Browsed by
Category: Rafa

Cerita Rafa

Panggilan Anak Untuk Ibunya

Panggilan Anak Untuk Ibunya

Saya menerima gambar ini dari salah satu grup WA:

image

Dan di bawah ini lah salah satu chat mas Rafa kepada saya:
image

Ini anak emang suka ajaib kalo chat sama orang yang melahirkannya.

Kadang mas Rafa panggil saya : emak, mamake, mamia, simboke.

Kalo lagi dimarahin, suka becandain saya “jangan galak-galak, sobat

Kalo dia lagi ada maunya baru panggil saya mama 😅

Masukin perut lagi apa yah … tapi udah 176cm gimana dong?

Hahahahaha

image

Lain waktu mas Rafa pamer hasil ulangan matematikanya.

Kali ini dia pake kata BRAY *hadeuuhh*

Ini sebenarnya ANAK saya atau TEMAN sik?

Gemesin yaaa *cium jidat anak lanang sambil njinjit maksimal*


Gimana dengan kamu … apa panggilan untuk orang yang melahirkan kamu?

Atau apa panggilan anak terhadap diri kamu?

Rafa Masuk SMA

Rafa Masuk SMA

Sebelumnya saya cerita di sini, kalau Rafa sudah diterima di Boarding Program salah satu sekolah swasta ternama di Jakarta Selatan yang proses seleksi masuknya juga tidak gampang.

Ketika hasil UN keluar, Rafa merasa nilainya cukup tinggi untuk bisa masuk ke sekolah negeri favorit se-Tangerang Selatan. Jadi lah saya dan pak suami sibuk browsing mencari informasi tentang sekolah tersebut.

Saya sampai menghubungi beberapa teman dan tetangga yang anaknya sekolah di situ. Saya juga menyempatkan diri untuk ngobrol langsung dengan anak seorang teman, yang saya tau sangat berprestasi di sekolahnya.

Iya sebut saja saya sebagai emak posesip, segitunya cari informasi tentang sekolah anak. Tidak hanya melihat dari web sekolah, reputasi dan prestasi sekolah, bertanya ke orangtua murid, saya juga mewawancara anaknya untuk mendengar pengalaman dan sudut pandang siswa terhadap sekolah tersebut.

Sebelum mendaftar online, saya dan pak suami mengajak diskusi Rafa. Kami menjelaskan pro dan kontra antara sekolah swasta dan sekolah negeri. Kami menjabarkan konsekuensi yang harus Rafa hadapi di masing-masing sekolah tersebut. Kami juga menyampaikan apa harapan kami jika Rafa masuk di salah satu sekolah tersebut, serta apa hasil yang harus Rafa capai ketika keluar dari sekolah itu.

Akhirnya Rafa memutuskan untuk mencoba sekolah negeri. Setidaknya dia sudah paham apa yang akan dihadapi dan konsekuensinya. Kami menghargai keputusan Rafa, dan akhirnya mendaftarkan secara online.

Saat itu kami baru tau rasanya 3 hari deg-degan memantau situs PPDB, karena setiap ada pendaftar baru dengan nilai lebih tinggi maka posisi anak bisa melorot hanya dalam hitungan detik. Alhamdulillah Rafa berhasil menempati posisi 41 dari kapasitas 90 murid yang diterima melalui jalur reguler (murni berdasarkan NEM). Dan Rafa memutuskan untuk memilih sekolah ini.

Di sisi lain, saya dan pak suami harus ikhlas melepas uang masuk sekolah swasta yang sudah dibayarkan beberapa bulan yang lalu. Hangus! Gak bisa balik sepeserpun karena mengundurkan diri dengan alasan apapun. Padahal nominalnya bisa untuk biaya umroh 2 orang tuh *elap jidat*. Etapi dengan masuk ke sekolah negeri, biaya operasionalnya juga jauh lebih murah kan. Alhamdulillah meringankan pengeluaran bulanan keluarga kami selama 3 tahun ke depan.

image

Kalau dilihat dari segi fasilitas, sekolah negeri ini tidak kalah dengan sekolah swasta loh. Absennya menggunakan mesin sidik jari di gerbang sekolah, masjid besar berdiri tegak di tengah area sekolah, ada mobil operasional sekolah, fasilitas lab lengkap, kondisi sekolah juga terjaga kebersihannya (saya keliling cek setiap sudut sekolah sampai ke toiletnya). Program-program di sekolah ini bisa dibilang luar biasa. Disiplinnya juga gak kasih kendor. Murid-muridnya rajin menorehkan prestasi di kompetisi tingkat nasional dan internasional. Wajar kalo setiap tahun beberapa PTN dan universitas swasta menyodorkan undangan maupun beasiswa untuk puluhan siswa berprestasi dari sekolah ini.

Seminggu pertama saat masa orientasi sekolah, kelihatan kalau Rafa menghadapi culture shock. Di sekolah sebelumnya, kegiatan belajar mengajar semuanya well-managed dan well-informed. Di sekolah negeri ini, setiap siswa dituntut untuk mandiri dan aktif mencari informasi. Kalau sekolah sebelumnya ada mas dan mbak ISS untuk membersihkan semua sudut sekolah, baru sekarang Rafa merasakan bawa sapu lidi ke sekolah dan harus ikut kerjabakti membersihkan sekolah. Alhamdulillah Rafa cepat menyesuaikan diri dan mampu beradaptasi.

Semua anak yang masuk melalui jalur REGULER dimasukkan dalam 2 kelas khusus, tidak dicampur dengan anak yang masuk melalui jalur MANDIRI. Jadi bisa dipastikan Rafa tidak boleh main-main dalam berkompetisi dengan teman sekelasnya. Saingannya anak luar biasa semua, 90 anak pemilik nilai paling tinggi dari 500an yang mendaftar secara online.

image

Minggu ini mas Rafa mulai mengenakan seragam putih-abu nya. Seminggu sebelumnya selama masa orientasi, murid diminta menggunakan seragam dari SMP asal. Walo Rafa tidak menemukan 1 orang pun yang menggunakan seragam SMP yang sama selain dirinya, tapi alhamdulillah Rafa sudah bisa memiliki teman seru-seruan sekarang.

It’s your life,

It’s your choice,

It’s your responsibility.

We appreciate it and will always support you, mas.

Enjoy high schooler life and have fun!

 

 

 

Dengan ini saya resmi menjabat MAHMUD ABAS … mamah muda yang anaknya baru SMA ^_*

Rafa Lulus SMP

Rafa Lulus SMP

2 minggu terakhir ini timeline media sosial dibanjiri dengan foto anak wisuda-wisudaan dan penampilan pentas akhir tahun di sekolah. Status teman-teman pun tidak jauh berbeda: terharu, menggunakan hashtag #mewek, bahkan tidak sedikit yang mengaku menangis.

Terdengar lebay?

Ah tidak perlu dijelaskan lah … memang cuma emak-emak yang tahu rasanya. Kami tidak peduli dikatakan lebay.

image

Begitu pun dengan saya. Menyandingkan 2 foto di atas, foto ketika Rafa pertama kali pergi ke sekolah Playgroup saat usianya 3 tahun dan foto beberapa minggu lalu ketika Rafa akan menghadiri perpisahan sekolah SMP nya. Mata pun mulai berkaca-kaca.

Tisu … mana tisu?

image

Anak pertama kami sudah melewati 1 jenjang pendidikan lagi. Sudah lulus SMP. Sudah mulai remaja dan beranjak SMA. Sudah pandai berargumentasi, menyenangkan ketika diajak diskusi, mulai memiliki privasi, walau agak susah kalau diajak pergi.

image

Seperti hal nya ibu-ibu lain yang khawatir saat anak menempuh Ujian Nasional, saya pun ikut tegang selama Rafa menghadapi UN SMP. Meski saya tak seheboh beberapa ibu yang sampai mengirimkan broadcast message ke grup WA atau menulis status di sosial media, minta bantu doa supaya anaknya diberi kemudahan saat ujian. Katanya semakin banyak yang mendoakan, berharap makin didengar dan dikabulkan.

Selain saya dan pak suami terus berdoa untuk mas Rafa, kami juga meminta bantu doa dari orangtua (mami, mama, papa). Selebihnya kami hanya terus mengingatkan Rafa untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan meminta agar dirinya diberi kemudahan dalam memahami soal ujian dan kelancaran dalam menjawabnya.

Kemarin nilai UN sudah keluar. Alhamdulillah nilai mas Rafa sedikit lebih tinggi dari peringkat 1 yang ada di kertas itu *nunjuk foto di atas, Nilai Rata-Rata Sekolah di Jakarta*

*sujud syukur*

Untuk Rafa yang 3 tahun terakhir belajar di sekolah yang tidak mengikuti kurikulum Diknas, kami bersyukur sekali Rafa bisa dapat nilai segitu. Hasil kerja keras kami terbayar lunas.

image

Saya percaya bahwa kalimat “ah, nilai gak penting lah” memiliki arti yang sama dengan kalimat “uang bukan segalanya

Nilai mungkin memang tidak penting, tapi banyak hal yang memerlukan nilai.

Untuk bisa masuk sekolah swasta favorit dan sekolah negeri unggulan, butuh nilai jempolan. Untuk bisa mendapat beasiswa, perlu nilai istimewa. Untuk dapat undangan universitas negeri, dicari siswa yang memiliki nilai tinggi. Bahkan untuk bisa kerja di perusahaan bergengsi pun, masih lebih dilirik yang memiliki IP luar biasa.

image

Ah mewek lagi saya baca surat yang kami terima ketika Rafa naik kelas 3 SMP pertengahan tahun lalu.

Terima kasih ya, mas.

Terima kasih atas segala kerja keras yang sudah kamu lakukan. Papa dan mama akan selalu mendukung setiap langkah kebaikan yang kamu tempuh. Papa dan mama akan berusaha semampu kami memberikan segala yang kamu butuhkan untuk mengejar yang kamu cita-citakan. Semoga kamu menjadi orang yang lebih baik dari kami, menjadi anak yang sehat – cerdas – beriman. Semoga kamu bisa menjadi seorang pemimpin yang bertaqwa.

Selalu membanggakan ya, nak!

 

Tisu … mana tisu?

 

 

Rafa 13 Tahun

Rafa 13 Tahun

2 hari lalu dan kemarin saya menerima wasap dari seorang teman Rafa:

rafa13th1

Anak jaman sekarang yah, pinter-pinter banget deh ah. Pasti mereka tau notelp saya dari WA grup ibu-ibu sekolah tuh.

Membaca pesan tsb langsung membuat saya ngaca “okeh … confirmed lah gw udah tuwak ya nek. Begini toh rasanya punya anak ABG

*tepok jidat*

Saya langsung memberitahukan tentang hal ini ke Masguh dan mbak di rumah. Sengaja gak kasih tau Fayra, takut dia bocorin ke kakaknya.

Saya siapkan menu untuk dimasak hari ini, dan memberikan instruksi ke mbak di rumah.

Saya hanya  menyajikan makanan ini untuk teman-teman Rafa:

  • Nasi putih
  • Sayur sop bakso
  • Ayam goreng tepung siram saos fuyunghai
  • Bakwan
  • Kue cubit
  • Minuman bersoda
  • Pudding coklat
  • Semangka

Alhamdulillah teman-teman Rafa datang membawa cupcakes menggemaskan ini:

rafa13th6

Sayangnya saya tidak bisa cuti, harus menghadiri rapat penting pagi ini.

Menjelang makan siang, saya menerima SMS dari mbak di rumah:

rafa13th2

Owh ya … alhamdulillah pembantu saya gak gaptek. Bahkan mbak nya punya henpon dan Tab yang dibeli dari gajinya sendiri. Hal ini tentunya memudahkan saya untuk memonitor rumah secara remote. Hehehe

Siang ini saya menerima foto bday boy yang menjadi korban ceplok telor, siram teh botol dan tabur terigu:

rafa13th3

Dan ini lah teman-teman yang meramaikan ulang tahun Rafa:

rafa13th4

Bersyukur banget acara surprise nya berhasil, walau mama papa tidak bisa ikut meramaikan di rumah.

rafa13th5

Doa mama papa selalu sama disetiap sujud kami untuk mu, nak.

Semoga kamu selalu menjadi anak yang sehat, cerdas dan beriman. Semoga kamu nanti bisa menjadi pemimpin yang bertaqwa. Terus lakukan yang kamu inginkan, perbanyak prestasi, selalu membanggakan dan berbuatlah yang bermanfaat untuk orang lain. 

Enjoy your teen’s life, mas!

Beranjak Remaja

Beranjak Remaja

Gimana rasanya punya anak-anak yang mulai beranjak remaja?

Baru berasa ketika wiken sih, Sabtu atau Minggu pagi … akan seperti ini pemandangannya:

rafay_1

Yang satu asyik main gitar, yang satu lagi cari inspirasi gambar dari internet via ipad.

Dipanggilin untuk sarapan aja susahnya minta ampun.

Kalo lagi rajin, Fayra mau bantuin di dapur. Terutama kalo masaknya makanan yang dia mau sih, gak disuruh juga Fayra suka minta bantu.

rafay_4

Kalo semua lagi males, ya ngumpul aja di kamar mama papa. Biasanya leyeh-leyeh sambil nonton, sementara Fayra tetap asyik gambar.

rafay_5

Kadang Rafa sudah punya kegiatan sendiri. Suka janjian ama teman-temannya untuk ngemol atau nonton bareng. Mama papa dan Fayra nganter ke mall, trus nanti janjian jam berapa dijemputnya lagi. Gaya deh abegeh jaman sekarang *geleng-geleng*

Berasa banget mereka sudah mulai gede, ketika ada acara keluarga.

Susaaahh banget ngajak mereka pergi.

Setiap diajak, pasti udah memborbardir dengan deretan pertanyaan:

“Mo kemana? Di sana ngapain? Trus abis itu kemana lagi atau mo ngapain lagi?”

Padahal kalo pergi tanpa mereka tuh rasanya ada yang kurang. Musti merayu dan menjanjikan sesuatu hanya sekedar biar mereka mau ikut.

Etapi ada enaknya loh punya anak remaja.

Ada teman ngobrol dengan topik yang lebih luas. Bisa tanya pendapat atau diskusi tentang suatu hal ke mereka. Bisa nonton bareng acara TV, selain film kartun.

Ukuran sepatu Rafa sudah sama dengan papa. Jadi kalo beli sendal atau sepatu, mereka suka milih bersama karena nantinya akan saling pinjam. Parfum papa juga udah mulai dipake Rafa loh.

Ukuran baju dan celana Rafa sudah sama dengan mama. Jadi mama suka pinjam kemeja atau jaket Rafa. Kalo mama beli jam, sekarang gak boleh beli jam model yang cewek banget. Tujuan nya apalagi kalo bukan … biar Rafa bisa pinjam jam mama. Hehehehe

Papa dan Rafa punya “boys time”. Biasanya mereka berdua pergi ke bioskop untuk nonton film action. Kadang mereka pergi sepedaan bersama rombongan laki2 lain di komplek. Sekarang papa juga sudah punya partner kalo mau ke bengkel atau sekedar nyuci mobil.

rafay_2

Sebisa mungkin saya dan Masguh menempatkan diri tidak hanya sebagai orangtua bagi Rafa dan Fayra. Kami berusaha menjadi teman dan sahabat bagi mereka.

Berasa banget punya anak remaja … terutama ketika mau mencium pipinya pun kita harus njinjit dulu

rafay_3

Lebih berasa lagi waktu diingatkan kalo akhir tahun depan sudah harus bayar SMA untuk Rafa *elap keringet*

Yak waktunya pake korset … karena ngencengin ikat pinggang aja kek nya belum cukup. Hahahaha