8 tahun bersama

8 tahun bersama

Sabtu, 28 November 1999

De ajak masguh ke RS Persahabatan untuk menjenguk bapak. Entah kenapa, hari ini bapak minta semua anaknya untuk berkumpul di RS. Tidak cuma kami, tapi termasuk anak-anak angkat yang pernah tinggal dirumah kami dan disekolahkan oleh bapak bertahun-tahun yang lalu.

Jam 11 siang bapak meminta masguh untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan mengajukan sebuah pertanyaan:

“kalian mau gimana ini?”

Kedengaran seperti pertanyaan sederhana…tapi membutuhkan pemikiran yang dalam untuk menyusun jawaban nya.

De belum siap … begitu juga masguh. Kami belum siap secara mental dan finansial. Memang kami sudah bekerja, tapi saat itu kami masih melanjutkan sekolah masing-masing.

Entah karena apa, tiba-tiba masguh menjawab lirih “insya Allah hari selasa orang tua saya akan datang dari Surabaya untuk menjenguk bapak sekalian mau bicara mengenai hal ini

Bapak terdiam sebentar lalu melanjutkan pertanyaan yang lebih mengagetkan “kalau aku gak bisa nunggu sampai selasa gimana?

Kami terdiam dan menunduk karena tidak berani menatap bapak yang terbaring lemah di tempat tidur. Dokter menyatakan bapak menderita kanker paru-paru stadium 3. Dan sebelum dirawat di RS, bapak sudah menyiapkan surat pensiun, surat-surat rumah, surat wasiat pembagian harta warisan, beberapa helai kain ihram (kain putih seperti handuk yang digunakan orang untuk berhaji), dan satu jerigen air zamzam disamping tempat tidur di rumah.

Jam 11 malam bapak pergi untuk selamanya. Permintaan terakhir bapak yang disampaikan ke mami:

  • tidak mau dibungkus dengan kain kafan … tetapi diganti dengan kain ihram yang sudah beliau siapkan sendiri
  • minta wudhu terakhir dengan air zamzam yang juga sudah beliau siapkan disamping tempat tidur
  • minta dikubur di tanah kelahirannya di Jawa Tengah
  • minta de menikah di depan beliau (walo sudah jenazah) sebelum masuk ke liang kubur

speachless … gak berani nolak … dan bingung menjelaskan permintaan ini ke orang tua masguh.

Minggu, 29 November 1999

Jam 2 pagi jenazah bapak sampai dirumah. Kami menelpon orangtua masguh dan menjelaskan keadaannya. Dengan berat hati mereka rela kami melakukannya.

Setelah sholat subuh dan sholat jenazah, kami berangkat ke Jawa Tengah. Orang tua masguh juga langsung berangkat dari Surabaya menuju tempat yang sama. Sampai disana jam 3 sore. Setelah sholat ashar kami melaksanakan akad nikah.

mas kawin nya apa mas?” tanya ulama setempat yang bertindak sebagai penghulu dadakan

waduh de … mas gak bawa uang nih.” masguh mulai panik

walah mbak, mama gak pake perhiasan apapun nih” mama ikut bingung

ya udahlah … uang seribu rupiah juga bisa kan jadi mas kawin” mami mencoba mencari solusi.

waakkss … mosok mami tega sih anak perempuan 1-1nya dihargai cuma seribu perak. huhuhuhuhu

Akhirnya masguh membuka dompet dan menemukan lipatan 2 lembar lima puluh ribuan yang nyelip diantara struk atm.

Terjadilah akad nikah dengan maskawin 100rb dan mas iwan sebagai wali nikahnya.

Setelah itu kami mengantar bapak ke tempat peristirahatannya yang terakhir di tanah kelahiran beliau.

Senin, 30 November 1999

Pagi-pagi kami harus mengantar orangtua masguh ke stasiun bus di Yogya. Setelah itu kami pergi ke stasiun kereta dan membeli tiket untuk pulang ke Jakarta. Rombongan keluarga de sudah pulang duluan ke Jakarta dengan mobil masing-masing langsung dari Purworejo.

Saat di loket…

waduh de … mas gak ada duit nih. Isi dompet kemarin udah buat maskawin kamu. Trus gimana nih kita pulang ke Jakarta?” masguh bingung

Akhirnya uang maskawin itu kami gunakan untuk beli tiket kereta 2 orang ke Jakarta. Jadi maskawin nya ngutang ya mas … hahahaha

Kamis, 29 November 2007


Tidak terasa … kami sudah melalui 1-2-3-4-5-6-7-8 tahun bersama-sama. Sudah melewati masa-masa menyimpan rahasia pernikahan kami karena saat itu kami hanya melakukan nikah siri (tanpa ada surat nikah, tanpa saksi tetangga dari Jakarta dan tanpa kehadiran keluarga besar juga teman). Setelah itu kami kembali ke kehidupan kami masing-masing. De tinggal di rumah mami, masguh tinggal di kos. Akad nikah kami yang resmi dengan surat nikah dan resepsi dilakukan 17 Juni 2000. Tentu saja tulisan “akad nikah telah dilakukan 29 Nov 99” di dalam undangan membuat kami menjadi bahan ledekan teman-teman … hayahhh jadi selama ini udah nikah toh.

Kami sudah melewati 5 tahun sebagai kontraktor alias tukang ngontrak rumah sana sini.

Sudah melewati masa-masa kritis dimana de harus berbaring di ICU dengan 8 selang menempel di badan. Dan masguh telah membuktikan kesetiaannya dengan terus berada disebelah de. Masguh berhasil memberi semangat de supaya bertahan hidup untuk Rafa.

Sudah melewati masa-masa kanker alias kantong kering, karena kami harus menguras tabungan untuk membayar DP rumah dan mobil.

Sudah melewati masa-masa bahagia melihat kelahiran 2 anak kami Rafa – Fayra. Melihat rumah kami berdiri untuk pertama kali. Dan melihat cicilan mobil pertama kami lunas. hehe

Semoga kami bisa terus bersama menghadapi apapun yang terjadi dalam rumah tangga kami. Semoga Allah SWT menjaga dan menyuburkan cinta kasih kami … selamanya. Amin

17 thoughts on “8 tahun bersama

  1. Ya ampun De, aku ampe spechless ngebacanya. Nggak kebayang perasaan saat itu ya.

    Aku ikutan mengaminkan doanya ya. Semoga jadi keluarga samara, rukun ampe kakek nenek, jodoh dunia akhirat.

  2. assalamu’alaykum de,
    salam kenal ya… site-nya bagus & ceria warnanya… selamat ya, semoga dapat selalu membina keluarga yg sakinah mawwadah warrohmah… dan selalu berkah…

  3. Slamat ya, setelah 8 tahun penuh suka dan suka, semoga tahun-tahun mendatang makin banyak rezeki dan kebahagiaan buat keluarga Kurniawan ya….(st… De, dah tanggal nikah beda 2 hari, nama suami sama2 Kurniawan)

  4. hm………..*menghela nafas panjang*

    mbak,sungguh luar biasa perjuangannya.jujur ini merupakan sebuah pelejaran penting buat saya yang lagi mempersiapkan nya juga.
    saya terharu membacanya….

    semoga tetep menjadi keluarga yang sakinah……….yah..mbak.

  5. Terharu.. campur aduk mba de.. habis baca ini.. kebayang, sampe harus pisah dulu setelah akad nikah yah.. Barakallah.. semoga senantiasa SAMARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *