kita rasakan di kulit wajah itu lah sama seperti yang kami rasakan saat musim panas di negara gurun ini datang.

Supir taxi yang sebagian besar waktunya dihabiskan dalam mobil di jalanan, sudah mulai membungkus kepalanya dengan handuk basah.

AC rumah dalam kondisi ON selama 24 jam. Saya pernah mencoba bertahan 4 jam tanpa AC saat suami ke kantor dan anak-anak sekolah, hasilnya saya berasa susah napas. Eungaaapppp!

Wajar kalau tagihan listrik bulan Mei sampai September akan naik sih.

Tidak hanya udara yang panas, air yang mengalir di kran kamar mandi rumah juga mulai panas. Apartemen kami mempunyai tangki penampung air, tapi sayang lokasinya terpapar sedikit sinar matahari karena letaknya di pinggir parkiran mobil. Jadi air yang mengalir tetap panas.

Kalo di negara lain saat siang musim panas kita kucurin air kran, di awal memang terasa hangat … tapi lama kelamaan suhu air akan normal.

Kalo di sini di awal terasa hangat … tapi lama kelamaan malah suhu air makin panas. Cuma sekedar wudhu aja, saya harus pindah 3 kran air karena tidak kuat dengan air panas. Macam cuci tangan pake air termos rasanya.

Akhirnya kami nurut nasihat teman-teman yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini untuk membeli ember. Agak aneh sih, kamar mandi ada pancuran shower dan bathup … tapi masih dihiasi sebuah ember.

Demi cebok gak kaget, sis! Hahahaha

Ada teman yang memberikan tips “cabut aja colokan Water Heater. Saat kita buka kran, arahkan ke bagian Hot. Supaya air yang mengalir itu dari tampungan di Water Heater, sudah tidak panas. Justru kalo kita arahkan kran ke bagian COLD, yang mengalir malah air panas dari penampungan di luar rumah

Tapi suami gak setuju karena beliau butuh air hangat untuk mandi pagi sebelum sholat subuh ke masjid. Di sini subuhnya jam 3 pagi sekarang, gak kuat kalo harus mandi air dingin.

KBRI Doha sampai memberikan himbauan untuk masyarakat Indonesia di Qatar. Kami memang gak pernah keluar rumah kalo gak butuh banget sih sekarang.

Yang kasian justru anak-anak sih. Sudah lah mereka puasa selama 15 jam lebih, udara lagi ekstrim panasnya, ditambah dengan Final Exam (ujian kenaikan kelas) sampai tanggal 13 Juni. Padahal lebaran insya Allah tanggal 15 kan ya?

Suhu udara luar sekitar 40-50 celcius, sementara AC dalam gedung (kantor, sekolah, RS, Masjid, Pusat Perbelanjaan) diset sekitar 18-20 celcius. Di mobil musti pake AC pada tombol 2 atau 3, baru berasa.

Nah ketika kita dari dalam rumah, ke parkiran, kemudian masuk mobil, keluar lagi parkiran, masuk dalam gedung lagi … badan kita kena perubahan suhu dingin – panas – dingin. Rasanya gak enak banget. Hiks

Anak-anak masih adaptasi dengan cuaca di sini, kaget badannya … akhirnya mulai tumbang bergantian. Pertama Rafa, begitu dia sembuh … eh adeknya ambruk juga. Dari mulai demam, mimisan sampai diare. Kata teman yang berprofesi dokter, itu merupakan tanda-tanda dehidrasi. Sebelum makin parah, saya minta anak-anak untuk tidak puasa dulu 1-3 hari sampai kondisi tubuh membaik. Saya terus mengingatkan mereka untuk banyak minum air putih, makan buah dan dopping vitamin.

Semoga kita semua dilimpahkan nikmat sehat selalu yaaa. Allahuma aamiin.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Garangao Festival

Garangao Festival

Baru denger nama festival ini ketika kami ke Doha Festival City wiken lalu.

Garangao Festival adalah perayaan anak2 di negara Arab ketika sudah mencapai tengah bulan Ramadan. Biasanya diselenggarakan malam ke 14/15/16 Ramadan. Supaya anak-anak makin semangat ibadah di 2 minggu terakhir Ramadan.

Dalam acara ini, anak-anak menggunakan pakaian khas timur tengah bergerombol jalan kaki keliling sambil menyanyikan lagu Garangao dan ketuk-ketuk pintu rumah tetangga untuk menerima kacang2an arab, aneka cemilan, permen dan coklat.

