Browsed by
Category: Jalan-jalan

Mengolah Ikan 10 Riyal

Mengolah Ikan 10 Riyal

Saya sudah pernah cerita kan yah, betapa mahalnya harga bahan makanan di Qatar kalau dibanding dengan harga di Indonesia. Memang tidak semua, bahkan ada beberapa yang lebih murah.

Saat mengantar Rafa latihan bola beberapa waktu lalu, seperti biasa saya berkumpul dengan ibu-ibu Indonesia lain, ternyata mereka sedang membicarakan ikan seharga 10 riyal.

Nama yang tertulis dibungkusnya WHITE FISH. Dijual dalam kemasan 1 kilo dengan kondisi beku, tanpa kulit dan duri.

Mba Yanti yang merupakan lulusan perhotelan, memberikan testimoni kalo ikan ini bisa diolah menjadi berbagai jenis masakan dan rasanya lumayan enak. Langsung aja kami todong mba Yanti untuk buka cooking class di rumah nya, biar kami lihat cara membuat dan langsung mempraktekannya.

Hari Minggu, 22 April 2018 jam 9 pagi, kami berkumpul di rumah mba Yanti. Kami diminta membawa peralatan masak antara lain food processor, baskom, spatula dan talenan. Mba Yanti sudah menyediakan bahan makanannya. Kami tinggal mengganti uang yang digunakan beliau untuk belaja.

Hari itu kami belajar mengolah si ikan harga 10 riyal sekilo ini menjadi:

  • Pangsit
  • Somay
  • Mpek-mpek
  • Tekwan

Dengan bahan tambahan sebagai berikut:

  • Tapioka (produksi Thailand dan Sagu Tani)
  • Soy Sauce (kecap asin)
  • Fish Sauce (kecap ikan)
  • Garam
  • Lada bubuk
  • Kaldu bubuk (penyedap)
  • Garlic Paste (bawang putih yang diblender tanpa tambahan apapun)

Bumbu dasar putih yang sudah lebih dulu dibuat oleh mba Yanti:

  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Kemiri
  • Lada
  • Minyak goreng

Dari bahan tersebut akan tercipta beberapa makanan berbeda. Seru yaa.

Bude Yayan merelakan dirinya menjadi petugas dokumentasi, sementara saya kebagian menjadi sekretaris yang mencatat semua resep dan langkah-langkah pembuatannya. Kami berdua akan share di WA grup peserta setelah acara ini selesai.

Tugas ini kami lakukan sembari kami mempraktekan langkah-langkah yang dicontohkan mba Yanti loh. Jadi sebentar-sebentar kami cuci tangan karena bolak-balik pegang kamera/alat tulis bergantian dengan membuat adonan. Hahahaha

Seru banget kalo masak rame-rame gini … selama pesertanya gak lebih dari 10 orang sih. Kalo keramean nanti berisik sendiri, malah gak fokus.

Sebenarnya bisa aja mba Yanti share resep via WA. Tapi kalo saya lebih memilih melihat proses masak secara langsung seperti ini. Karena saya bisa dapat rekomendasi merk bahan yang digunakan, juga mendapatkan tips dan trik yang mungkin cara tiap orang memasak bisa berbeda-beda ya. Lumayan kan untuk menambah pengetahuan baru.

Cara membentuk pangsit

A post shared by De (@punyade) on

Alhamdulillah berkat acara ini, stok makanan anak-anak untuk seminggu ke depan dijamin aman. Karena semua hasil olahan saya selesaikan di rumah dan langsung masuk kotak yang disimpan dalam freezer. Besok-besok tinggal digoreng/dikukus untuk cemilan anak saat mereka pulang sekolah.

https://instagram.com/p/BiBSHXlhRVq/

Bonusnya, saya dapat beberapa kenalan baru deh. Alhamdulillah pelan-pelan saya mulai tergauli juga. Hahaha

Sheikh Faisal Museum

Sheikh Faisal Museum

Senin, 23 April 2018 saya dan mba Sandra menjelajah pinggiran kota Doha sekitar 25 KM ke arah Dukhan untuk mengunjungi Sheikh Faisal Bin Qassim Al Thani Museum. Kebetulan mamanya mba Sandra lagi berkunjung ke Doha, jadi kami bisa jalan-jalan dengan modus mengantar nenek. Hihihihi.

Seperti biasa kami menggunakan jasa pak Didi, supir Indonesia langganan ibu-ibu Doha. Ternyata pak Didi juga belum pernah ke museum tersebut, jadi lah kami ber4 sama-sama turis abis. Cuma mengandalkan mba Waze dalam memandu perjalanan menuju lokasi.

