Browsed by
Category: Sekolah Anak

Alhamdulillah Mas Rafa Mau Kuliah

Alhamdulillah Mas Rafa Mau Kuliah

Foto kiri diambil tahun 2004 ketika hari pertama Rafa masuk sekolah Playgroup. Sampai TK, beberapa kali mamade dipanggil kepala sekolah karena Rafa dianggap “pengganggu” yang gak bisa duduk manis di kelas.

Ketika kami bawa ke psikolog, ternyata Rafa tergolong anak Super Aktif (di bawah hyper) dan Kinestetis. Kombinasi kece yang bikin ortu ngos2an deh 😅.

Akhirnya disarankan utk menyalurkan energi Rafa ke olahraga (bola & renang), musik (gitar atau drum) dan supaya diam di kursi saat pelajaran berlangsung … Rafa disuruh memainkan alat tulis. Kalo gak gambar, ya puter2in pensil pake jari.

Saat belajar di rumah, Rafa gak bisa tuh yang duduk diam dan membaca buku.

Jadi Mamade yang selalu membacakan buku dan memberikan soal dalam bentuk lisan, dia mendengarkan dan mengerjakan sambil main mobil2an atau skateboard keliling rumah. Pokoknya mah banyak tepok jidat dan elus dada melihatnya 🙈

Foto kanan diambil di Bandung saat kami mudik tahun lalu, disempatkan mengunjungi ITB ke bagian informasi untuk tanya jalur masuk dan persyaratannya. Kami juga mendatangi beberapa bimbel di sekitarnya untuk mengumpulkan informasi persiapan masuk ITB.

Rafa juga hadir waktu beberapa orang direktur ITB datang ke Qatar bulan November 2018 untuk sosialisasi Program Internasional (jalur masuk ITB khusus bagi WNI di LN dan WNA).

Keinginan Rafa dari SMP gak goyah, mau kuliah di ITB pokoknya.

Kami sampai bilang “Dari Qatar ke Eropa itu lebih dekat dan tiketnya juga lebih murah daripada ke Indonesia. Kamu gak pingin kuliah di Eropa aja?. Tanggung loh, mas … udah sampai sini kita

Anaknya malah bilang “kalo universitas di negeri sendiri, world rank-nya lebih tinggi … untuk apa aku kuliah di negara lain“.

Dia gak mau cuma sekedar gengsi kuliah di luar negeri yang rank universitasnya masih di bawah ITB.

Tapi Rafa juga tau diri dan mengukur kemampuan otaknya juga dompet bapaknya. Rafa belum tertarik untuk kuliah di negara mahal seperti Amerika, Canada, Inggris, Singapura dan Australia. Dia bilang “nanti aja aku cari beasiswa S2 untuk lanjut kuliah di sana“.

Awalnya sempat kekeuh mau jurusan Aristektur atau FSRD yang ternyata gak ada jalur internasionalnya, akhirnya 2 minggu sebelum pendaftaran tutup … Rafa banting setir daftar 2 jurusan lain : Mechanical dan Aerospace Engineering.

Rafa tidak bisa ikut SBMPTN karena syaratnya harus punya NISN (nomor induk siswa nasional) dan minimal harus 5 semester bersekolah di SMA Indonesia. Rafa cuma sempat menjalani 3 semester SMA di Indonesia, sisanya di Qatar.

Selaku orangtua, kami sempat kesal melihat dia gak mau daftar universitas lain dengan alasan “kalo ditolak gelombang pertama ITB, baru aku mau daftar Belanda dan Malaysia”. Gemes gak sih dengernya 🤦🏻‍♀️

Alhamdulillah tanggal 18 April, dapat juga Letter Of Acceptance dari ITB.

Alhamdulillah ikhtiar Rafa menjaga grafik nilai raport selama SMA harus nanjak setiap semesternya, IELTS dan SAT lebih tinggi dari nilai minimal yang diminta bbrp kampus favorit, juga doa dari sekelilingnya … Allah mudahkan jalan dan membuahkan hasil sesuai keinginannya. Hingga Rafa bisa diterima ITB tanpa tes.

Masya Allah … Tabarakallah.

Alhamdulillah yaa Karim.

Lega banget, akhirnya sekarang saya bisa mulai hunting tiket mudik ke negara tercinta.

Setahun Pertama Sekolah Di Qatar

Setahun Pertama Sekolah Di Qatar

Alhamdulillah kekhawatiran akan proses adaptasi anak-anak terutama di sekolah, sudah mulai mengikis.

Banyak orang yang bilang “tenang aja, orang Asian pasti unggul lah di sekolah internasional”.

Mungkin kalo masih di bawah kelas 6 SD iya, proses adaptasi anak akan lebih mudah.

Tapi untuk remaja, terutama Rafa yang pindah kelas 2 SMA (grade 11) … butuh usaha lebih keras untuk penyesuaian proses belajar di sekolah.

Alhamdulillah bulan Juni 2018 … raport pertama Rafa mendapat penghargaan nilai tinggi di kelas, sementara Fayra dapat penghargaan nilai tinggi di kelas sekaligus di angkatannya.