Kalau di mall, setelah mendaftar di meja Customer Service … anak2 diberikan tote bag dan peta mall. Kemudian mereka mendatangi toko-toko yang ada di peta untuk menerima souvenir, hadiah atau cemilan. Ada yang langsung dibagikan begitu aja, ada yg harus menyelesaikan tugas/kuis gitu. Seru deh liatnya.

Beberapa sekolah terutama utk tingkat TK dan SD juga ngadain acara ini. Sayang Fayra – Rafa udah masuk Middle dan High School, jadi gak ikutan. Mamade cuma bisa nonton anak orang lain aja. Hahahaha

Acara ini juga diselenggarakan di taman terbesar di doha yaitu Aspire Park, bahkan sampai Qatar National Library juga bikin loh.

Di Qatar dan Bahrain acara ini disebut Garangao, di Saudi disebut Karkee’aan atau Qariqaan, di Kuwait disebut Gargee’aan, di Oman disebut At-Tablah atau Qarnakosh, di UAE disebut  Hag Al Leylah.

Macam Halloween akhir Oktober di negara bule ya.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Mengolah Ikan 10 Riyal

Mengolah Ikan 10 Riyal

Saya sudah pernah cerita kan yah, betapa mahalnya harga bahan makanan di Qatar kalau dibanding dengan harga di Indonesia. Memang tidak semua, bahkan ada beberapa yang lebih murah.

Saat mengantar Rafa latihan bola beberapa waktu lalu, seperti biasa saya berkumpul dengan ibu-ibu Indonesia lain, ternyata mereka sedang membicarakan ikan seharga 10 riyal.

Nama yang tertulis dibungkusnya WHITE FISH. Dijual dalam kemasan 1 kilo dengan kondisi beku, tanpa kulit dan duri.

Mba Yanti yang merupakan lulusan perhotelan, memberikan testimoni kalo ikan ini bisa diolah menjadi berbagai jenis masakan dan rasanya lumayan enak. Langsung aja kami todong mba Yanti untuk buka cooking class di rumah nya, biar kami lihat cara membuat dan langsung mempraktekannya.

Hari Minggu, 22 April 2018 jam 9 pagi, kami berkumpul di rumah mba Yanti. Kami diminta membawa peralatan masak antara lain food processor, baskom, spatula dan talenan. Mba Yanti sudah menyediakan bahan makanannya. Kami tinggal mengganti uang yang digunakan beliau untuk belaja.

Hari itu kami belajar mengolah si ikan harga 10 riyal sekilo ini menjadi:

  • Pangsit
  • Somay
  • Mpek-mpek
  • Tekwan

Dengan bahan tambahan sebagai berikut:

  • Tapioka (produksi Thailand dan Sagu Tani)
  • Soy Sauce (kecap asin)
  • Fish Sauce (kecap ikan)
  • Garam
  • Lada bubuk
  • Kaldu bubuk (penyedap)
  • Garlic Paste (bawang putih yang diblender tanpa tambahan apapun)

Bumbu dasar putih yang sudah lebih dulu dibuat oleh mba Yanti:

  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Kemiri
  • Lada
  • Minyak goreng

Dari bahan tersebut akan tercipta beberapa makanan berbeda. Seru yaa.

Bude Yayan merelakan dirinya menjadi petugas dokumentasi, sementara saya kebagian menjadi sekretaris yang mencatat semua resep dan langkah-langkah pembuatannya. Kami berdua akan share di WA grup peserta setelah acara ini selesai.

Tugas ini kami lakukan sembari kami mempraktekan langkah-langkah yang dicontohkan mba Yanti loh. Jadi sebentar-sebentar kami cuci tangan karena bolak-balik pegang kamera/alat tulis bergantian dengan membuat adonan. Hahahaha

Seru banget kalo masak rame-rame gini … selama pesertanya gak lebih dari 10 orang sih. Kalo keramean nanti berisik sendiri, malah gak fokus.

Sebenarnya bisa aja mba Yanti share resep via WA. Tapi kalo saya lebih memilih melihat proses masak secara langsung seperti ini. Karena saya bisa dapat rekomendasi merk bahan yang digunakan, juga mendapatkan tips dan trik yang mungkin cara tiap orang memasak bisa berbeda-beda ya. Lumayan kan untuk menambah pengetahuan baru.