Ternyata pintu keluar tol menuju museum ditutup. Kami sempat mondar mandir keluar pintu tol lain untuk mencari jalan alternatif. Akhirnya pasrah bertanya pada petugas perbaikan jalan tol, disuruh keluar di pintu yang menuju markas pengawal raja. Sebenarnya sudah melihat pintu ini sebelumnya, tapi ngeri-ngeri syedep … khawatir gak sembarang orang boleh lewat situ. Udah gitu, tampilan di layar hape saya pada aplikasi Waze cuma blank seperti ini dong:

Selamat datang di gurun!

Ini jalan tak beraspal ternyata tidak tercatat di peta. Hahaha

Deg-degan takut sedan pak Didi terjebak di tengah pasir, tapi akhirnya kami nekat karena melihat ada taxi Karwa jalan dengan cuek sedikit agak jauh di depan kami. Kalo mobil itu aja bisa, harusnya kita juga gak masalah kan ya.

Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga, dan saya langsung terpesona dengan bentuk juga luas bangunan museum ini.

Sheikh Faisal Museum

A post shared by De (@punyade) on

Sampai di pintu masuk bangunan, kami disambut oleh bapak satpam yang menginformasikan bahwa setiap pengunjung diminta untuk menitipkan tas di loker yang telah disediakan, dimana kunci loker tetap dipegang oleh pak satpam dan kita cuma diberikan kartu nomor loker saja.

Pengunjung diminta membayar tiket masuk seharga QAR 20 per orang dewasa, sementara untuk yang berusia di bawah 18 tahun bisa masuk dengan GRATIS. Di dalam gedung pengunjung boleh membawa henpon dan kamera, bebas mengabadikan dalam bentuk foto, tetapi dilarang merekam video.

Sesuai namanya, museum ini dimiliki oleh Sheikh Faisal bin Qassim Al Thani dengan luas lahan 530.000 meter persegi di daerah Al Samriya. Lebih dari 15.000 benda yang ditampilkan dalam museum ini merupakan milik pribadi dan keluarga beliau yang dikumpulkan dalam waktu 55 tahun dan masih terus akan bertambah. Sebagian besar dibeli oleh beliau dan keluarga, tetapi ada juga yang merupakan pemberian dari orang-orang ternama di dunia. Sheikh Faisal memang banyak melakukan perjalanan ke seluruh dunia, selain untuk berlibur, beliau juga merupakan konglomerat sukses pemilik grup perusahaan Al Faisal Holding yang sudah pasti sering berpergian dalam rangka urusan bisnis.

Museum ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh beliau sendiri pada tahun 1998.

Ada 3 bangunan dalam lokasi ini dengan koleksi benda yang sangat beragam dan tidak hanya melukiskan sejarah Qatar, tapi tentang perkembangan peradaban dunia. Dari fosil sejak jaman dinosaurus, benda-benda kedokteran, benda-benda keagamaan, aneka kendaraan, pakaian, perhiasan, sampai senjata dari jaman dahulu sampai yang terbaru … tersaji lengkap di sini.

Kata mbak petugas resepsionis, dibutuhkan waktu 45 menit untuk mengelilingi seluruh bangunan … tanpa membaca papan petunjuk/keterangan apalagi foto-foto. Kami ber4 menghabiskan waktu hampir 2 jam, itu pun belum sampai ke ruangan Quran, Islamic Art dan FBQ Gallery.

Begitu masuk bangunan museum, benda yang paling mencolok adalah barisan mobil. Bukan hanya koleksi mobil mewah, tapi lengkap dari mobil-mobilan dengan aneka skala, mobil balap, sampai truk dan kereta kencana juga ada. Sebut aja semua merk mobil yang pernah ada di dunia, paling enggak ada 1 biji yang duduk manis dalam ruangan ini.

Semua mobil dalam kondisi terawat, rutin dibersihkan dan secara berkala Sheikh Faisal memanggil teknisi untuk memeriksa dan manasin 6.000 mobil ini. Katanya semua mobil yang ada di sini, paling tidak pernah digunakan sekali oleh Sheikh Faisal sendiri.

Ketika di awal saya sebut koleksi museum di antaranya ada kendaraan, bukan hanya mobil semata. Tapi ada sebuah pesawat yang diletakan di tengah hall, ada barisan sepeda, motor, gerobak, kelengkapan unta, kereta kencana sampai kapal dengan berbagai macam ukuran.

Negara Qatar kan berada di semenanjung Timur Tengah, pinggir laut yang bersebrangan dengan negara Iran. Mata pencaharian penduduk Qatar berawal sebagai nelayan, kemudian menjadi penambang mutiara, sampai akhirnya mereka menemukan kandungan gas dan minyak bumi yang membuat negara ini semakin kaya.

Museum ini dibangun di atas tanah peternakan milik Sheikh Faisal. Sumur yang terdapat di dalam museum, memang sudah ada sebelum bangunan megah bagai istana ini didirikan. Awalnya sumur ini menjadi sumber air untuk perternakan, sekarang sih sudah tidak digunakan tapi tetap dipertahankan keberadaannya. Sumur dipercantik dengan memberikan sentuhan batu marmer pada bagian atasnya.

Yang seru ke bagian Medis dong. Gak cuma berbagai alat kedokteran mulai dari aneka stetoskop, tang cabut gigi, jejaruman, alat timbangan bayi dan balita, aneka tabung-tabung untuk ambil sample darah dan berbagai cairan …. di sini juga ada … KERANDA! Lengkap dengan seonggok tubuh tiduran di dalamnya.

Eh tapi ini ada rodanya sih. Mungkin ini ambulance di masanya, merangkap mobil jenazah. Entah lah. Tidak ada papan penjelasan tentang kendaraan yang satu ini.

Benda keagamaan yang ditampilkan dalam museum ini bukan hanya
dari agama Islam. Ada ruangan yang menampilkan koleksi benda-benda agama Hindu, Budha, Yahudi juga Kristen. Untuk koleksi Al Quran, ada ruangan terpisah yang letaknya di bangunan berbeda. Sayang kami tidak sempat masuk ke ruangan tersebut, padahal penasaran mau lihat Quran terkecil di dunia.

Ketika kami tiba, langit agak mendung. Tetapi ketika kami keluar, langit sudah mulai biru cerah dengan sinar matahari yang setrong banget. Dalam ruangan sudah pasti dipenuhi AC yang saya intip angka suhunya menampilkan 21 derajat celcius. Jadi gak tau kalau di luar tambah panas.

Gak kerasa loh kami menghabiskan waktu 2 jam untuk keliling museum FBQ ini. Pun masih ada 3 bagian yang belum sempat kami lihat. Benar-benar waktu berjalan tanpa terasa.

Fasilitas di dalam museum ini lengkap sih. Ada banyak toilet yang tersebar di beberapa titik. Di dalamnya ada bilik WC duduk dan jongkok. Tisu dan air berlimpah, kondisi sangat bersih terawat. Ada mushola juga di dekat barisan kapal. Tempat sholat pria dan wanita tentunya terpisah yah. Petunjuknya jelas kok, sampai ada panahnya.

Dekat pintu masuk juga ada cafetaria. Sayangnya meja bar tidak ada petugas dan tidak ada makanan apapun yang disajikan/dijual. Cuma ada 2 vending machine, mesin yang menjual minuman bersoda dan di sebelahnya mesin penjual kopi.

Yang penasaran mau lihat isi dalamnya lebih jelas, bisa menyaksikan video di bawah ini yaa:

Kalo menurut saya sih, museum ini seperti Museum Angkut di Malang tapi dengan skala lebih besar dan lebih niat. Sama-sama koleksi pribadi seseorang yang luar biasa, cuma mungkin beda jumlah uang pemiliknya aja yaaa. Hehehe

Raport Pertama Di Qatar

Raport Pertama Di Qatar

Alhamdulillah anak-anak sudah melalui setengah semester di sekolahnya dan menerima raport pertamanya kemarin.

Pihak sekolah membagikan lembaran hasil test MAP dan nilai seluruh pelajaran dalam bentuk print-out, bukan buku seperti keluaran DikNas Indonesia. Raport diserahkan ke anak-anak dan hari itu mereka pulang lebih cepat dari biasanya. Jam 12:30 sudah bubar karena guru-guru mempersiapkan diri untuk Parents Teachers Conference (PTC) di sore harinya.

Pertemuan orangtua dan guru di sekolah ini tidak diwajibkan, biasanya orangtua datang karena ada hal yang harus didiskusikan dengan guru terkait dengan raport yang diterima murid.

Bedanya dengan sekolah di Indonesia yang kalau ambil raport atau pertemuan orangtua dan guru diselenggarakan pagi sampai siang hari, di Qatar orangtua diminta datang jam 16:30 sampai jam 19:30.

Kalau di Indonesia, orangtua murid cukup datang ke walikelas saja … di Qatar kita mendatangi guru dari setiap mata pelajaran. Tenang … pelajaran di sini gak sebanyak di Indonesia kok.

Total cuma ada 9 pelajaran:

  1. Art Language (sastra Inggris) untuk Rafa, English untuk Fayra
  2. Pre-Calculus untuk Rafa, Math untuk Fayra
  3. Chemistry (kimia) untuk Rafa, Science (Ilmu Pengetahuan Alam) untuk Fayra
  4. US History untuk Rafa, Social (Ilmu Pengetahuan Sosial) untuk Fayra
  5. World 2nd Language (Rafa ambil Arabic, Fayra ambil French)
  6. ICT (komputer)
  7. PE (olahraga)
  8. Islamic Studies (untuk muslim)
  9. Optional (Rafa ambil Music, Fayra ambil Art)

Pelajaran kedua anak ini tidak sama karena Rafa duduk di kelas 11 (High School), sementara Fayra di kelas 6 (Middle School). SD standar Amerika (Elementary School) cuma sampai kelas 5, jadi meski baru kelas 6 Fayra masuk ke dalam Middle School. Saya sudah cerita kan yah, kalau anak-anak sekolah di salah satu American Curriculum School?

Saya dan paksuami tiba di sekolah jam 5. Sampai di lobby sekolah, masguh mengambil foto denah yang berisi nama guru anak2 untuk tiap pelajaran dan posisi ruang kelasnya. Kebetulan sekolah ini menerapkan sistem “Moving Class”, jadi anak-anak selalu pindah ruangan kelas sesuai dengan mata pelajaran.

Kami hanya mendatangi guru yang sekiranya anak-anak mengalami kendala dilihat dari nilai atau komentar guru yang tertulis di lembar raport.

Pertemuan orangtua murid dengan guru ini memang tidak wajib. Kalau merasa nilai anak-anak cukup OK dan anak tidak ada keluhan selama belajar di sekolah, orangtua tidak perlu datang sih. Tapi karena anak-anak baru mengalami tinggal dan sekolah di luar Indonesia pertama kali, kami merasa butuh bertemu dengan pihak sekolah untuk mengetahui proses adaptasi anak-anak di 3 bulan pertamanya.

Alhamdulillah komentar guru-guru sangat baik, anak-anak malah dibilang cukup bagus proses adaptasinya. Awalnya pihak sekolah sempat khawatir karena anak-anak masuk di tengah tahun ajaran, tapi ternyata anak-anak bisa mengikuti proses belajar dengan lancar tanpa perlu pendampingan khusus dari guru.

Language barrier (kesulitan berkomunikasi) yang awalnya sempat kami khawatirkan, ternyata tidak kejadian sama sekali. Anak-anak malah dianggap bisa berkomunikasi dengan sangat baik, tulisan tangan mereka bagus, bisa presentasi di depan kelas dengan lancar, aktif dalam mengerjakan tugas kelompok, mengumpulkan semua tugas tepat waktu, sebagian besar nilai mereka pun di atas nilai rata-rata kelas.

Yang perlu ditingkatkan hanya kemampuan anak-anak dalam menulis esai. Ini pengaruh pendidikan Indonesia yang tiap ulangan atau tes, biasanya disajikan dalam bentuk soal pilihan ganda. Sementara kalau sekolah Amerika sebagian besar soal diberikan dalam bentuk esai.

Anak-anak tidak biasa mendeskripsikan sesuatu secara panjang lebar, harus mulai membiasakan diri sekarang. Apalagi untuk Rafa yang tahun depan sudah harus masuk universitas, kemampuan menulis laporan lebih dari 500 kata dan membuat slide presentasi menjadi makanan sehari-hari.

Bagaimana cara meningkatkan kemampuan menulis esai? Harus rajin membaca buku, katanya.

Pihak sekolah menghimbau anak-anak untuk membaca buku minimal 20 menit per hari. Hal ini bermaksud untuk menambah kosakata dan mempelajari gaya penulisan.

Kami menyadari banyak orangtua yang memiliki pedoman “nilai sekolah itu gak penting, nilai bukan satu-satunya jalan menuju sukses

Kalau kami berdua justru sepakat bahwa “nilai merupakan tolok ukur kemampuan anak dalam memahami pelajaran yang diberikan di sekolah”. Kalau nilai anak di bawah rata-rata nilai kelasnya, berarti anak-anak memiliki masalah dalam memahami apa yang dipelajari di sekolah. Harus dicari tau penyebabnya dan cara mengatasinya.

Apalagi untuk Rafa yang mau kuliah tahun depan, harus memastikan nilainya cukup untuk bisa diterima di universitas dan jurusan yang diinginkannya.

Perusahaan yang bagus, memilih calon karyawan yang memiliki latar belakang pendidikan dari sekolah yang bagus (ternama dan diakui lulusannya). Universitas yang bagus memilih anak yang memiliki prestasi bagus di sekolah sebelumnya.

Soft skill (kemampuan berkomunikasi/berinteraksi, kemampuan menyelesaikan sebuah masalah, kemampuan membawa diri, dll) sangat dipengaruhi dengan kondisi lingkungan pendidikan seseorang.

Bagaimanapun nilai atau kemampuan akademik menjadi faktor penting juga dalam menentukan masa depan anak-anak nanti. Jadi tidak bisa dianggap hal sepele. Ini sih kesepakatan antara saya dan suami dalam menentukan pendidikan bagi anak-anak kami yaa. Silakan kalau memiliki pendapat yang berbeda.

Eh kok jadi ngelantur kemana-mana gegara cerita ambil raport anak-anak di sekolah ya …. hehehe.

Membahas perkembangan 2 anak dengan beberapa guru dan ditutup dengan bertemu kepala sekolah untuk membahas strategi yang harus dilakukan Rafa dalam mempersiapkan diri mencari universitas pilihannya … memakan waktu total 3 jam!

Kami tiba di sekolah jam 5 sore, baru pulang jam 8 malam. Karena kami harus mondar mandir keliling cari ruangan dan antri di tiap-tiap ruangan guru.

Ibu di sebelah saya tiba jam 2 siang di sekolah, selesai di jam yang sama dengan kami … karena anaknya ada 4 di sekolah itu.

Alhamdulillah ternyata … punya anak sedikit juga hahahaha.

Yang pasti kami bersyukur begitu mengetahui anak-anak tidak ada masalah berarti dalam proses adaptasi di negara ini. Kami sangat menghargai usaha anak-anak dalam melakukan yang terbaik dengan kondisi yang pasti tidak mudah bagi mereka. Masya Allah … alhamdulillah ya Allah.

Semoga ke depannya anak-anak bisa menjalani kehidupan di sini dengan lebih baik. Allahuma aamiin.

Doha Wholesale Market

Doha Wholesale Market

Alhamdulillah hari ini puas banget diajak sesama penduduk BSD cabang Doha, mba Nana, keliling Doha Wholesale Market atau yang biasa disebut Qatar Central Market.

Pasar ini merupakan pasar induknya Qatar. Gak heran kalo buah dan sayuran yang dijual juga dalam kapasitas besar.

Kami parkir mobil di depan Souq Al Baladi. Dalam bahasa Arab, SOUQ berarti PASAR.

Tapi Souq Al Baladi di sini merupakan sebuah supermarket yang menjual segala rupa, dengan mengutamakan hasil produksi dalam negeri. Sejak diblokade oleh beberapa negara tetangga, Qatar berjuang memenuhi kebutuhan pangan negara dengan bercocok tanam juga mengembangkan perternakan sendiri untuk menekan kenaikan harga akibat ongkos kirim yang lebih besar karena bahan pangan dikirim dari negara yang lebih jauh. Nanti saya cerita tentang hal ini di posting terpisah yah.

Dalam Souq Al Baladi kita tidak boleh mengeluarkan kamera. Sudah jelas ditempel peringatannya di pintu masuk supermarket. Mengambil foto atau merekam video menggunakan kamera hape pun dilarang.

Di bagian belakang ada bangunan yang menempel pada Souq Al Baladi dengan tulisan FRESH CHICKEN. Sesuai namanya, dalam tempat ini dijual aneka unggas segar. Kita bisa milih bebek, burung puyuh, ayam, bahkan kalkun dalam kondisi masih hidup di dalam kerangkeng besi, setelah membayar kita tinggal minta petugas untuk potong hewan tersebut secara Islam (dibacakan doa sebelum dipenggal lehernya). Tenang saja, kita akan menerima unggas sudah dalam kemasan plastik dengan kondisi sudah dibersihkan bulu dan bentuk potongan sesuai permintaan.

Kami keluar dari pintu belakang supermarket, kemudian berjalan kaki ke arah belakang menuju KILO MARKET dimana dalam pasar ini dijual buah dan sayur kiloan. Kebetulan mba Nana mempunyai tukang langganan yang sudah bisa berbahasa Indonesia. Menurut cerita beliau, saking rutinnya mba Nana dan teman-teman Indonesia ke sini, bapak penjual rajin bertanya nama sayur dan buah dalam bahasa Indonesia kemudian menghafalnya.

Seperti terlihat ingin menambah wawasan kami, si bapak rajin menerangkan setiap sayur/buah dalam bahasa Arab dan India. Beliau terlihat senang ketika kita mengucapkan ulang nama benda tersebut. Gak cuma dapat sayuran murah, di sini kita jadi belajar nama-nama sayur dalam 4 bahasa (Inggris, Indonesia, Arab dan India). Hehehe

Alhamdulillah kerusakan dompet di Kilo Market hari itu cuma QAR 10 saja, saya bisa dapat kangkung + daun bawang + tomat + romain lettuce. Masya Allah bisa numis kangkung dengan harga terjangkau di tanah rantau 💃🏼 … sungguh kenikmatan tersendiri.

Dari situ kami meneruskan jalan kaki lagi ke bagian WHOLESALE MARKET dimana dalam pasar ini dijual buah dan sayur dalam skala besar. Biasanya sayur dan buah ditempatkan dalam kotak atau karungan.

Tomat yang biasa di supermarket harga QAR 6 cuma dapat 5 butir, di sini kita bisa beli QAR 5 dapat 1 box berisi 6 Kg 😅

Saya pun sempat ditawari kentang 1 karung isi 7 Kg dengan harga QAR 15. Kapan abisnya nanti kalo cuma dimakan 4 orang 😅

Cabe sekilo QAR 10, padahal Lulu lagi ada program diskon dengan harga QAR 18 yang terbilang murah karena biasanya harga cabe bisa sampe QAR 30 per kilo.

Beneran musti bawa teman minimal 3 orang kalo ke sini. Supaya ada teman sharing belanjaan.

Ada lagi tempat jual karungan besar atau peti, yang letaknya di belakang Wholesale Market. Di bagian ini dijual sayur dan buah dalam skala lebih besar lagi. Ukuran kapasitas isi karungnya bisa mencapai >10 Kg. Ada juga yang dijual dalam bentuk peti kemas.

Nah kalo di bagian pasar yang ini kita masuk menggunakan mobil … penjualnya akan menghampiri pembeli untuk menawarkan dagangan dan transaksi melalui jendela mobil saja.


Masih naik mobil, kami lanjut ke OMANI MARKET. Diberikan nama seperti itu karena sebagian besar penjual di sini berasal dari negara Oman. Dalam pasar ini dijual ikan asin, jual alat berkebun dan tanaman, sampai ada yang jual tikar dan tembikar.

Alhamdulillah puas banget hari itu saya diajak mba Nana keliling Central Market. Sayangnya kami cuma tidak sempat ke bagian ikan dan daging2an gitu (FISH MARKET) karena hari sudah semakin siang, waktunya menjemput anak-anak dari sekolah.

Mau tau luasnya total QATAR CENTRAL MARKET ini?

Yah kira-kira 10x lebih besar dari PasMod BSD lah.

Buka dari jam 6 pagi sampe jam 10 malam.

Bisa dilihat pada video di bawah, pasar di negara Arab sudah pasti didominasi oleh laki-laki, karena di sini memang yang belanja itu laki-laki. Istri cuma di rumah mengolah dan menyajikan saja. Meskipun aman, tapi agak risih aja kalo kita pergi sendiri. Makanya begitu diajak mba Nana, saya langsung semangat ikut.

Kalaupun ada warga Qatari perempuan yang ke pasar biasanya nenek usia lanjut yang dikawal supirnya. Di sana pun saya cuma melihat 2-3 orang perempuan pendatang yang ada dalam pasar, ditambah mba Nana dan saya sebagai turis. Iya cuma kami lah yang tadi ke pasar bawa kamera profesional, kurang nuris apa lagi kan? Hahahaha

Blusukan di Doha Wholesale Market . . #merantaudidoha #seemydoha

A post shared by De (@punyade) on

Apakah saya akan balik lagi ke pasar ini?

Kalo saya nerima pesanan makanan atau katering, sudah pasti akan rutin ke sini.

Tapi kalo cuma belanja untuk kebutuhan makan 4 orang di rumah aja kok ya mending ke supermarket dekat rumah tinggal jalan kaki dan gak harus beli sesuatu dalam jumlah banyak. Kecuali kalo ada teman lain deh baru mau ke sini, lumayan bisa sharing pembelian dalam jumlah besar.

 

Harga sayur dan buah di pasar ini mengikuti musim di negara asalnya. Kalo di eropa lagi musim stoberi, ya kita bisa beli stoberi dengan harga murah di Qatar. Begitupun kalo cabe Thailand dan Indonesia lagi berhamburan di pasar, maka harga di Qatar juga turun.

Meskipun Qatar diblokade beberapa negara tetangga, harga bahan makanan relativ standar karena ongkos kirim disubsidi pemerintah. Alhamdulillah pemerintah Qatar selalu menjaga agar tidak ada kenaikan harga bahan pangan, termasuk di bulan ramadhan sekalipun.

Coba kalo di Indonesia, menjelang bulan puasa harga bahan pangan naik, tapi begitu udah lewat lebaran … harganya gak turun signifikan.

Bukan begitu ibu-ibu?

Membeli Barang Indonesia Di Qatar

Membeli Barang Indonesia Di Qatar

Menurut KBRI Doha, saat ini sudah ada sekitar 40 ribu orang Indonesia yang menetap di Qatar. Memang termasuk minoritas dibandingkan dengan orang IPB (India Pakistan Bangladesh) dan Philipina di sini yang sampai berjumlah ratusan ribu orang. Tetapi alhamdulillah produk Indonesia mudah sekali dicari.

QATINDO adalah salah satu supermarket yang menjual produk Indonesia. Lokasinya tidak jauh dari Souk Waqif atau gedung Al Fanar, persis di depan terminal bus Doha. Tepatnya berada di kawasan Bank Street, yang di lokasi ini juga ada tempat kirim uang ke Indonesia.

Produk yang dijual di Qatindo sangat lengkap, terutama bahan makanan. Semua petugas berbahasa Indonesia, termasuk bapak kasir yang perawakannya seperti orang India. Tidak hanya produk makanan kering, minuman kemasan, bahan makanan kalengan … aneka bumbu dapur juga lengkap dijual di sini. Dari mulai kencur, gula jawa, terasi, daun salam, jengkol, pete sampai melinjo juga ada.

Biasanya mereka restock produk di hari Rabu. Jumat atau Sabtu sudah diserbu ibu-ibu. Saya sempat beberapa minggu tidak menemukan daun salam karena kalah cepat dengan pembeli lain. Kalo dapat bocoran ada stok barang, harus cepat ke sini sebelum kehabisan. Menunggu barang berikutnya datang, bisa makan waktu yang lumayan lama soalnya.

Salah satu lorong QATINDO, supermarket Indonesia di Qatar . . #merantaudidoha

A post shared by De (@punyade) on

Ada juga TOKO JAKARTA yang berada di kawasan Old Airport. Tapi saya tidak bisa menceritakan kondisi toko tersebut karena belum pernah ke sana.

Sebenarnya di supermarket FFC (Family Food Center), LULU dan CARREFOUR, produk Indonesia juga berlimpah. Bahkan semua produk dikumpulkan dalam salah satu lorong hingga memudahkan kita saat berbelanja seperti yang sempat saya rekam di bawah ini:

Lorong produk Indonesia di salah satu Carrefour – Doha . #merantaudidoha

A post shared by De (@punyade) on

Setiap Jumat, kita juga bisa sarapan atau jajan hasil masakan ibu-ibu Indonesia di pinggir lapangan AL-ARABI SPORT CLUB. Jumat pagi memang jadwalnya anak-anak Indonesia bermain bola di sana, sambil menunggu banyak ibu-ibu yang membuka lapak di bagian belakang mobilnya. Kita bisa makan bersama duduk di tikar/karpet yang mereka sediakan sambil ngobrol dengan teman-teman lain.

Kalau Sabtu pagi saat anak-anak Indonesia mengaji di gedung AL-FANAR, banyak juga ibu-ibu yang gelar dagangan di ruang istirahat. Biasanya ada lebih dari 5 stand yang menjual aneka masakan Indonesia. Biasanya saya selalu membeli stok bakso, tahu bakso, tahu dan tempe dari mereka.

Terpujilah mereka yang rajin masak dan menjual makanan Indonesia. Membuat kita punya obat rindu kampung halaman saat malas usaha masak sendiri.

Ada beberapa orang yang membuka bisnis katering juga loh. Biasanya ada grup WA dimana para penjual menginformasikan menu, tinggal kita membalas saat mau ikutan pesan. Ada yang menawarkan jasa antar juga dengan tambahan biaya kirim, tapi bisa juga kita janjian di suatu tempat atau bisa langsung ke rumah mereka untuk mengambilnya.

Ada beberapa restoran Indonesia juga di Qatar (Doha, Barwa, Wakrah, Al Khor, dll). Kita bisa menemukan menu masakan Jawa, masakan Sumatera, sampai yang sekedar mie ayam, bakso, cuangki, batagor, somay, dan lain-lain. Kami pernah membawa anak-anak makan di TOFU & CAKE RESTO yang lokasinya di antara Hotel Radisson dan Mega Mart. Mie ayam untuk saya dan suami, sementara anak-anak makan nasi timbel ayam goreng. Pulangnya masih ngebungkus tahu dan tempe untuk stok di kulkas.

Harga yang ditawarkan tentu saja sudah disesuaikan dengan kondisi Qatar. Yang pasti harga tersebut sebanding dengan ongkos kirim dari Indonesia ke Qatar. Kalau harga masakan, sudah pasti sebanding dengan susahnya mencari bahan atau bumbu.

Buah dan sayur yang biasa kita konsumsi di Indonesia, sudah pasti dijual di Qatar dengan harga selangit. Makanya jangan beli kalau memang tidak ngidam sekali.

Tinggal di negara orang, membuat kita harus kreatif mengolah bahan makanan lokal. Kita juga harus berani mencoba buah, sayur atau makanan yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Bahkan harusnya kita bisa menikmati produk tersebut yang biasanya tidak sanggup kita beli atau mungkin mikir ribuan kali sebelum membeli saat di negeri sendiri.

Untuk ibu-ibu harus berani mengganti bahan makanan supaya tidak kewalahan dengan biaya belanja makan harian keluarga di rumah. Tenang saja wortel, buncis, kol dan kentang bisa terus kita nikmati dengan harga bersahabat. Telur, ayam dan daging sapi juga harganya masih masuk akal. Kalkun yang biasanya sangat mahal dan susah dicari di Indonesia, di sini dijual dengan harga yang sama dengan ayam. Ikan memang mahal, tapi supermarket suka mengadakan program diskon yang bisa kita manfaatkan.

Kalau biasanya menggunakan kacang panjang, bisa mencoba ganti dengan buncis yang sudah pasti harganya lebih murah.

Kalau biasanya menikmati kangkung, bisa mencoba tumis Romain Lettuce atau Kale. Sayur asem berisi wortel, timun dan kol aja … ternyata sama nikmatnya dengan yang biasa berisi labusiam, daun dan buah melinjo.

Kalau lagi pingin makan sambel tapi stok terasi habis di dapur, kita bisa mengganti dengan udang kering yang digoreng sebelum ikut diulek bersama cabe dan tomat.

Kalau buah, kita justru bisa kenyang menikmati buah yang biasanya mahal sekali. Strawberry dengan ukuran sebesar jambu air, peach, aneka berry (stoberi, blackberry, raspberry, dll), apel, pear, nanas, semangka, melon dan pisang berlimpah ruah. Jadi tak perlu resah.

Kalau mau irit tapi lindah tetap termanjakan, ya kita jangan malas bergerak sendiri dalam membuat makanan. Aneka resep masakan Indonesia bisa dengan mudah kita temukan di dunia maya. Cara masak pun bisa kita cari di Youtube. Tinggal kita buang rasa malasnya!

Justru di negara orang, kita jadi menghargai betapa kaya rempah-rempah dan begitu banyaknya jenis masakan Indonesia.

Tips membeli produk/makanan Indonesia di negara lain:

JANGAN di-KURS ke RUPIAH, kalo gak mau migren.

Selama penghasilan dalam mata uang yang sama dengan yang tertulis pada label harga, gak perlu sakit hati. Punya uang ya dibeli, gak punya uang balik lagi aja nanti.

Gak usah ngomel kalo ada orang Indonesia yang menawarkan hasil masakannya, tapi kita kaget dengan harganya. Pasti karena yang di kepala terbayang harga yang biasa kita bayar dalam rupiah.

Mau tau kenapa dia jual dengan harga segitu? Coba aja masak sendiri.

Atau jangan lupa membawa stok agak banyak setiap kita pulang kampung, supaya di sini gak harus beli lagi.

JANGAN LAPAR MATA.

Saat di supermarket kita suka kalap, semua mau dibawa pulang padahal belum tau mau dieksekusinya kapan. Yang demikian sangat membahayakan dompet hahaha.

Biasanya ibu-ibu nih. Main beli bahan makanan, walo di otak belum tau mau dimasak kapan. Yang ada malah ketika kita buka lemari, biasanya bahan tsb sudah tidak bisa kita gunakan. Keburu habis Expired Date-nya atau kondisi sayuran sudah tidak segar untuk dimakan.

JANGAN BERHARAP TERLALU TINGGI.

Masakan yang ditawarkan oleh orang-orang Indonesia, belum tentu sesuai dengan yang kita bayangkan. Jangan berharap rasanya mirip sama kayak di abang-abang yang biasa jual masakan tsb.

Beda tangan, akan menghasilkan rasa yang berbeda. Apalagi dengan bahan pembuat yang belum tentu selengkap dalam masakan aslinya. Lidah juga punya selera, cocok-cocokan kayak jodoh aja.

Makanan kemas pabrikan yang dijual juga pastinya sudah disesuaikan dengan selera pasar. Seperti mie instan misalnya, rasa yang dijual di luar Indonesia biasanya tidak segurih yang bisa kita nikmati. Saus kemasan juga sedikit beda rasanya. Makanya perhatikan tulisan pada kemasan. Kalau ditulis BUKAN dalam bahasa Indonesia, artinya itu sudah diproduksi untuk kondisi negara tujuan ekspor.

Pada foto di atas, saya menyebut yang kiri itu mie goreng instan KW Super. Pabrikan yang sama, tapi tulisan di bungkusnya berbeda (dalam bahasa Arab, sudah pasti produksi untuk kawasan negara-negara Arab). Selain itu yang berbeda adalah bumbunya, tidak ada saus sambal dan bumbu bubuknya juga lebih sedikit. Gak heran kalau rasanya jadi agak hambar alias tidak gurih. Kalau kata saya sih, kurang micin.

Pasti tau dong maksudnya? hahaha