Penghargaan ini biasa diberikan sekolah berkurikulum Amerika dengan ketentuan:

  • Principal’s Honor Roll

Seluruh mata pelajaran harus memiliki nilai minimal A- (90).

  • High Honor Roll

Setiap mata pelajaran harus memiliki nilai minimal B (83) dan nilai rata-rata seluruh pelajaran minimal A- (90).

—-

Bulan September 2018, merupakan tahun ajaran baru di Qatar.

Untuk tingkat High School, sekolah menerapkan kelas Honor dimana semua murid dengan nilai terbaik di sekolah dikumpulkan. Kalau di Indonesia, kita mengenalnya sebagai Kelas Unggulan.

Karena 1 angkatan hanya ada 3 kelas (A-B-C), maka kelas A dibuat sebagai Honor Class.

Ketika pertama kali masuk sekolah ini, Rafa dimasukkan ke dalam kelas C untuk Grade 11. Pihak sekolah memantau perkembangan Rafa selama 6 bulan pertama. Begitu raport Rafa menunjukkan nilai yang cukup tinggi, maka untuk Grade 12 Rafa dimasukkan ke dalam kelas A (Honor Class).

Sebulan pertama di kelas ini, Rafa lumayan kewalahan. Ternyata kelas ini memang luar biasa. Pelajaran  yang diberikan untuk Honor Class memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari kelas lain, oleh karena itu bobot nilai yang diberikan juga berbeda:

  • Regular Class
    • A = 4 points
    • B = 3 points
    • C = 2 points
    • D = 1 poin
    • F = 0
  • Honor Class
    • A = 5 points
    • B = 4 points
    • C = 3 points
    • D = 2 poin
    • F = 0

Ada beberapa anak yang minta keluar dari Honor Class, dan pindah ke kelas sebelah (B atau C). Mereka merasa kesulitan dengan pelajaran yang diberikan di Honor Class dan memilih berada di Regular Class.

Rafa memutuskan untuk bertahan di kelas ini dengan berusaha lebih keras lagi. Alhamdulillah sampai saat ini Rafa masih berada di Honor Class dengan nilai yang terus meningkat.

—-

Bulan Desember 2018, seperti biasa kami menerima Monthly Newsletter dari sekolah. Ini semacam koran sekolah yang dibuat secara digital dan dikirim ke orangtua murid melalui email setiap bulannya.

Kami menemukan karya Fayra sebagai 3 gambar terbaik di kelas seni, sementara nama Rafa tertulis sebagai murid terbaik bulan Desember 2018.

Student of The Month tidak hanya diberikan untuk siswa dengan nilai terbaik, tapi penghargaan ini diberikan untuk siswa yang dianggap bisa menjadi contoh bagi murid lain baik secara akademik maupun secara sosial.

Kebetulan sebulan terakhir memang Rafa sibuk menjadi panitia acara sekolah yaitu School Fair 2018. Dimana Rafa bertugas mencari partner yang bersedia menjadi sponsor di acara sekolah (salah satu diantara yang berhasil mereka dapatkan adalah perusahaan eskrim ternama Baskin Robbins). Rafa juga bekerja sama dengan teman-temannya untuk membuat website dan berbagai material promosi acara ini. Alhamdulillah acara berjalan lancar, pengunjung berlimpah … dan kami (papa mamanya) sampai kesulitan menemui anak ini karena dia sibuk mondar mandir sebagai panitia acara.

—-

Kami memahami bahwa proses adaptasi mereka tentu tidak mudah, tapi masya Allah kami sungguh terharu dengan kerja keras anak-anak selama setahun pertama sekolah di Qatar.

Alhamdulillah ya Allah.

Keep making yourself proud, kiddos … and we will be more proud of you! 😘😘

Rafa Kuliah Di Mana?

Rafa Kuliah Di Mana?

Kalau di Indonesia, pertanyaan “Mau kuliah di mana?” biasanya diajukan ketika seorang anak sudah naik kelas 3 SMA.

Begitu kami hidup di Qatar, anak-anak yang bersekolah di British atau American School sudah mempersiapkan diri 2 tahun sebelum kuliah. Selain merancang nilai raport yang diusahakan nilai meningkat setiap semester (grafik meningkat selama di SMA), mengambil International Standard Test (seperti TOEFL, IELTS, IGCSE, A-Levels, SAT) dan mereka juga mempersiapkan essay (dengan tema “kenapa saya mau kuliah di kampus X untuk jurusan Z“).

Rafa pindah sekolah ke Qatar saat menjalani tahun ke 2 SMA (kelas 11 masuk semester 2). Dia hanya punya waktu 1 tahun untuk mempersiapkan diri seperti anak-anak lain di sini. TOEFL sudah diambil di Jakarta saat mudik lebaran. IELTS akan ditempuh bulan ini. SAT akan diambil bulan Maret nanti. Alhamdulillah nilai raport sudah dijaga dan terus menanjak grafiknya. Tinggal menyusun essay aja yang belum sempat dikerjakan. Karena di kelas akhir HighSchool (Senior Class), banyak tugas-tugas harian juga yang musti dilakukan yang bentuknya sering berupa research (laporan ditulis dalam bentuk essay sekian ratus kata) atau presentasi.

Kalo di Indonesia paling sibuk bimbel tiap pulang sekolah nih. Di sini gak umum tuh anak SMA ambil bimbel atau guru privat sepulang sekolah. Yang namanya belajar ya di sekolah aja. Sisa waktunya belajar sendiri di rumah.

Ketika kami tanya “kamu mau kuliah di mana, mas?

Anaknya menjawab “kek nya aku pingin pulang dan kuliah di Indonesia aja deh

Keputusannya bulat, mau kuliah jurusan Arsitektur.

Beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menawarkan beberapa progam internasional untuk anak Indonesia di Luar Negeri, di antaranya:

  • UI

  • ITB

  • UGM

Syarat kuliah Program Internasional:

  • IBT TOEFL min score 61 atau IELTS min score 5.5
  • General SAT 
  • Nilai raport 5 semester atau 3 tahun terakhir

Sayangnya jurusan yang diminati Rafa belum ada program internasionalnya.

Ikut SBMPTN dong?

GAK BISA, karena syarat ikut SBMPTN itu minimal harus 5 semester menempuh SMA di Indonesia. Sementara Rafa cuma sempat merasakan 3 semester di Indonesia.

Ingin tahu biaya kuliah per semester di Indonesia tahun 2018?

Tabel tersebut dibuat oleh salah satu lembaga keuangan yang menawarkan produk asuransi pendidikan. Karena tabel ini merupakan literasi keuangan, sudah pasti ditampilkan biaya paling mahal atau biaya rata-rata yang ada di beberapa kampus. Dan tentunya biaya kuliah bisa beragam tergantung jurusan juga jalur masuk yang ditempuh.

Melihat biaya kuliah program internasional di PTN dan kuliah reguler di universitas swasta Indonesia yang sudah cukup mahal … untuk informasi aja nih … uang masuk Arsitek UnPar Bdg tahun 2018 sudah 46jt. Sementara biaya per semester juga beberapa juta. Biaya ini sama dengan biaya kuliah universitas bergengsi di negara tetangga. Akhirnya sebagai alternatif, sekarang kami mulai melirik universitas di negara lain yang biayanya tidak jauh beda dengan universitas swasta di Indonesia.

Seorang teman yang baru pulang liburan dari Amerika dan kebetulan ikut program “MIT open house” mengirimkan foto biaya masuk universitas tsb melalui WA ke suami saya:

Mari kita hitung kursnya:

Biaya ini adalah biaya kuliah per TAHUN.

Mereka menawarkan beasiswa, tapi tidak ada yang diskon 100%. Tetap ada biaya yang harus kita siapkan sekitar 15-30 ribu USD per tahunnya.

Kami sempat mengunjungi beberapa pameran pendidikan di Qatar, saya share hasilnya siapa tau ada yang butuh informasinya.

Pendidikan Amerika:

  • Biaya pendidikan per tahun rata-rata $20-55 ribu
  • Biaya hidup per tahun rata-rata $10-15 ribu
  • Total dana yang dibutuhkan sekitar $35-70 ribu per tahun

Pendidikan Malaysia:

  • Biaya pendidikan per tahun rata-rata $3.500 – 6 ribu
  • Biaya hidup per tahun rata-rata $5-8 ribu
  • Total dana yang dibutuhkan sekitar $8-14 ribu per tahun

Sekali lagi musti saya tekankan biaya pendidikan tentunya tergantung jurusan dan kampus pemerintah atau swasta ya.

Sementara untuk biaya hidup itu sudah termasuk penginapan (kos, asrama kampus atau sharing apartment), makan, ongkos transportasi, buku, dll. Biaya ini akan sangat tergantung dari GAYA HIDUP SISWA tentunya. Akan lebih irit kalau siswa bisa masak sendiri, nyambi kerja paruh waktu, rajin nongkrong di perpustakaan daripada beli buku, dll.

Pendidikan di Malaysia mirip dengan Eropa, programnya 1 + 3 tahun.

Jadi ada 1 tahun Foundation atau yang biasa disebut Pre-Uni / Pre-College, bisa di-skip kalau anak menempuh SMA di British Curriculum School sampai year 13 juga memiliki nilai IGCSE A-Levels.

Indonesia dan Amerika menganut SMA sampai kelas 12, jadi wajib ambil 1 tahun foundation kalau mau kuliah di negara-negara tsb.

Kemudian lanjut jejang universitas selama 3 tahun.

Biaya pendidikan di Eropa dan Canada tidak jauh beda dengan Amerika. Kebetulan beberapa kampus dari Inggris sudah datang ke sekolah Rafa untuk presentasi program mereka ke murid-murid SMA.

Sebenarnya kami sudah mempersiapkan tabungan pendidikan yang insya Allah cukup untuk bayar kuliah Rafa di Indonesia. Cuma kami lagi deg-degan kalau Rafa diterima kuliah di negara mahal. Hehehe.

Kami mengIMANi matematika Allah SWT yang tidak ada yang bisa menandingi jika DIA sudah berkehendak.

Toh kami belok ikhtiar menjemput rezeki ke negeri gurun ini juga bagian dari menjalani salah satu skenario Allah SWT. Kami yakin insya Allah, ada rencana lain yang sudah disiapkanNYA. Kami hanya tinggal memantaskan diri dengan berusaha dan berdoa.

Dari 8 macam rezeki yang tertulis di atas, tinggal kencengin aja ikhtiarnya. Insya Allah sudah dijaminNYA. Gak usah takut!

Justru yang gak dijamin Allah SWT itu surgaNYA.

Ini yang bikin takut.

Raport Pertama Di Qatar

Raport Pertama Di Qatar

Alhamdulillah anak-anak sudah melalui setengah semester di sekolahnya dan menerima raport pertamanya kemarin.

Pihak sekolah membagikan lembaran hasil test MAP dan nilai seluruh pelajaran dalam bentuk print-out, bukan buku seperti keluaran DikNas Indonesia. Raport diserahkan ke anak-anak dan hari itu mereka pulang lebih cepat dari biasanya. Jam 12:30 sudah bubar karena guru-guru mempersiapkan diri untuk Parents Teachers Conference (PTC) di sore harinya.

Pertemuan orangtua dan guru di sekolah ini tidak diwajibkan, biasanya orangtua datang karena ada hal yang harus didiskusikan dengan guru terkait dengan raport yang diterima murid.

Bedanya dengan sekolah di Indonesia yang kalau ambil raport atau pertemuan orangtua dan guru diselenggarakan pagi sampai siang hari, di Qatar orangtua diminta datang jam 16:30 sampai jam 19:30.

Kalau di Indonesia, orangtua murid cukup datang ke walikelas saja … di Qatar kita mendatangi guru dari setiap mata pelajaran. Tenang … pelajaran di sini gak sebanyak di Indonesia kok.

Total cuma ada 9 pelajaran:

  1. Art Language (sastra Inggris) untuk Rafa, English untuk Fayra
  2. Pre-Calculus untuk Rafa, Math untuk Fayra
  3. Chemistry (kimia) untuk Rafa, Science (Ilmu Pengetahuan Alam) untuk Fayra
  4. US History untuk Rafa, Social (Ilmu Pengetahuan Sosial) untuk Fayra
  5. World 2nd Language (Rafa ambil Arabic, Fayra ambil French)
  6. ICT (komputer)
  7. PE (olahraga)
  8. Islamic Studies (untuk muslim)
  9. Optional (Rafa ambil Music, Fayra ambil Art)

Pelajaran kedua anak ini tidak sama karena Rafa duduk di kelas 11 (High School), sementara Fayra di kelas 6 (Middle School). SD standar Amerika (Elementary School) cuma sampai kelas 5, jadi meski baru kelas 6 Fayra masuk ke dalam Middle School. Saya sudah cerita kan yah, kalau anak-anak sekolah di salah satu American Curriculum School?

Saya dan paksuami tiba di sekolah jam 5. Sampai di lobby sekolah, masguh mengambil foto denah yang berisi nama guru anak2 untuk tiap pelajaran dan posisi ruang kelasnya. Kebetulan sekolah ini menerapkan sistem “Moving Class”, jadi anak-anak selalu pindah ruangan kelas sesuai dengan mata pelajaran.

Kami hanya mendatangi guru yang sekiranya anak-anak mengalami kendala dilihat dari nilai atau komentar guru yang tertulis di lembar raport.

Pertemuan orangtua murid dengan guru ini memang tidak wajib. Kalau merasa nilai anak-anak cukup OK dan anak tidak ada keluhan selama belajar di sekolah, orangtua tidak perlu datang sih. Tapi karena anak-anak baru mengalami tinggal dan sekolah di luar Indonesia pertama kali, kami merasa butuh bertemu dengan pihak sekolah untuk mengetahui proses adaptasi anak-anak di 3 bulan pertamanya.

Alhamdulillah komentar guru-guru sangat baik, anak-anak malah dibilang cukup bagus proses adaptasinya. Awalnya pihak sekolah sempat khawatir karena anak-anak masuk di tengah tahun ajaran, tapi ternyata anak-anak bisa mengikuti proses belajar dengan lancar tanpa perlu pendampingan khusus dari guru.

Language barrier (kesulitan berkomunikasi) yang awalnya sempat kami khawatirkan, ternyata tidak kejadian sama sekali. Anak-anak malah dianggap bisa berkomunikasi dengan sangat baik, tulisan tangan mereka bagus, bisa presentasi di depan kelas dengan lancar, aktif dalam mengerjakan tugas kelompok, mengumpulkan semua tugas tepat waktu, sebagian besar nilai mereka pun di atas nilai rata-rata kelas.

Yang perlu ditingkatkan hanya kemampuan anak-anak dalam menulis esai. Ini pengaruh pendidikan Indonesia yang tiap ulangan atau tes, biasanya disajikan dalam bentuk soal pilihan ganda. Sementara kalau sekolah Amerika sebagian besar soal diberikan dalam bentuk esai.

Anak-anak tidak biasa mendeskripsikan sesuatu secara panjang lebar, harus mulai membiasakan diri sekarang. Apalagi untuk Rafa yang tahun depan sudah harus masuk universitas, kemampuan menulis laporan lebih dari 500 kata dan membuat slide presentasi menjadi makanan sehari-hari.

Bagaimana cara meningkatkan kemampuan menulis esai? Harus rajin membaca buku, katanya.

Pihak sekolah menghimbau anak-anak untuk membaca buku minimal 20 menit per hari. Hal ini bermaksud untuk menambah kosakata dan mempelajari gaya penulisan.

Kami menyadari banyak orangtua yang memiliki pedoman “nilai sekolah itu gak penting, nilai bukan satu-satunya jalan menuju sukses

Kalau kami berdua justru sepakat bahwa “nilai merupakan tolok ukur kemampuan anak dalam memahami pelajaran yang diberikan di sekolah”. Kalau nilai anak di bawah rata-rata nilai kelasnya, berarti anak-anak memiliki masalah dalam memahami apa yang dipelajari di sekolah. Harus dicari tau penyebabnya dan cara mengatasinya.

Apalagi untuk Rafa yang mau kuliah tahun depan, harus memastikan nilainya cukup untuk bisa diterima di universitas dan jurusan yang diinginkannya.

Perusahaan yang bagus, memilih calon karyawan yang memiliki latar belakang pendidikan dari sekolah yang bagus (ternama dan diakui lulusannya). Universitas yang bagus memilih anak yang memiliki prestasi bagus di sekolah sebelumnya.

Soft skill (kemampuan berkomunikasi/berinteraksi, kemampuan menyelesaikan sebuah masalah, kemampuan membawa diri, dll) sangat dipengaruhi dengan kondisi lingkungan pendidikan seseorang.

Bagaimanapun nilai atau kemampuan akademik menjadi faktor penting juga dalam menentukan masa depan anak-anak nanti. Jadi tidak bisa dianggap hal sepele. Ini sih kesepakatan antara saya dan suami dalam menentukan pendidikan bagi anak-anak kami yaa. Silakan kalau memiliki pendapat yang berbeda.

Eh kok jadi ngelantur kemana-mana gegara cerita ambil raport anak-anak di sekolah ya …. hehehe.

Membahas perkembangan 2 anak dengan beberapa guru dan ditutup dengan bertemu kepala sekolah untuk membahas strategi yang harus dilakukan Rafa dalam mempersiapkan diri mencari universitas pilihannya … memakan waktu total 3 jam!

Kami tiba di sekolah jam 5 sore, baru pulang jam 8 malam. Karena kami harus mondar mandir keliling cari ruangan dan antri di tiap-tiap ruangan guru.

Ibu di sebelah saya tiba jam 2 siang di sekolah, selesai di jam yang sama dengan kami … karena anaknya ada 4 di sekolah itu.

Alhamdulillah ternyata … punya anak sedikit juga hahahaha.

Yang pasti kami bersyukur begitu mengetahui anak-anak tidak ada masalah berarti dalam proses adaptasi di negara ini. Kami sangat menghargai usaha anak-anak dalam melakukan yang terbaik dengan kondisi yang pasti tidak mudah bagi mereka. Masya Allah … alhamdulillah ya Allah.

Semoga ke depannya anak-anak bisa menjalani kehidupan di sini dengan lebih baik. Allahuma aamiin.

Sekolah Anak di Doha

Sekolah Anak di Doha

Sudah baca bagaimana pusingnya mencari sekolah di Qatar, terutama untuk anak yang berusia di atas 15 tahun kan?

Sebelum membawa anak-anak ke Qatar, saya sudah mencari informasi tentang beberapa sekolah dan mengirim email ke 8 sekolah untuk menanyakan ketersediaan kursi kelas 11 bagi Rafa. Dan saya hanya menerima balasan dari 2 sekolah saja, yang mana sekolah itu meminta anak-anak datang ke Qatar untuk tes masuk sementara sekolah yang satunya menyatakan bisa test online tetapi begitu saya cek biaya sekolahnya di luar kemampuan kami.

Akhirnya sesuai kesepakatan dengan paksuami, saya berangkat duluan tanpa membawa anak-anak untuk mencari sekolah sekaligus rumah. Kami merasa berat jika membawa anak-anak ke Qatar hanya sekedar untuk tes masuk sekolah. Tiket pesawat untuk kami bertiga JKT-DOH-JKT, membutuhkan uang 50 juta rupiah. Iya kalo anak-anak langsung diterima sekolah, kalo enggak gimana? Kan mending lanjut sekolah di Indonesia secara mas Rafa sudah kelas 2 SMA.

Saya mendatangi 8 sekolah internasional yang menggunakan English sebagai bahasa pengantar proses belajar-mengajar, tetapi hanya 2 sekolah yang bersedia memberikan form pendaftaran. Sementara 6 sekolah lainnya meminta kartu QID anak-anak, sementara kami belum punya.

2 sekolah ini mau memberikan form pendaftaran setelah pertanyaan “apa Anda yakin sebelum Term 2 dimulai, anak-anak Anda sudah mempunyai QID?” saya jawab YAKIN, insya Allah.

Saya jelaskan ke mereka kalo anak-anak masih di Indonesia karena mereka masih mengikuti ujian semester 1 dan baru akan menerima rapor di pertengahan Desember 2017. Secepatnya setelah itu, anak-anak baru akan berangkat ke Qatar. Mereka memperkirakan di Januari 2018, anak-anak sudah bisa punya QID. Jadi dengan senang hati mereka menerima pendaftaran dan memastikan memang ada kursi tersedia untuk kelas 6 dan kelas 11.

Akhirnya saya mengisi formulir pada 2 sekolah ini:

  • Sekolah pertama merupakan British School
  • Sekolah kedua merupakan American School

Anak-anak datang di akhir bulan Desember 2017, dan baru akan test masuk sekolah di awal Januari 2018.

Jika masuk sekolah British, Fayra yang berusia 11 tahun akan masuk di Term 2 – Year 7. Sementara di sekolah American, Fayra masuk di Semester 2 – Grade 6 (sama seperti di Indonesia). Year 7 atau Grade 6 di Qatar sudah masuk kategori Secondary/Middle School, padahal kalo di Indonesia kelas 6 itu masuknya masih di Primary School (SD).

Jika masuk sekolah British, Rafa yang berusia 16 tahun akan masuk di Term 2 – Year 12. Sementara di sekolah American, Rafa masuk di Semester 2 – Grade 11 (sama seperti di Indonesia).

Sulit bagi Rafa kalau masuk sekolah British karena kebanyakan sekolah di Qatar hanya menerima murid pindahan maksimal di Year 10. Kalau Rafa masih lanjut di International School di BSD masih lumayan deh, sesama Cambridge bisa transfer nilai. Tapi kan 1,5 tahun terakhir Rafa pindah ke SMA Negeri.

Program IGCSE sendiri harus mengikuti paket Year 10-11 atau Year 12-13. Sebagian besar sekolah menyarankan Rafa untuk turun ke Year 10, karena penjurusan sudah dimulai saat Year 10 dan ada ujian IGCSE yang harus ditempuh di Year 10 bulan Mei. Tanpa nilai ujian tersebut, Rafa tidak bisa langsung masuk di Year 12 sesuai usianya. Akan berat bagi Rafa kalo langsung ujian A-Levels di Year 13.


Saat anak-anak dibawa ke sekolah pertama yang sudah saya daftarkan (British School), Rafa melihat sekeliling dan menatap calon teman-temannya yang berkeliaran di lingkungan sekolah sambil berbisik ke saya, “Ma, I don’t get a good vibe here“. Gak lama paksuami berbisik ke saya “feeling ku kok gak enak di sekolah ini ya?“. Jadi saya mengurungkan niat untuk melengkapi dokumen yang dibutuhkan dan membayar biaya tes masuk. Saya percaya insting mereka.

Tapi begitu dibawa ke sekolah kedua (American School), Rafa dan Fayra kompak bilang “nah … boleh nih. Di sini aja, ma“. Saya langsung membayar biaya tes masuk di sekolah ini.

Alhamdulillah setelah mengerjakan lembar ujian Bahasa Inggris dan Matematika selama 2 jam dan menunggu hasilnya selama 2 hari, kami menerima email yang menyatakan anak-anak diterima.

Seminggu kemudian kami diminta datang ke sekolah melengkapi kekurangan dokumen supaya sekolah bisa mendaftarkan anak-anak ke Ministry of Education. Begitu sekolah mendapat email approval dari MoE, kami pun diminta datang lagi ke sekolah untuk membayar uang sekolah:

  • Registration Fee
  • Security Deposit
  • Annual Fee (dibayar setengah karena anak-anak masuk di semester 2)
  • Books Fee

Kebetulan pertengahan Januari sekolah baru ujian semester 1 dan akhir Januari sekolah libur akhir semester 1, sementara anak-anak kami sudah mempunyai nilai rapor semester 1 dari Indonesia. Jadi anak-anak mulai sekolah tanggal 5 Februari 2018, menunggu awal semester 2 sekolah dimulai.

Akhirnya anak-anak kami jadi masuk di salah satu American School yang lokasinya sekitar 8 KM dari rumah. Sementara kami belum memiliki kendaraan pribadi, anak-anak naik taksi langganan sebagai transportasi ke sekolah yang memang supirnya sudah kami percaya.


Hari pertama pulang sekolah, wajah anak-anak muram karena ternyata mereka langsung mendapat PR esai.

