Awal Musim Panas Di Qatar

Awal Musim Panas Di Qatar

Masya Allah sudah memasuki bulan Juni 2018, artinya mulai harus siap-siap akan datangnya musim panas di negara gurun. Suhu bulan April yang berkisar 30an derajat celcius, beranjak ke bulan Mei suhunya perlahan-lahan mulai naik. Angin mulai berhembus membawa pasir halus. Langit yang tadinya gradasi warna biru, berubah menjadi abu-abu. Kata mas Ragil, pemandangan Doha di foto bawah ini tampak suram. Semoga masa depan kami di negara ini gak sesuram pemandangannya ya. Hehehe

Awal Mei suhu udara mulai mendekati 40 celcius. Pernah ada 1 hari Reddish SandStorm Day, alias hari dimana kondisi langit tampak merah kekuningan. Awalnya saya pikir karena efek warna korden di jendela kamar yang berwarna krem kekuningan. Tetapi ini kejadian nyata begitu keluar dari apartemen, pemandangan di luar benar warna merah kekuningan. Katanya ini efek SandStorm di negara tetangga yaitu Arab Saudi.

Pertengahan Mei sudah masuk bulan Ramadan. Jam kerja dan sekolah di Qatar mulai pertengan bulan Mei 2018 berubah:

  • Kantor pemerintah yang biasanya masuk jam 7 pagi, pulang jam 2 siang … berubah menjadi masuk jam 9, pulang jam 2 siang.
  • Kantor swasta yang biasanya masuk jam 8 pagi, pulang jam 3 sore … berubah menjadi masuk jam 9, pulang jam 2 siang.
  • Anak sekolah yang biasanya masuk jam 7:15 pagi, pulang jam 2 siang … berubah menjadi masuk jam 8:15 pagi, pulang jam 1 siang.
  • Pekerja bangunan bekerja di sore ke malam hari, bukan siang lagi.

Karena semua pegawai pemerintah dan swasta bubar kantor di jam 2 siang, kondisi jalan di Doha menjadi macet luar biasa. Yah kalo dibanding sama kondisi macet Jakarta, macetnya Doha sih cuma tergolong padat merayap. Suami males pulang on-time, memilih menunggu kondisi jalan mulai lancar baru pulang ke rumah.

Akhir bulan Mei suhu makin naik. Kacamata hitam bukan lagi aksesoris penunjang gaya, tetapi sudah menjadi sebuah kebutuhan wajib ketika akan keluar rumah. Selain sinar matahari yang gonjreng, angin berpasirnya juga bikin mata suka kelilipan. Saya jadi paham kenapa orang sini suka kacamuka, itu loh kacamata hitam berukuran besar yang hampir menutupi pipi atau sebagian muka.

Paling kagok kalo liat perkiraan cuaca di henpon sebelum keluar rumah. Angka yang ditunjukan 41 celcius, tapi rasa 46 celcius. Kebayang dong panas menyengatnya?

Dan di negara gurun itu musim panasnya kering, tanpa keringat, anginnya juga panas … malah kadang tanpa oksigen. Jadi terasa eungap susah untuk bernapas. Kayak masuk sauna tanpa keringat.

Kalo gambar di aplikasi cuaca sudah gelap seperti foto di atas padahal tengah hari bolong, berarti suhu 42 celcius rasa 47 celcius itu dibarengi dengan adanya Dusty Storm. Musti siap-siap pake masker deh.

Di tas sekolah anak-anak selalu saya siapkan masker, botol minum dan handuk Good Morning. Generasi 90an pasti tau nih handuk putih tipis berukuran lebih panjang dari saputangan yang biasa dipakai kalau latihan paskibra hehehe.

Kami sekeluarga juga membiasakan diri untuk pakai pelembab ditambah sunblock dengan SPF tinggi. Di Indonesia biasa pakai SPF 15-30, di sini udah gak mempan lagi. Kami harus menggunakan SPF 50, itu pun masih meninggalkan belang di kulit terutama di perbatasan kulit yang terkena matahari langsung dengan yang tertutup lembar pakaian. Beberapa hari lalu saya baru menemukan sunblock dengan SPF 100. Nanti dicoba deh, apakah cukup manfaat atau enggak.

Kadang kita gak bisa percaya begitu aja sama perkiraan cuaca di henpon. Begitu masuk mobil dan liat temperatur pada dashboard, baru deh itu angka suhu udara yang sesungguhnya bisa dipercaya karena mobil terpapar langsung sinar matahari. Awal Juni ini sudah sering banget suhu mencapai 50 derajat celcius. Sementara suhu malam hari tetap adem di 30an derajat celcius.

Suhu 40-50 celcius di siang hari itu pun baru suam-suam kuku untuk penduduk di jazirah Arab. Belum mencapai puncak musim panas katanya … baru permulaan ini. Konon tahun lalu sempat tembus 58 celcius saat puncak musim panas (Juli – Agustus).

Subhanallah…

Ketika sudah menerima notifikasi Heat Wave alias gelombang panas dengan suhu mencapai 50 celcius, artinya musim panas beneran sudah datang.

Tau rasanya saat kita buka pintu oven yang diset 180 celcius? Gelombang panas dari dalam oven yang kita rasakan di kulit wajah itu lah sama seperti yang kami rasakan saat musim panas di negara gurun ini datang.

Supir taxi yang sebagian besar waktunya dihabiskan dalam mobil di jalanan, sudah mulai membungkus kepalanya dengan handuk basah.

AC rumah dalam kondisi ON selama 24 jam. Saya pernah mencoba bertahan 4 jam tanpa AC saat suami ke kantor dan anak-anak sekolah, hasilnya saya berasa susah napas. Eungaaapppp!

Wajar kalau tagihan listrik bulan Mei sampai September akan naik sih.

Tidak hanya udara yang panas, air yang mengalir di kran kamar mandi rumah juga mulai panas. Apartemen kami mempunyai tangki penampung air, tapi sayang lokasinya terpapar sedikit sinar matahari karena letaknya di pinggir parkiran mobil. Jadi air yang mengalir tetap panas.

Kalo di negara lain saat siang musim panas kita kucurin air kran, di awal memang terasa hangat … tapi lama kelamaan suhu air akan normal.

Kalo di sini di awal terasa hangat … tapi lama kelamaan malah suhu air makin panas. Cuma sekedar wudhu aja, saya harus pindah 3 kran air karena tidak kuat dengan air panas. Macam cuci tangan pake air termos rasanya.

Akhirnya kami nurut nasihat teman-teman yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini untuk membeli ember. Agak aneh sih, kamar mandi ada pancuran shower dan bathup … tapi masih dihiasi sebuah ember.

Demi cebok gak kaget, sis! Hahahaha

Ada teman yang memberikan tips “cabut aja colokan Water Heater. Saat kita buka kran, arahkan ke bagian Hot. Supaya air yang mengalir itu dari tampungan di Water Heater, sudah tidak panas. Justru kalo kita arahkan kran ke bagian COLD, yang mengalir malah air panas dari penampungan di luar rumah

Tapi suami gak setuju karena beliau butuh air hangat untuk mandi pagi sebelum sholat subuh ke masjid. Di sini subuhnya jam 3 pagi sekarang, gak kuat kalo harus mandi air dingin.

KBRI Doha sampai memberikan himbauan untuk masyarakat Indonesia di Qatar. Kami memang gak pernah keluar rumah kalo gak butuh banget sih sekarang.

Yang kasian justru anak-anak sih. Sudah lah mereka puasa selama 15 jam lebih, udara lagi ekstrim panasnya, ditambah dengan Final Exam (ujian kenaikan kelas) sampai tanggal 13 Juni. Padahal lebaran insya Allah tanggal 15 kan ya?

Suhu udara luar sekitar 40-50 celcius, sementara AC dalam gedung (kantor, sekolah, RS, Masjid, Pusat Perbelanjaan) diset sekitar 18-20 celcius. Di mobil musti pake AC pada tombol 2 atau 3, baru berasa.

Nah ketika kita dari dalam rumah, ke parkiran, kemudian masuk mobil, keluar lagi parkiran, masuk dalam gedung lagi … badan kita kena perubahan suhu dingin – panas – dingin. Rasanya gak enak banget. Hiks

Anak-anak masih adaptasi dengan cuaca di sini, kaget badannya … akhirnya mulai tumbang bergantian. Pertama Rafa, begitu dia sembuh … eh adeknya ambruk juga. Dari mulai demam, mimisan sampai diare. Kata teman yang berprofesi dokter, itu merupakan tanda-tanda dehidrasi. Sebelum makin parah, saya minta anak-anak untuk tidak puasa dulu 1-3 hari sampai kondisi tubuh membaik. Saya terus mengingatkan mereka untuk banyak minum air putih, makan buah dan dopping vitamin.

Semoga kita semua dilimpahkan nikmat sehat selalu yaaa. Allahuma aamiin.

Share this...
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

10 thoughts on “Awal Musim Panas Di Qatar

  1. Waww aku jadi ikut ngebayangin gimana panasnya. Panas di indo aja ngeluh2 Apalagi disana ya . Mbak ini ada hubungannya sama blogger nana ramlan kah? Beliau merantau disana juga, dan memang byk sih org indonesia yg merantau disana . Tapi klo ke negara masih arab Menurut saya masih amanlah budayanya hehe..
    Aku ikut penasaran sama handuk dingin dikepala, mungkin itu sebab org arab mendinginkan kepalanya dr cuaca ya?. Sama kacamuka itu. Wah bener2 asik tulisannya sy jadi ikut membayangkan hehe

  2. aduh negbayangi panasnya di sana samapi 50 derajat lah di cirebon baru 32 saja aku sdh kepanasan dan malas keluar rumah

  3. Baru baca awal2 udah kebayang klo dirumah pasti AC idup terus dan berapa listriknya haha.. pantes yaa Mbak klo org2 di sana suka pakai baju yg lebar longgar, supaya adem dan nutupin seluruh badan.. oya emg tangki airnya ga bisa dipindahin mbakk?? Yg sabar Mbak.. musim panasnya smpe kapan Mbak?? (Kepo bgt, abs seru ceritanya hehe)

    1. tangki air apartemen?

      wuih itu seukuran mobil dan ada lebih dari 5 bijik. Siapa yg bisa mindahin hahaha

      musim panas sampe September, puncaknya di Juli-Agt.

  4. Mdh2an sehat2 ya nextnya bude.. aku bayanginnya abis pipis terus kena panas air duh.
    Panas banget dong ya sgitu di sana.. 50 derajat. Ya Allah.. luar biasa perjuangan klo keluar rumah..

    1. nah itu makanya aku sebut biar cebok gak kaget hahahaha.

      sebulan terakhir, jari tanganku aja masih sisa utk menghitung berapa kali aku keluar rumah. Saking malesnya pergi itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *