Browsed by
Author: De

My Heart Is Broken

My Heart Is Broken

Minggu siang, Tiwi menelpon mengabarkan berita duka. Ibu dari sahabat kami, Nana, meninggal dunia. Saya langsung siap-siap, kami berdua ditemani pak supir melakukan perjalanan ke Kuningan … 1,5 jam setelah kota Cirebon. Karena Senin pagi anak-anak mulai sekolah, kami putuskan tidak bermalam melainkan langsung balik ke rumah malam itu juga.

Tiba di BSD hari Senin sebelum adzan Subuh berkumandang, setelah menempuh kurang dari 15 jam perjalanan. Yang penting sudah peluk Nana, dan masih sempat antar anak ke sekolah. Meski tidak sampai ke pemakaman.

Selasa siang badan Rafa demam. Itu pun masih saya tinggal riwa riwi mengurus administrasi yang belum juga selesai.

Rabu malam, Tiwi kembali menelpon dan mengabarkan berita duka. Kali ini suaminya berpulang, kecelakaan tunggal di fly over kuningan. Diduga serangan jantung karens memiliki riwayat hipertensi.

Saya ditemani masguh langsung menuju ke RS Medistra. Menunggu sampai jenazah dimandikan dan berangkat ke rumah duka. Saya pulang ke rumah jam 12 malam, badan Rafa masih demam.

Kamis pagi suhu badan Rafa mulai normal, tapi diare dan muntah-muntah ganti menyerang.

Tumbang karena nasi padang. Salahkan lambung yang tidak punya ingatan, setahun tak makan langsung dianggap ancaman.

Hasil lab menunjukkan ada bakteri di lambung. Karena jumlah asupan sudah tidak sebanding dengan yang keluar, disarankan untuk menginap.

Batal menemani sahabat ke pemakaman, hanya bisa menanti kamar RS kosong yang tak kunjung ada kabar. Sampai Rafa memutuskan gak usah nginep aja, dia janji mau makan minum lebih banyak.

Dengan hati carut marut tak karuan, kisah ini saya ceritakan.

Bukan untuk meminta belas kasihan, hanya memohon didoakan … supaya kami diberikan kekuatan, kesabaran dan kesehatan.

Kenapa ITB?

Kenapa ITB?

Ketika saya menjawab ITB, untuk pertanyaan “Rafa kuliah di mana?

Ada beberapa reaksi yang saya terima.

Wah keren ya … selamat

Tapi banyak juga yang merespon:
ITB? Kenapa?
Kok CUMA itebe?

Saat melihat daftar nama universitas yang telah menerima murid-murid angkatan Rafa:
60% berada di Amerika – Canada
30% berada di Eropa
5% berada di Qatar
5% berada di Asia Australia
dan hanya Rafa yang kuliah di Indonesia.

Wajar sih … karena ini sekolah Amerika.

Kebetulan juga hanya Rafa lulusan 2019 yang berasal dari Indonesia.

Kelihatannya anak yang bersekolah di sini memang dari awal sudah direncanakan orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan ke Amerika.

Kami sudah menawarkan Rafa untuk kuliah di negara lain mumpung domisili kami sekarang ada di tengah bola dunia, tapi Rafa tetap kekeuh mau ke kampus impiannya sejak SMP dulu.

Alhamdulillah anaknya membuktikan dengan berhasil diterima TANPA TES (pakai nilai raport 5 semester + IELTS + SAT).

Career Counselor di sekolahnya bilang, dengan nilai yang dimiliki Rafa … harusnya dia bisa diterima di kampus Eropa dan Amerika. Sementara anaknya bilang “nanti saja lanjut S2 baru ke sana“.

Gak ada yang salah dengan pilihan kamu, mas. Terlepas orang lain menyayangkan ataupun menyepelekan. Toh ITB juga punya nama besar di negara kita. Anak-anak di Indonesia sendiri tidak gampang untuk bisa diterima masuk ke dalamnya.

Papa mama selalu mendukung setiap langkah kebaikan yang kamu lakukan. Karena kami yakin, kamu yang lebih paham atas kemauan, kemampuan dan rencana hidupmu sendiri.

Make yourself proud, son!

Menjadi Seorang Ibu

Menjadi Seorang Ibu

Ingatan saya kembali melayang saat saya berusia belasan awal, menampilkan sebuah tarian tradisional di panggung sekolah.

Saya melihat mami dari atas panggung, beliau meneteskan air mata di antara barisan penonton.

Yang ada di kepala saya saat itu, “duh, emak gw malu-maluin aja sih. Anaknya cuma manggung 17an, bukan berada di panggung Putri Indonesia yang membanggakan … kok pake nangis segala. Cengeng banget deh“.

Setelah punya anak sendiri, melihatnya berdiri di atas panggung sekolah TK pertama kali … tanpa sadar mata saya burem … dada terasa sesak. Ada yang mengalir hangat di pipi.

Saya kembali berpikir “owh .. jadi ini yang dirasakan mami saat itu. Aahh begini toh rasanya menjadi seorang ibu“.

Makin tambah usia, saya pun merasa makin cengeng.

Jangankan liat anak sendiri pake toga gini, liat sahabat posting foto anaknya aja mata saya tetiba burem kok.

Kanebo … mana kanebo?

Karena saya tau tisu aja gak akan cukup.

Now that I became a mother, I finally understand the profound sense of love in a mother’s heart and hands.

Hasil 18 Bulan Sekolah Di Qatar

Hasil 18 Bulan Sekolah Di Qatar

Seluruh sertifikat di atas merupakan hasil yang diperoleh anak-anak selama 18 bulan sekolah di Qatar.

Alhamdulillah sekolah di sini bisa dibilang dermawan dalam memberikan penghargaan untuk anak-anak. Setiap semester selalu ada saja lembaran sertifikat yang dibawa pulang.

Di Indonesia, Fayra pernah menerima Student of The Year yang dinilai dari prestasi akademik dan kemampuan bersosialisasinya (ahlak terpuji) … karena sudah tidak diberlakukan lagi sistem peringkat (ranking) di sekolah.

Di Qatar ada penghargaan untuk prestasi per setiap mata pelajaran (school subject), nilai rata-rata raport (Honor Roll dan High Honor Roll) dan Ideal Student. Tidak ada sistem ranking juga di sini.

Dampak positifnya adalah anak-anak merasa lebih dihargai dan bisa berpikir “I don’t have to be good in everything. I will focus on my strength and subject that I love most“.

Lebaran Di Qatar

Lebaran Di Qatar

Lebaran tahun ini kami rayakan di Qatar, soalnya jadwal ujian kenaikan kelas Fayra baru dimulai setelah libur Idul Fitri 10 hari. Sebenarnya tahun lalu juga kami sholat Ied di Doha sih, tapi kan sehari setelahnya kami berempat langsung terbang ke Indonesia. Jadi kami tiba di Jakarta masih di hari kedua lebaran, masih bisa silaturahim ke keluarga besar dalam suasana lebaran juga ikut halal bihalal komplek rumah BSD. Dan tahun lalu di tanggal hari ini, saya sedang sibuk cek harga big bird lengkap karena paksuami harus kembali lebih dulu ke Qatar karena jatah cuti dari kantor dalam setahun hanya 30 hari, sementara saya menemani anak-anak libur kenaikan kelas selama 3 bulan di Indonesia.

Tanggal 3 Juni (hari ke 29 Ramadan) saya melihat berita online kalau Indonesia sudah diumumkan 1 Syawal jatuh pada tanggal 5 Juni, sampai adzan magrib berkumandang di Qatar belum ada pengumuman kapan lebaran. Negara tetangga Oman dan Saudi mengumumkan tanggal 1 Syawal jatuh pada tanggal 4 Juni. WA grup ibu-ibu mulai rame, karena belum menyiapkan makanan lebaran. Penjual makanan langganan juga panik, kalau sampai lebaran maju … maka belum tentu masakan bisa diantar sesuai pesanan.

Ketika mendengar adzan Isya, paksuami seperti biasa langsung berangkat ke masjid. Baru sebentar, beliau pulang sambil cengar cengir “gak ada tarawih, sudah takbiran“.

Saya buka henpon dan menemukan pengumuman, dan benar saja … 1 Syawal di Qatar jatuh pada tanggal 4 Juni. Maju sehari dari yang sebelumnya diperkirakan.

Saya langsung ke dapur dan mulai masak makanan lebaran. Paksuami memang berpesan supaya saya masak sendiri. Sebagaimana saya rindu masakan mami dan suami rindu masakan mama, kami ingin anak-anak juga rindu masakan saya ketika kami sudah tidak tinggal bersama. Saya hanya goreng kerupuk, masak opor ayam campur telur, sambal goreng kentang campur ampela dan sayuran bersantan untuk pelengkap lontong. Saya gunakan bumbu instan merk Bamboe yang sawa bawa dari Indonesia, tinggal dicemplungin rempah tambahan seperti daun salam, daun jeruk, lengkuas dan sereh saja. Tidak lupa ditaburin bawang goreng supaya lebih sedap.

Semua masakan selesai jam 12 malam lewat. Waktunya cindrelela pulang alias saya masuk kamar karena tepar. Hahaha

Cuma tidur 3 jam kurang, karena jam 3 lewat 15 menit sudah masuk waktu sholat Subuh di Qatar.

Sesuai dengan pengumuman di media online, sholat Idul Fitri di Qatar dilaksanakan secara serentak jam 5 tepat yaitu 15 menit setelah matahari terbit. Kami pun naik mobil menuju masjid hijau dekat Souq Waqif, tempat yang sama kami lakukan sholat Ied seperti tahun lalu.

Kalau di Jakarta, kami sholat Ied jam 7 pagi. Tapi kami juga pernah sholat Ied di Surabaya yang dilaksanakan jam 6 pagi. Ternyata di Qatar jauh lebih pagi lagi. Hehehe

Sayangnya kami kesiangan, pak suami dan Rafa sudah tidak bisa masuk ke dalam masjid. Mereka hanya bisa sholat di halaman.

Jamaah tahun ini memang lebih banyak, karena ujian sekolah baru diselenggarakan setelah libur lebaran. Bisa dipastikan banyak pendatang yang belum pulang ke kampung halaman.

Saya yang sedang tidak sholat, hanya bisa duduk di pinggiran parkiran. Alhamdulillah Fayra masih kebagian tempat sholat di dalam masjid walau posisinya di bawah tangga dekat pintu keluar.

Jam 6 lewat kami sudah pulang ke rumah, langsung sarapan lontong sayur dan pelengkapnya.

Setelah video call dengan orangtua dan keluarga di Indonesia, kami pun masuk kamar masing-masing untuk melanjutkan tidur. Sepertinya kami mulai ketularan orang arab yang membayar kekurangan tidur saat Ramadan setelah lebaran. Beda dengan Idul Fitri di Indonesia yang meriah, di sini sepi mungkin karena seperti kami … mereka tidur juga.

Kami baru bangun tidur ketika mendengar adzan dzuhur dong. Hampir saja kami lupa kalau siang itu ada undangan Open House di rumah sahabat paksuami, dan saya kebagian bawa puding juga brownis. Ibu-ibu memang sudah mengatur menu di WA grup jauh-jauh hari, dan membagi tugas siapa yang harus membawa apa. Supaya tuan rumah tidak berat, maka makanan pun dihadirkan dengan sistem potluck (semua tamu membawa sesuatu). Maklum di sini kami harus melakukan segalanya sendiri, bukan karena pembantu mudik lebaran … tapi kami memang gak punya pembantu kan. Hehehehe

Alhamdulillah kami masih diberikan rejeki dari Allah berupa orang-orang baik di sekitar kami. Adanya mereka, menggantikan posisi saudara yang jauh di mata. Bersama mereka, kami merasa memiliki keluarga.

Semoga Allah SWT menerima ibadah Ramadan kita, mengampuni dosa kita, memberikan kita kesehatan dan kesempatan untuk berjumpa Ramadan berikutnya sehingga kita bisa memperbaiki kekurangan ibadah sebelumnya. Aamiin allahuma aamiin.