Tidak seperti sekolah di Indonesia yang lagi tren untuk tidak memberikan PR bagi anak-anak tetapi jam sekolah digeber sampai sore, sekolah di Qatar justru rajin memberikan PR esai dan menghimbau anak-anak untuk selalu membaca buku minimal 20 menit per hari.

Sepertinya memang di sini menerapkan sistem pendidikan seperti di negara barat yang lebih mengutamakan pemahaman logika,  membiasakan anak untuk mendeskripsikan pemikirannya, meningkatkan sikap kritis anak dan melatih anak untuk terbiasa menulis … jadi tugas sekolah kebanyakan berupa esai yang harus ditulis anak-anak secara manual, diluar tugas presentasi yang harus dikirim berupa file.

Saya memberikan pengertian ke anak-anak, bahwa menulis esai itu sangat dibutuhkan ketika mereka melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas dimana tugas akhir dibuat dalam bentuk tulisan yang bisa mencapai ratusan lembar. Lama kelamaan anak-anak makin terbiasa menulis esai dan tidak mengeluh lagi.


Alhamdulillah kemampuan bicara dan menulis bahasa Inggris anak-anak kami dianggap sudah cukup setara dengan teman sebaya. Sehingga di hari ke 2 sekolah pun, anak-anak sudah diberikan kebebasan untuk memilih bahasa kedua dalam mata pelajaran World Language. Ada hikmahnya juga anak-anak pernah bersekolah di International School di BSD bertahun-tahun yang memang sehari-hari menggunakan bahasa Inggris.

Ada anak teman kami yang sewaktu di Indonesia belajar di salah satu sekolah agama ternama, sampai sini si anak tidak boleh mengambil World Language … tetapi malah mendapat tambahan pelajaran Bahasa Inggris selama 3 bulan pertama karena dianggap kemampuan bahasa Inggrisnya belum setara dengan teman sekelasnya. Di sekolahnya waktu di Indonesia, belajar bahasa Inggrisnya kan pasive (hanya di hari dan jam tertentu, tidak digunakan sebagai percakapan sehari-hari). Setelah kemampuan English meningkat, bulan ke 4 baru si anak baru diperbolehkan untuk mengambil bahasa kedua di kelas World Language.

Sebulan pertama di Qatar, kalau Fayra bertemu anak-anak teman kami selalu diajak bicara dalam bahasa Indonesia. Mereka justru kaget ketika Fayra berbicara bahasa Inggris sambil bertanya “Owh you can speak English?

Fayra sambil tertawa menjawab “Of course, I speak English since I was 4 years old

Mereka bilang, “biasanya anak teman orangtua kita yang baru datang ke Doha pada gak bisa English. Makanya kita ajakin ngomong bahasa Indonesia.

Setelah itu mereka ketawa bareng dan sampai sekarang gak pernah ngobrol dalam bahasa Indonesia lagi, karena mereka agak sulit kalo ngomong dalam bahasa Indonesia. Harus mikir dan ada proses mengartikan sebelum mulut bersuara, secara mereka sudah tinggal di Qatar lebih dari 5 tahun dan menggunakan bahasa Inggris sehari-hari untuk berinteraksi dengan orang lain.

Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada teman-teman yang lebih dulu tinggal di Qatar yang mengingatkan anak-anak mereka untuk mengajak ngobrol anak baru dengan bahasa Indonesia supaya tidak kaget. Saya pun meminta anak-anak untuk melakukan yang sama, dengan menekankan “tidak semua anak Indonesia yang baru datang ke Qatar memiliki kemampuan bahasa Inggris sama dengan kalian, jadi dekati mereka dengan bahasa Indonesia“.

Di hari kedua sekolah Fayra memilih FRENCH sebagai bahasa kedua dalam kelas World Language, katanya untuk persiapan kuliah fashion di Perancis kelak.  Mohon bantu aminkan ya, anak ini masih kekeuh mau jadi designer ^_*.

Sementara Rafa memilih ARABIC karena sudah tau huruf dan cara pelafalan sehingga tinggal mempelajarai kosakata dan tata bahasanya saja. Kemampuan bahasa Perancis teman-teman Rafa sudah jauh dan tidak mungkin dikejar dalam waktu 1 tahun, sisa waktu yang dimiliki Rafa untuk menyelesaikan jenjang pendidikannya di SMA.


Hanya ada 3 kelas di setiap angkatan, dan tiap kelas memiliki murid maksimal 25 anak. Fayra memiliki 1 teman Indonesia di kelasnya yang kebetulan bapaknya juga bekerja di perusahaan yang sama dengan papa Fayra. Sementara angkatan Grade 11, cuma Rafa yang berasal dari Indonesia. Teman-temannya kebanyakan berasal dari negara kawasan Arab, Nepal, Filipina, Amerika, Mexico, dan negara lain.