Cara membentuk pangsit

A post shared by De (@punyade) on

Alhamdulillah berkat acara ini, stok makanan anak-anak untuk seminggu ke depan dijamin aman. Karena semua hasil olahan saya selesaikan di rumah dan langsung masuk kotak yang disimpan dalam freezer. Besok-besok tinggal digoreng/dikukus untuk cemilan anak saat mereka pulang sekolah.

https://instagram.com/p/BiBSHXlhRVq/

Bonusnya, saya dapat beberapa kenalan baru deh. Alhamdulillah pelan-pelan saya mulai tergauli juga. Hahaha

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Sheikh Faisal Museum

Sheikh Faisal Museum

Senin, 23 April 2018 saya dan mba Sandra menjelajah pinggiran kota Doha sekitar 25 KM ke arah Dukhan untuk mengunjungi Sheikh Faisal Bin Qassim Al Thani Museum. Kebetulan mamanya mba Sandra lagi berkunjung ke Doha, jadi kami bisa jalan-jalan dengan modus mengantar nenek. Hihihihi.

Seperti biasa kami menggunakan jasa pak Didi, supir Indonesia langganan ibu-ibu Doha. Ternyata pak Didi juga belum pernah ke museum tersebut, jadi lah kami ber4 sama-sama turis abis. Cuma mengandalkan mba Waze dalam memandu perjalanan menuju lokasi.

Ternyata pintu keluar tol menuju museum ditutup. Kami sempat mondar mandir keluar pintu tol lain untuk mencari jalan alternatif. Akhirnya pasrah bertanya pada petugas perbaikan jalan tol, disuruh keluar di pintu yang menuju markas pengawal raja. Sebenarnya sudah melihat pintu ini sebelumnya, tapi ngeri-ngeri syedep … khawatir gak sembarang orang boleh lewat situ. Udah gitu, tampilan di layar hape saya pada aplikasi Waze cuma blank seperti ini dong:

Selamat datang di gurun!

Ini jalan tak beraspal ternyata tidak tercatat di peta. Hahaha

Deg-degan takut sedan pak Didi terjebak di tengah pasir, tapi akhirnya kami nekat karena melihat ada taxi Karwa jalan dengan cuek sedikit agak jauh di depan kami. Kalo mobil itu aja bisa, harusnya kita juga gak masalah kan ya.

Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga, dan saya langsung terpesona dengan bentuk juga luas bangunan museum ini.

Sheikh Faisal Museum

A post shared by De (@punyade) on

Sampai di pintu masuk bangunan, kami disambut oleh bapak satpam yang menginformasikan bahwa setiap pengunjung diminta untuk menitipkan tas di loker yang telah disediakan, dimana kunci loker tetap dipegang oleh pak satpam dan kita cuma diberikan kartu nomor loker saja.

Pengunjung diminta membayar tiket masuk seharga QAR 20 per orang dewasa, sementara untuk yang berusia di bawah 18 tahun bisa masuk dengan GRATIS. Di dalam gedung pengunjung boleh membawa henpon dan kamera, bebas mengabadikan dalam bentuk foto, tetapi dilarang merekam video.

Sesuai namanya, museum ini dimiliki oleh Sheikh Faisal bin Qassim Al Thani dengan luas lahan 530.000 meter persegi di daerah Al Samriya. Lebih dari 15.000 benda yang ditampilkan dalam museum ini merupakan milik pribadi dan keluarga beliau yang dikumpulkan dalam waktu 55 tahun dan masih terus akan bertambah. Sebagian besar dibeli oleh beliau dan keluarga, tetapi ada juga yang merupakan pemberian dari orang-orang ternama di dunia. Sheikh Faisal memang banyak melakukan perjalanan ke seluruh dunia, selain untuk berlibur, beliau juga merupakan konglomerat sukses pemilik grup perusahaan Al Faisal Holding yang sudah pasti sering berpergian dalam rangka urusan bisnis.

Museum ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh beliau sendiri pada tahun 1998.

Ada 3 bangunan dalam lokasi ini dengan koleksi benda yang sangat beragam dan tidak hanya melukiskan sejarah Qatar, tapi tentang perkembangan peradaban dunia. Dari fosil sejak jaman dinosaurus, benda-benda kedokteran, benda-benda keagamaan, aneka kendaraan, pakaian, perhiasan, sampai senjata dari jaman dahulu sampai yang terbaru … tersaji lengkap di sini.

Kata mbak petugas resepsionis, dibutuhkan waktu 45 menit untuk mengelilingi seluruh bangunan … tanpa membaca papan petunjuk/keterangan apalagi foto-foto. Kami ber4 menghabiskan waktu hampir 2 jam, itu pun belum sampai ke ruangan Quran, Islamic Art dan FBQ Gallery.

Begitu masuk bangunan museum, benda yang paling mencolok adalah barisan mobil. Bukan hanya koleksi mobil mewah, tapi lengkap dari mobil-mobilan dengan aneka skala, mobil balap, sampai truk dan kereta kencana juga ada. Sebut aja semua merk mobil yang pernah ada di dunia, paling enggak ada 1 biji yang duduk manis dalam ruangan ini.

Semua mobil dalam kondisi terawat, rutin dibersihkan dan secara berkala Sheikh Faisal memanggil teknisi untuk memeriksa dan manasin 6.000 mobil ini. Katanya semua mobil yang ada di sini, paling tidak pernah digunakan sekali oleh Sheikh Faisal sendiri.

Ketika di awal saya sebut koleksi museum di antaranya ada kendaraan, bukan hanya mobil semata. Tapi ada sebuah pesawat yang diletakan di tengah hall, ada barisan sepeda, motor, gerobak, kelengkapan unta, kereta kencana sampai kapal dengan berbagai macam ukuran.

Negara Qatar kan berada di semenanjung Timur Tengah, pinggir laut yang bersebrangan dengan negara Iran. Mata pencaharian penduduk Qatar berawal sebagai nelayan, kemudian menjadi penambang mutiara, sampai akhirnya mereka menemukan kandungan gas dan minyak bumi yang membuat negara ini semakin kaya.

Museum ini dibangun di atas tanah peternakan milik Sheikh Faisal. Sumur yang terdapat di dalam museum, memang sudah ada sebelum bangunan megah bagai istana ini didirikan. Awalnya sumur ini menjadi sumber air untuk perternakan, sekarang sih sudah tidak digunakan tapi tetap dipertahankan keberadaannya. Sumur dipercantik dengan memberikan sentuhan batu marmer pada bagian atasnya.

Yang seru ke bagian Medis dong. Gak cuma berbagai alat kedokteran mulai dari aneka stetoskop, tang cabut gigi, jejaruman, alat timbangan bayi dan balita, aneka tabung-tabung untuk ambil sample darah dan berbagai cairan …. di sini juga ada … KERANDA! Lengkap dengan seonggok tubuh tiduran di dalamnya.

Eh tapi ini ada rodanya sih. Mungkin ini ambulance di masanya, merangkap mobil jenazah. Entah lah. Tidak ada papan penjelasan tentang kendaraan yang satu ini.

Benda keagamaan yang ditampilkan dalam museum ini bukan hanya
dari agama Islam. Ada ruangan yang menampilkan koleksi benda-benda agama Hindu, Budha, Yahudi juga Kristen. Untuk koleksi Al Quran, ada ruangan terpisah yang letaknya di bangunan berbeda. Sayang kami tidak sempat masuk ke ruangan tersebut, padahal penasaran mau lihat Quran terkecil di dunia.

Ketika kami tiba, langit agak mendung. Tetapi ketika kami keluar, langit sudah mulai biru cerah dengan sinar matahari yang setrong banget. Dalam ruangan sudah pasti dipenuhi AC yang saya intip angka suhunya menampilkan 21 derajat celcius. Jadi gak tau kalau di luar tambah panas.

Gak kerasa loh kami menghabiskan waktu 2 jam untuk keliling museum FBQ ini. Pun masih ada 3 bagian yang belum sempat kami lihat. Benar-benar waktu berjalan tanpa terasa.

Fasilitas di dalam museum ini lengkap sih. Ada banyak toilet yang tersebar di beberapa titik. Di dalamnya ada bilik WC duduk dan jongkok. Tisu dan air berlimpah, kondisi sangat bersih terawat. Ada mushola juga di dekat barisan kapal. Tempat sholat pria dan wanita tentunya terpisah yah. Petunjuknya jelas kok, sampai ada panahnya.

Dekat pintu masuk juga ada cafetaria. Sayangnya meja bar tidak ada petugas dan tidak ada makanan apapun yang disajikan/dijual. Cuma ada 2 vending machine, mesin yang menjual minuman bersoda dan di sebelahnya mesin penjual kopi.

Yang penasaran mau lihat isi dalamnya lebih jelas, bisa menyaksikan video di bawah ini yaa:

Kalo menurut saya sih, museum ini seperti Museum Angkut di Malang tapi dengan skala lebih besar dan lebih niat. Sama-sama koleksi pribadi seseorang yang luar biasa, cuma mungkin beda jumlah uang pemiliknya aja yaaa. Hehehe

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn