Browsed by
Category: Qatar Museum

Sheikh Faisal Museum

Sheikh Faisal Museum

Senin, 23 April 2018 saya dan mba Sandra menjelajah pinggiran kota Doha sekitar 25 KM ke arah Dukhan untuk mengunjungi Sheikh Faisal Bin Qassim Al Thani Museum. Kebetulan mamanya mba Sandra lagi berkunjung ke Doha, jadi kami bisa jalan-jalan dengan modus mengantar nenek. Hihihihi.

Seperti biasa kami menggunakan jasa pak Didi, supir Indonesia langganan ibu-ibu Doha. Ternyata pak Didi juga belum pernah ke museum tersebut, jadi lah kami ber4 sama-sama turis abis. Cuma mengandalkan mba Waze dalam memandu perjalanan menuju lokasi.

Ternyata pintu keluar tol menuju museum ditutup. Kami sempat mondar mandir keluar pintu tol lain untuk mencari jalan alternatif. Akhirnya pasrah bertanya pada petugas perbaikan jalan tol, disuruh keluar di pintu yang menuju markas pengawal raja. Sebenarnya sudah melihat pintu ini sebelumnya, tapi ngeri-ngeri syedep … khawatir gak sembarang orang boleh lewat situ. Udah gitu, tampilan di layar hape saya pada aplikasi Waze cuma blank seperti ini dong:

Selamat datang di gurun!

Ini jalan tak beraspal ternyata tidak tercatat di peta. Hahaha

Deg-degan takut sedan pak Didi terjebak di tengah pasir, tapi akhirnya kami nekat karena melihat ada taxi Karwa jalan dengan cuek sedikit agak jauh di depan kami. Kalo mobil itu aja bisa, harusnya kita juga gak masalah kan ya.

Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga, dan saya langsung terpesona dengan bentuk juga luas bangunan museum ini.

Sheikh Faisal Museum

A post shared by De (@punyade) on

Sampai di pintu masuk bangunan, kami disambut oleh bapak satpam yang menginformasikan bahwa setiap pengunjung diminta untuk menitipkan tas di loker yang telah disediakan, dimana kunci loker tetap dipegang oleh pak satpam dan kita cuma diberikan kartu nomor loker saja.

Pengunjung diminta membayar tiket masuk seharga QAR 20 per orang dewasa, sementara untuk yang berusia di bawah 18 tahun bisa masuk dengan GRATIS. Di dalam gedung pengunjung boleh membawa henpon dan kamera, bebas mengabadikan dalam bentuk foto, tetapi dilarang merekam video.

Sesuai namanya, museum ini dimiliki oleh Sheikh Faisal bin Qassim Al Thani dengan luas lahan 530.000 meter persegi di daerah Al Samriya. Lebih dari 15.000 benda yang ditampilkan dalam museum ini merupakan milik pribadi dan keluarga beliau yang dikumpulkan dalam waktu 55 tahun dan masih terus akan bertambah. Sebagian besar dibeli oleh beliau dan keluarga, tetapi ada juga yang merupakan pemberian dari orang-orang ternama di dunia. Sheikh Faisal memang banyak melakukan perjalanan ke seluruh dunia, selain untuk berlibur, beliau juga merupakan konglomerat sukses pemilik grup perusahaan Al Faisal Holding yang sudah pasti sering berpergian dalam rangka urusan bisnis.

Museum ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh beliau sendiri pada tahun 1998.

Ada 3 bangunan dalam lokasi ini dengan koleksi benda yang sangat beragam dan tidak hanya melukiskan sejarah Qatar, tapi tentang perkembangan peradaban dunia. Dari fosil sejak jaman dinosaurus, benda-benda kedokteran, benda-benda keagamaan, aneka kendaraan, pakaian, perhiasan, sampai senjata dari jaman dahulu sampai yang terbaru … tersaji lengkap di sini.

Kata mbak petugas resepsionis, dibutuhkan waktu 45 menit untuk mengelilingi seluruh bangunan … tanpa membaca papan petunjuk/keterangan apalagi foto-foto. Kami ber4 menghabiskan waktu hampir 2 jam, itu pun belum sampai ke ruangan Quran, Islamic Art dan FBQ Gallery.

