Browsed by
Category: Keuangan Keluarga

Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Sudah 2 tahun saya berhenti memberikan kontribusi dalam hal keuangan keluarga. Tepatnya sejak saya Tutup Karir yang sebelumnya saya bangun selama 19 tahun dan setahun kemudian saya juga Tutup Toko di Thamrin City. Akhirnya saya bisa menikmati indahnya dinafkahi, tanpa ikut bersusah payah mencari.

IMG_5152

Segitu mulus jalannya?

Tentu tidak!

Saya mengalami masa jet-lag dan oleng seperti hal nya rumah tangga lain yang baru saja kehilangan salah satu periuk keluarga.

Apalagi penghasilan saya sebelumnya tergolong lumayan besar berkat jabatan yang saya emban. Terbiasa punya uang sendiri sejak usia 17 tahun dan merasa bebas mengelola pendapatan sendiri. Maka ketika saya hanya bisa menanti uang dari paksuami, saya merasa ruang gerak agak terbatasi. Harus berpikir sekian kali hanya untuk menggunakan sebagian yang tersebut. Harus berhati-hati membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Seperti prinsip ekonomi yang pernah saya tulis di sini (baca: Komposisi Pengeluaran Bulanan), kalau tidak bisa perbesar pendapatan artinya kami harus perkecil pengeluaran. 2 tahun terakhir kami hidup sangat hemat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

MasRafa yang sebelumnya belajar di sekolah internasional, akhirnya masuk ke sekolah negeri (baca: Rafa Masuk SMA), SPP yang harus dibayar berkurang menjadi hanya 1/7 dari sebelumnya.

Pembantu rumah tangga yang sebelumnya ada 2 orang menginap di rumah kami, sekarang tidak ada lagi. Saya hanya dibantu oleh mbak pulang pergi yang hanya datang ke rumah 2 jam setiap hari.

Supir sudah diberhentikan, mobil pun hanya tinggal 1 di garasi.

Selama 2 tahun terakhir juga kami tidak pergi liburan keluarga dan mengurangi frekuensi pergi ke mall.

Tabungan keluarga reset ke titik nol, karena harus kami kuras untuk melunasi hutang. Kami rela tidak punya tabungan, yang penting hidup tanpa cicilan. Ini juga salah satu jalan kami dalam mengurangi pengeluaran dan mengejar target mulia #BebasRiba2020.

Ibaratnya ini periode dimana kami harus pake korset … karena ngencengin ikat pinggang aja terbukti tidak cukup. Hahahaha

Kondisi ini tidak sampai membuat saya frustasi. Kaget iya, tapi pelan-pelan dijalani. Agaknya sekarang saya sudah beradaptasi, lebih stabil dan mulai bisa menikmati.
IMG_5148

Makanya saya senang sekali ketika makmin KEB mengundang saya untuk hadir dalam acara Visa Financial Literacy woskhop untuk #ibuberbagibijak, dimana kami belajar tentang financial plan, mengatur cashflow keuangan keluarga dan ikut financial checkup oleh mba Prita Ghozie, seorang Financial Educator ternama di Indonesia. Beliau ini tidak hanya piawai berbicara mengenai literasi keuangan, tapi juga ramah dan cantik jelita.

IMG_5147

Acara ini membuka mata banget. Saya mendadak terdiam sejenak mendengar bahwa hanya <25% perempuan Indonesia yang melek tentang literasi keuangan. Padahal 75% kendali cashflow keuangan keluarga ada di tangan seorang ibu.

Fakta hasil survey lembaga keuangan:
– 50% perempuan tidak bisa membedakan kas, konsumsi dan investasi
– 18% perempuan punya hobi berhutang (cicilan atau kartu kredit)
– 32% perempuan punya gaya hidup tinggi

IMG_5150

Mba Prita meminta kami untuk mengisi form Periksa Kesehatan Keuanganmu. Tidak perlu mengisi besaran rupiah, tapi fokus kepada persentase komposisi pengeluaran.

Komposisi pengeluaran bulanan yang ideal untuk sebuah keluarga:

  • Kegiatan sosial 5% –> zakat/infak/sedekah
  • Dana Darurat 10% –> simpanan untuk menutup biaya tak terduga (darurat medis, perbaikan rumah, dll)
  • Cicilan hutang 30% –> dibagi untuk cicilan rumah – kendaraan (mobil / motor) dan pinjaman lain
  • Pengeluaran rutin 30% –> dibagi untuk belanja bulanan, listrik, telpon, PAM, gas, gaji pembantu, tranportasi harian, belanja dapur harian, makan siang dikantor, dll
  • Investasi 15% –> digunakan untuk dana pendidikan anak, dana pensiun, dll
  • Gaya Hidup 10% –> digunakan untuk belanja online, kecantikan, liburan, gadget, dll

Sementara untuk asuransi, kurban bagi yang muslim, pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan, liburan keluarga yang sifatnya pengeluaran tahunan, maka sebaiknya dibayar dengan pendapatan tahunan (THR, bonus, komisi, dll).

IMG_5149

Mengevaluasi keuangan keluarga tidak perlu dilakukan setiap waktu. Cukup dilakukan secara berkala, misalnya 1 tahun sekali. Dengan mengetahui komposisi pengeluaran ini, maka kita akan lebih mudah dalam mengelola penghasilan keluarga dan membuat anggaran dasar belanja.

Sebuah keluarga dinyatakan berhasil menabung, jika nilai aset yang dimiliki tahun ini meningkat 10% dari tahun sebelumnya. Dan tidak lupa sudah menyiapkan dana darurat yang nilai minimalnya 3 hingga 6 kali biaya kehidupan bulanan keluarga.

IMG_5151

Jadi bagaimana kondisi keuangan keluarga kita?

Rejeki memang sudah ada yang mengatur. Tapi apakah kita bisa mengatur rejeki yang sudah diberikanNYA kepada kita?

Kenapa mama harus kerja?

Kenapa mama harus kerja?

Saya yakin tidak hanya saya yang menghadapi pertanyaan “kenapa mama harus kerja?

Ibu pekerja lain juga pasti mengalami hal yang sama. Dan biasanya pertanyaan itu diajukan ketika kita akan berangkat keluar rumah, sementara anak masih ingin bersama kita.

Betul begitu??? *nyari temen banget*

Waktu anak-anak masih umur <3 tahun, biasanya dijawab dengan:

mama kerja cari uang untuk beli susu kamu

Karena anak seumur tsb taunya masih minum susu aja sih yah. Jadi sebisa mungkin menjawab yang ada hubungannya dengan anak kita.

Begitu anak-anak sudah menginjak umur 4-6 tahun, dijawab dengan:

mama kerja untuk bantu papa cari uang, nak. Karena kita butuh uang untuk beli rumah, beli mobil, bayar sekolah kamu, beli makanan kita, dll. Kasian kan kalo papa cari uang sendiri. Jadi mama ikut kerja juga di kantor yang lain

Pada umur segini, kami sudah mengenalkan ke anak tentang konsep penghasilan dan pengeluaran. Mereka sudah mengenal uang, nilai sebuah barang, dan apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan uang. Anak-anak paham bahwa untuk mendapatkan sebuah mainan, mereka harus datang ke toko dan membawa uang. Jadi anak mulai mengerti bahwa mama nya kerja, untuk membantu papa nya mendapatkan penghasilan. Demi menutup kebutuhan keluarga.

Saat ini umur anak kami bukan lagi dikategorikan sebagai toddler, Fayra sudah 6 tahun sementara Rafa sudah 11 tahun. Rafa sudah mulai masuk gerbang usia remaja, konsep pemikiran pun sudah mulai berubah.

Sekarang saya sudah bisa menggambarkan pekerjaan saya dan papa nya walau masih dengan bahasa sederhana. Alhamdulillah pekerjaan kami masih gampang dijabarkan. Mereka biasa bersentuhan dengan alat komunikasi. Dan saat ke museum science di Hongkong, kami sudah memperkenalkan konsep telekomunikasi karena alat peraga disana sangat lengkap. Jadi secara garis besar, mereka bisa menangkap apa yang kami kerjakan sehari-hari di kantor.

Ketika libur lebaran, saya pernah membawa anak-anak ke kantor. Mereka duduk di kubikel saya, memandangi semua brosur dari beberapa perangkat yang saya kerjakan dan sudah beredar di pasar.

Rafa bertanya “ini semua buatan mama yah?

Saya: “ini buatan china, dibuat oleh orang sana. Mama ditugaskan untuk membeli, dan membuatnya bagus untuk bisa dijual di Indonesia. Mama hanya membuat design dus, memasukan games, ringtones, dan berbagai aplikasi lain serta membuat paket koneksi internetnya. Jadi saat orang membeli perangkat ini, mereka tinggal pake aja

Rafa: “susah gak sih ma, ngerjain kaya gitu?

Saya: “Enggak juga kok mas. Kita harus bisa bahasa Inggris aja supaya bisa menjelaskan apa yang kita mau beli, ke orang china. Kalo bisa bahasa mandarin akan lebih bagus lagi. Dan itu juga yang membuat mama harus pergi ke China, karena mama harus liat pabrik dan bekerja bersama mereka dalam membuat perangkat tsb

Rafa: “iya. Mama pasti bisa lah. Mama kan pinter”

Aaaahhhh meleleh saya *ngelap mata burem*

————–

Saya mulai bekerja serius (bukan sekedar magang yang dapat gaji sekedarnya) di usia 17 tahun, saat lulus dari STM tahun 1996. Alasan utama saya bekerja saat itu adalah supaya saya bisa menghasilkan uang untuk ditabung sebagai biaya kuliah. Sesederhana itu, karena orangtua saya tidak bisa membayar uang kuliah kalau saya kuliah di universitas swasta. Saat lulus STM, saya merasa tidak akan mampu bersaing dengan anak SMA untuk bisa lulus UMPTN. Akhirnya setelah 2 tahun bekerja dan menabung, saya bisa kuliah. Walau lulusnya 7 tahun kemudian (karena cuti hamil + melahirkan dan sakit).

Ketika hamil Rafa (2001), saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Tetapi kami mendapat cobaan, masguh ditipu orang 200jt yang mana uang itu bukan milik kami semua. Batal beli rumah pertama, lanjut kontrak sana sini, ditambah harus mengganti uang milik orang lain yang ludes dibawa sang penipu. Akhirnya saat Rafa berusia 6 bulan (awal tahun 2002), dengan sangat terpaksa saya memutuskan untuk meninggalkan Rafa dan bekerja di luar rumah. Saat itu tujuan saya bekerja murni untuk membantu suami dalam menghasilkan uang, demi menutupi kebutuhan keluarga kecil kami.

Baru 1,5 tahun bekerja, saya sakit parah. Dengan kondisi 3x operasi + 29 hari menginap di RS + 2 hari di ICU, saya memutuskan untuk berhenti bekerja. 6 bulan di rumah selama masa penyembuhan, saya memikirkan biaya hidup lagi. Rafa sudah mau masuk sekolah Playgroup, kami belum juga punya rumah dan kendaraan. Akhirnya saya bangkit dan memutuskan untuk kembali bekerja. Kebetulan ada teman yang minta dibantu mengurus perusahaannya.

Setelah ekonomi keluarga mulai stabil dan akhirnya kami berhasil membayar DP rumah dan mobil pertama, saya mengajukan permohonan untuk kembali berhenti kerja. Tapi baru sebulan di rumah, saya menerima panggilan pekerjaan. Suami sangat mendukung pekerjaan baru saya. Dan ternyata di bulan yang sama, saya mengetahui kalau saat itu saya hamil Fayra. Kebayang kebutuhan keluarga kami dengan tambahan anggota keluarga, akhirnya dengan mantab kami putuskan saya harus kembali bekerja. Awal tahun 2006 itu lah saya kembali kerja.

Bisa dibilang dari total 16 tahun masa kerja, saya merasakan ‘di rumah’ hanya 1 tahun. Dan kalau dilihat alasan-alasan kenapa saya harus bekerja, jelas alasan ekonomi. Kerja untuk mencari uang. That’s all.

Slogan saya sudah dikenal teman-teman “maju terus membela yang bayar lebih besar” hehehehe

Tapi entah kenapa semakin kesini, tujuan saya bekerja mulai berganti arah. Tidak hanya mengejar uang semata, tapi lebih kepada karya. Setiap saya bekerja di sebuah perusahaan (sejauh ini baru 7 perusahaan berbeda), saya sangat berusaha untuk meninggalkan ‘jejak’. Membangun hubungan kerja yang berlanjut pada pertemanan, memberikan kontribusi kepada perusahaan berupa produk dan jasa, yang alhamdulillah berbuah penghargaan berupa ‘kenaikan posisi dan gaji’. Ternyata saat kita memikirkan hasil nyata diluar uang, maka pendapatan ikut menanjak dengan sendirinya.

————–

Mengingat kata-kata Rafa saat berkunjung ke kantor saya, membuat saya bertekad kuat kalau tujuan saya bekerja hanya satu sekarang:

membuat karya supaya suami dan anak saya bangga atas keberadaan diri saya. Dan tak lupa saya pun berharap semoga orangtua merasa perjuangan mereka dalam membesarkan saya tidak sia-sia

Lebay mungkin….

Tapi itu lah yang saya rasakan sekarang.

Trus sampai kapan?

Owh saya ingin pensiun kok. Seperti yang sering saya tulis disini, saya akan pensiun maksimal di usia 40 tahun (lebih cepat akan lebih baik). Masih ada 6 tahun ke depan. Tapi sudah mulai saya pikirkan dari sekarang. Terlebih saat Masguh mengajukan pertanyaan yang gak kalah penting dengan pertanyaan anak-anak sesuai judul ini

kalo udah pensiun, apa yang akan kamu lakukan di rumah?”

Jreng … jreng … jreng

Ini yang sedang saya lakukan … menyusun rencana pensiun.

Karena saya ingin tetap berkarya walau tak lagi bekerja di luar rumah. Doakan saya yaaa

Rafayra ke Bank

Rafayra ke Bank

Hai hai … gimana liburan nya? Semoga menyenangkan yah

Kami ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir batin untuk pembaca blog ini *kek ada yg baca aja*

Sebelum mudik lebaran ke Surabaya, kami menyempatkan untuk membawa Rafa dan Fayra ke bank dekat rumah. Kebetulan Bank Permata ada program tabungan Permata Bintang untuk anak-anak:

  1. Kartu ATM dan buku tabungannya menggunakan design Pricess & Cars (tokoh kartun anak)
  2. Menggunakan data diri orang tua (cuma menunjukan KTP asli)
  3. Nama di kartu ATM adalah nama anak
  4. Setoran awal cuma 100rb
  5. Setoran selanjutnya minimal 25rb
  6. Tidak ada biaya administrasi (potongan) tiap bulan

Kami gak tanya sih bunga nya berapa. Karena kami gak begitu peduli juga. Tabungan ini semata untuk sarana anak-anak belajar menabung dan mengenal sistem per-bank-an.

Dengan membawa anak ke bank, mereka belajar beberapa hal:

    1. Belajar mengantri

Saat mereka memasuki pintu bank, disapa oleh satpam. Anak-anak diajarkan cara mengambil nomor antrian yang berbeda untuk ke teller dan customer service. Alhamdulillah Bank Permata mempunyai ruang tunggu yang ramah anak-anak. Jadi mereka sibuk bermain selama menunggu nomor antrian dipanggil.

    1. Belajar mengisi form dan mengingat data diri

Walaupun seluruh form diisi dengan data orang tua, tapi anak-anak melihat saya mengisi seluruh informasi pada form pembukaan rekening. Saya jelaskan data apa yang saya tulis seperti nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon dan tandatangan. Sehingga Rafa dan Fayra mengerti bawa mereka harus menghafal data tersebut juga harus belajar untuk membuat tandatangan

    1. Belajar fungsi buku tabungan dan kartu ATM

Saya jelaskan ke anak-anak betapa pentingnya menjaga buku tabungan dan kartu ATM. Mereka belajar bahwa buku tabungan dan kartu ATM adalah bukti kepemilikan rekening. Dimana jika salah satunya hilang, kita harus lapor ke polisi dan menyerahkan surat kehilangan dari polisi ke bank. Mereka belajar untuk menghafal nomor PIN kartu ATM dan merahasiakannya.

Anak-anak belajar bahwa mereka bisa melihat lalu lintas angka-angka yang tertulis di buku tabungan. Mereka mengerti konsep tabungan adalah menitipkan uang ke lembaga resmi untuk dikelola. Jadi mereka gak nangis/sedih saat harus menyerahkan uangnya. Dan yang penting mereka sekarang jadi paham bahwa uang yang bisa diambil dari mesin ATM adalah sejumlah yang mereka titipkan. Jadi tidak semata-mata saat butuh uang, mesin ATM bisa mengeluarkan berapa pun yang mereka butuhkan.

Beginilah penampakan buku tabungan dan buku petunjuk untuk Rafa:

Beginilah penampakan buku tabungan dan kartu ATM untuk Fayra:

    1. Belajar menggunakan mesin ATM

Untuk menyingkat waktu, kami memilih kartu ATM instant. Karena jika kita ingin nama anak tercetak pada kartu ATM, kita harus menunggu sekitar 1-2 minggu. Harus kembali datang ke bank untuk mengambil kartu tsb. Sementara anak-anak udah gak sabar pingin liat dan pingin punya hehehe.

Karena PIN dan kartu ATM langsung aktif saat itu juga, keluar dari bank kami langsung menuju mesin ATM. Saya tunjukan cara memasukkan kartu, input nomor PIN, dan jelaskan menu apa saja yang tersedia. Setelah itu Rafa langsung mencoba sendiri untuk cek saldo.

    1. Belajar mengelola keuangan

Kenapa kami menyempatkan buka rekening sebelum libur lebaran? Karena saat lebaran anak-anak menerima THR dari saudara-saudaranya. Jadi begitu mereka terima uang, mereka mengerti bahwa akan lebih aman jika uang tsb disimpan di bank daripada disimpan di rumah atau dihabiskan untuk membeli makanan/pakaian/mainan/buku.

Kami bebaskan anak-anak untuk mengatur sendiri uang yang mereka dapat. Yang pasti Rafa dan Fayra paham bahwa mereka harus mengalokasikan berapa yang akan digunakan untuk membeli buku atau mainan, dan berapa yang harus ditabung. Alhamdulillah mereka menyisihkan 70% dari uang yang didapat untuk ditabung dulu, dan sisanya baru digunakan untuk membeli barang yang mereka inginkan.

Semoga kebiasaan menabung ini akan terus dibawa sampai mereka dewasa, apapun bentuk tabungan mereka nanti.

Note: bukan posting berbayar. bukan iklan Bank Permata.

Komposisi Pengeluaran Bulanan

Komposisi Pengeluaran Bulanan

Siang ini saya makan bersama 5 teman wanita dan berdiskusi sangat seru. Dimulai dari salah seorang teman yang masih single, bertanya “eh emang bulan depan idul adha ya? waah gw gak punya uang untuk beli kambing kurban. gw pikir masih lama

Biasa deh gw, naluri emak-emaknya keluar … bawel “laaahhh kemana aja lo? kalo elo rutin nyisihin 100rb/bulan diniatin utk kurban, harusnya setahun cukup tuh untuk beli kambing

Dilanjut deh “iya yah…duit gw kemana aja ya mbak? harusnya ngatur duit tuh gimana sih? komposisi pengeluarannya harus gimana?

Akhirnya jadi ngomongin financial plan deh. Yah walaupun saya bukan ahli bersertifikat, tapi pengalaman ikut financial planner selama 1 tahun cukup memberi saya wawasan. Bahkan sampai saat ini saya masih menerapkan semua ilmunya untuk mengatur keuangan keluarga.

Yang paling mendasar untuk mengatur keuangan, kita harus mengubah dulu pola pikir bahwa tabungan hanya diambil dari sisa uang yang ada. Yang benar adalah:

Pengeluaran = Pendapatan – Tabungan

Jadi kita harus menyisihkan uang untuk ditabung, dari pertama kita menerima gaji atau pendapatan.

Nah berapa yang harus ditabung?

Kalau bisa sih, minimal tabungan 10% dari pendapatan.

Sementara cicilan hutang maksimal 30% dari pendapatan. Yah gak  munafik lah, untuk keluarga pemula seperti saya, punya rumah dan kendaraan pribadi itu kadang harus memaksakan diri. Gak akan kekejar kalau kita beli rumah secara tunai dari hasil tabungan. Karena harga properti selalu meningkat setiap tahunnya. Sementara bunga tabungan gak pernah lebih dari 10%. Mau gak mau kita mengandalkan KPR dari bank, dengan cicilan 5-20 tahun.

Dengan komposisi tersebut, kita masih punya 60% untuk pengeluaran setiap bulan.

Kalau kita gak punya cicilan hutang, yang ditabung bisa jauh lebih besar lagi.

Untuk yang sudah berkeluarga, apalagi punya anak … sepertinya komposisi pengeluaran seperti ini yang ideal:

  • Tabungan 10% –> dibagi untuk tab dana darurat, tab pendidikan anak, tab pensiun, tab haji, tab rekreasi
  • Cicilan hutang 30% –> dibagi untuk cicilan rumah dan cicilan kendaraan (mobil / motor)
  • Pendidikan anak 20% –> dibagi untuk bayar SPP, antar jemput, les/kursus
  • Pengeluaran rutin 20% –> dibagi untuk belanja bulanan, listrik, telpon, PAM, gas, gaji pembantu, dll
  • Pengeluaran harian 20% –> digunakan untuk tranportasi harian, belanja dapur harian, makan siang dikantor, dll

Trus kapan senang-senangnya?

Nah tinggal diatur deh tuh 40% pengeluaran rutin dan hariannya.

Jangan sampai utak atik tabungan, apalagi mengorbankan kebutuhan pendidikan anak!

Kalau dirasa 40% itu gak cukup juga, maka perkecil lah cicilan hutangnya. Kalau bisa malah gak punya hutang.

Gak cukup juga? Silahkan perbesar pendapatan!

Cuma ada 2 jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang selalu dirasa kurang:

  1. Perkecil pengeluaran (turunin gaya hidup)
  2. Perbesar pendapatan (cari bisnis sampingan atau kerjaan baru yg gajinya lebih besar)

Mau pilih yang mana?

Dicoba yuk komposisi diatas. Lakukan secara rutin dan teratur deh. Rasakan sendiri bedanya. Kita akan sadar nantinya, bahwa ternyata kita bisa. Begitu lihat saldo tabungan … wuiiihh tambah semangat untuk memperbesar presentase tabungan.

Gak percaya? sok atuh dicoba!

Persiapan pindah rumah

Persiapan pindah rumah

Sejak pertama beli rumah tahun 2005, kami sudah membuat rencana bahwa rumah tsb hanya akan kami tempati untuk periode 5 tahun. Jadi kami mencari bentuk bangunan yang pas untuk keluarga pemula, dengan komposisi 2 kamar tidur + 1 kamar mandi + 1 kamar pembantu + 1 kamar mandi pembantu + dapur + ruang serbaguna (ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga). Walau bangunan tsb cuma 65 meter persegi dan tanahnya seluas 90 meter persegi.

Waktu itu Rafa tanya “abis ini kita pindah kemana lagi?

Wajar sih, karena sebelumnya kami sudah pindah 4 kali selama menjadi kontraktor (kontrak rumah sana sini). Tapi waktu itu kami bilang “liat nanti ya mas, sementara kita disini dulu”.

Setelah Fayra memasuki usia sekolah Playgroup (3thn), dan Rafa juga makin besar (9thn) … kamar tidur menjadi masalah diantara mereka.

Sering Fayra telpon siang cuma ngeluh “ma, aku gak bisa bobo siang nih. teman kakak dikamar semua gak pulang-pulang dari tadi

Biasa lah cowok-cowok yang udah beranjak remaja, senengnya ngumpul dikamar temannya. Kalo gak dikamar, ya pasti konvoi main sepeda atau main bola di lapangan sport center.

Pertengahan tahun lalu, kami mulai survey harga rumah dengan komposisi 3 kamar tidur. Gak cuma itu, kami pun langsung menghitung dan simulasi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli rumah tsb. Ketika sudah punya cukup rasa ‘percaya diri’, kami putuskan untuk membeli rumah baru.

Pergulatannya lumayan berat.

Kami ambil pinjaman di bank untuk melunasi rumah lama (yg kreditnya masih sisa 5 tahun) + DP rumah baru. Sambil kami mencoba menawarkan rumah lama. Alhamdulillah sebelah rumah bersedia membeli rumah. Dan uang tsb kami gunakan untuk melunasi utang di bank, sesaat sebelum kami memulai KPR rumah baru. Yaaakkkk gali lubang – tutup lubang – gali lubang baru lagi hihihihihi.

Kami berani nekat seperti itu karena hutang mobil sudah habis periodenya di bulan Feb kemarin. Jadi pengeluaran yang biasanya dipakai untuk bayar mobil, dialihkan untuk cicilan rumah baru. Jadi hutang sekarang cuma 1 … RUMAH BARU.

Ketika masalah utang piutang sudah selesai, dan bisa tarik napas lega … kami memulai hidup baru hanya dengan 1 hutang aja.

Untuk pindah sekolah, saya sudah tulis disini gimana repotnya mencari sekolah baru … yang semuanya diluar prediksi kami. Untuk biaya nya, alhamdulillah tabungan pendidikan anak-anak memang dijadwalkan cair bulan Feb 2010. Jadi tepat waktu, hanya tinggal menambah sebagian yang diluar rencana saja.

Ternyata urusan pindah rumah belum berhenti sampai disitu.

Rumah baru kami tidak memiliki kamar tidur dan kamar mandi untuk pembantu. Jadi kami harus menambah sedikit bangunan dibelakang, yang artinya renovasi. Dan untuk membayar DP renovasi kami harus menguras tabungan yang ada. phieewwhhh.

Perintilannya berdatangan dari mulai biaya pembuatan kitchen set, korden, teralis, furniture untuk kamar Rafa, pembuatan taman depan dan belakang, water heater, tambah AC dan lain-lain.

Semakin mendekati kesiapan rumah yang direncanakan akhir Juni selesai renovasi, kepala saya semakin pusing. Kami tau bahwa semua perintilan itu tidak harus dipenuhi dalam waktu singkat. Tapi tetap aja begitu survey dan tau perkiraan biaya … kepala saya langsung nyut-nyutan. hahahaha

Belum lagi urusan packing dan kendaraan angkut barang nanti. Wuiihhh

Kami hanya punya waktu 2 bulan kedepan, karena kami ingin hidup disana saat tahun ajaran baru di sekolah anak-anak mulai. Karena saya dan suami adalah pekerja luar rumah, otomatis hanya punya waktu libur sabtu dan minggu. 2 bulan x 4 akhir pekan …. bukan waktu yang banyak. Belum lagi dipotong antar anak-anak les, ngemal, acara pentas akhir tahun, ambil raport, acara keluarga. hedeeehhh. Jadi wajar kan kalo saya harus mulai packing dari sekarang? Yah cukup mengisi 2 kardus setiap akhir pekan. Supaya nanti tidak panik dan kecapekan.

Ada teman yang bilang “gila lo banyak duit banget de. Abis beli rumah, masukin anak-anak ke sekolah internasional, liburan ke luar negeri, renovasi … kaya nya duit gak berseri gitu tuh

Saya cuma tersenyum dan mengucap alhamdulillah.

Modalnya adalah perencanaan keuangan yang matang (uang liburan udah disiapkan dari tahun lalu, beli tiket – voucher hotel – USD dilakukan sebelum beli rumah baru), nekat (musti ngukur kemampuan dan lihat peluang), rajin survey cek harga lebih murah sana sini.

Orang kan hanya lihat hasil akhirnya aja, gak tau perjuangan jumpalitan selama proses pencapaiannya. Tidak ada hasil yang instant. Semua harus diawali dengan tekad kuat dan dilanjutkan dengan kerja keras juga gak putus berdoa mohon kelancaran. Insya Allah apapun bisa kita wujudkan.

Sementara segitu dulu sharing tentang pindah rumahnya. Nanti dikabarin lagi kalo ada perkembangan lain. Atau ada yang mo bantuin? bantu packing boleh, bantu angkut barang nanti pun boleh, bantu kasih pinjaman lunak lebih boleh banget hehehehe