Rafa sempat bete kalo di jam istirahat, teman-temannya ngobrol dalam bahasa Arab sementara dia bengong gak mengerti yang diperbincangkan. Alhamdulillah sekarang Rafa sudah memiliki teman-teman yang mengajaknya ngobrol dalam bahasa Inggris.


Beberapa hari lalu saat pulang sekolah, Fayra menceritakan kalo di sekolah diselenggarakan tes MAP.

Measure of Academic Progress (MAP), is a computerized adaptive test which helps teachers, parents, and administrators improve learning for all students and make informed decisions to promote a child’s academic growth.

Tes berbasis komputer ini berisi soal Bahasa Inggris dan Matematika. Komputer yang akan menyesuaikan tingkat kesulitan soal berdasarkan jawaban anak terhadap soal sebelumnya. Jadi pertanyaan yang diberikan ke setiap anak belum tentu sama, tergantung kemampuan anak dalam menjawab soal sebelumnya.

Alhamdulillah Fayra dinyatakan lulus tes yang diselenggarakan 3 kali dalam 3 hari berturut-turut. Fayra juga mendapat nilai jauh lebih tinggi dari anak-anak seangkatannya yang sudah beberapa tahun sekolah di Qatar. Artinya Fayra dianggap mampu untuk menyelesaikan soal dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk anak seusianya. 3 test dikerjakan dalam waktu 3 hari, nilai Fayra meningkat terus dari satu tes ke tes berikutnya. Alhamdulillah…


Alhamdulillah Rafa juga mendapat nilai sempurna di ulangan matematika pertamanya. Kemampuan Rafa dalam mengerjakan tugas Kimia juga dianggap lebih tinggi oleh teman-temannya. Sebenarnya ini karena pelajaran di Indonesia memang selangkah lebih dulu dari kurikulum Amerika.

Pelajaran Matematika dan Kimia yang sekarang diberikan untuk Grade 11, sudah dipelajari Rafa setahun yang lalu di salah satu SMA negeri di Tangerang Selatan. Jadi Rafa hanya mengulang apa yang sudah dipelajari sebelumnya. Alhamdulillah…


Untuk Fayra proses adaptasi berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Sementara Rafa yang masih berjuang untuk menyesuaikan diri. Selain Arabic, pelajaran yang baru untuk Rafa adalah World History, American History (karena sekolah amerika) dan Language Art (Bahasa Inggris sastra).

Rafa sudah paham penyesuaian diri ini sebagai resiko yang harus dia hadapi. Karena sebelum memutuskan untuk pindah ke Qatar, kami sudah memberikan pilihan apakah Rafa mau menyelesaikan SMA di Indonesia karena tanggung tinggal setahun lagi. Kalau Rafa sudah lulus SMA dan masuk universitas, baru saya membawa Fayra untuk menyusul paksuami tinggal di Qatar. Rafa dengan mantap memilih ikut papanya dengan catatan SIAP DENGAN SEGALA RESIKO.

Kami sudah memberikan pengertian bahwa adaptasi itu memang berat. Tidak hanya untuk adaptasi anak-anak di sekolah, papanya juga berat beradaptasi di kantor dan saya sebagai ibu rumah tangga juga harus beradaptasi dalam menjaga kesehatan tubuh karena semua pekerjaan operasional rumah tangga harus dikerjakan sendiri.

Alhamdulillah Rafa mengerti dan sempat bilang “ya lagian kan aku juga gak bisa ngapa-ngapain selain mencoba bertahan, ma. Waktuku cuma tinggal setahun lagi“. Padahal saya tau dia sangat berjuang untuk tidak mengecewakan kami, Rafa merasa beban karena cuma punya waktu setahun sebelum masuk kuliah.

Saat video call sama mbahmami (ibu saya), Rafa dikuatkan dan diberi semangat. Mbahmami malah bilang “gak usah ngoyo, le. Ngulang juga gakpapa toh. Kamu masih muda kok. Gak usah dipaksain kalo memang berat. Kuliah enggak tahun depan juga gakpapa


Saya dan suami tidak berani menekan anak-anak dan mengharuskan ini itu, karena kami tau anak-anak sedang menjalani proses adaptasi yang tidak mudah tentunya.

Meskipun saya sudah mulai menerima beberapa tawaran kegiatan dan kolaborasi dengan teman-teman yang melihat sepak terjang saya di sosial media, saya masih belum mau melangkah dulu. Saya ingin memberi waktu setidaknya 3 bulan ini untuk memantau perkembangan anak-anak, sampai melihat anak-anak sudah menikmati kehidupan baru di negara ini.

Sekarang bukan waktunya saya untuk mengejar mimpi dan eksistensi diri, tapi sekarang waktunya saya mendampingi anak-anak dalam perjalan mereka untuk mencapai cita-cita dan mimpi.


Kami hanya berdoa dan berharap semoga anak-anak diberikan kemudahan dalam memahami pelajaran di sekolah dan bisa mengerjakan tugas sekolah dengam baik semampu mereka, juga diberikan kemudahan dalam beradaptasi dan bisa menyesuaikan diri.

Allahuma aamiin, ya Rabb.