Begitu masuk bangunan museum, benda yang paling mencolok adalah barisan mobil. Bukan hanya koleksi mobil mewah, tapi lengkap dari mobil-mobilan dengan aneka skala, mobil balap, sampai truk dan kereta kencana juga ada. Sebut aja semua merk mobil yang pernah ada di dunia, paling enggak ada 1 biji yang duduk manis dalam ruangan ini.

Semua mobil dalam kondisi terawat, rutin dibersihkan dan secara berkala Sheikh Faisal memanggil teknisi untuk memeriksa dan manasin 6.000 mobil ini. Katanya semua mobil yang ada di sini, paling tidak pernah digunakan sekali oleh Sheikh Faisal sendiri.

Ketika di awal saya sebut koleksi museum di antaranya ada kendaraan, bukan hanya mobil semata. Tapi ada sebuah pesawat yang diletakan di tengah hall, ada barisan sepeda, motor, gerobak, kelengkapan unta, kereta kencana sampai kapal dengan berbagai macam ukuran.

Negara Qatar kan berada di semenanjung Timur Tengah, pinggir laut yang bersebrangan dengan negara Iran. Mata pencaharian penduduk Qatar berawal sebagai nelayan, kemudian menjadi penambang mutiara, sampai akhirnya mereka menemukan kandungan gas dan minyak bumi yang membuat negara ini semakin kaya.

Museum ini dibangun di atas tanah peternakan milik Sheikh Faisal. Sumur yang terdapat di dalam museum, memang sudah ada sebelum bangunan megah bagai istana ini didirikan. Awalnya sumur ini menjadi sumber air untuk perternakan, sekarang sih sudah tidak digunakan tapi tetap dipertahankan keberadaannya. Sumur dipercantik dengan memberikan sentuhan batu marmer pada bagian atasnya.

Yang seru ke bagian Medis dong. Gak cuma berbagai alat kedokteran mulai dari aneka stetoskop, tang cabut gigi, jejaruman, alat timbangan bayi dan balita, aneka tabung-tabung untuk ambil sample darah dan berbagai cairan …. di sini juga ada … KERANDA! Lengkap dengan seonggok tubuh tiduran di dalamnya.

Eh tapi ini ada rodanya sih. Mungkin ini ambulance di masanya, merangkap mobil jenazah. Entah lah. Tidak ada papan penjelasan tentang kendaraan yang satu ini.

Benda keagamaan yang ditampilkan dalam museum ini bukan hanya
dari agama Islam. Ada ruangan yang menampilkan koleksi benda-benda agama Hindu, Budha, Yahudi juga Kristen. Untuk koleksi Al Quran, ada ruangan terpisah yang letaknya di bangunan berbeda. Sayang kami tidak sempat masuk ke ruangan tersebut, padahal penasaran mau lihat Quran terkecil di dunia.

Ketika kami tiba, langit agak mendung. Tetapi ketika kami keluar, langit sudah mulai biru cerah dengan sinar matahari yang setrong banget. Dalam ruangan sudah pasti dipenuhi AC yang saya intip angka suhunya menampilkan 21 derajat celcius. Jadi gak tau kalau di luar tambah panas.

Gak kerasa loh kami menghabiskan waktu 2 jam untuk keliling museum FBQ ini. Pun masih ada 3 bagian yang belum sempat kami lihat. Benar-benar waktu berjalan tanpa terasa.

Fasilitas di dalam museum ini lengkap sih. Ada banyak toilet yang tersebar di beberapa titik. Di dalamnya ada bilik WC duduk dan jongkok. Tisu dan air berlimpah, kondisi sangat bersih terawat. Ada mushola juga di dekat barisan kapal. Tempat sholat pria dan wanita tentunya terpisah yah. Petunjuknya jelas kok, sampai ada panahnya.

Dekat pintu masuk juga ada cafetaria. Sayangnya meja bar tidak ada petugas dan tidak ada makanan apapun yang disajikan/dijual. Cuma ada 2 vending machine, mesin yang menjual minuman bersoda dan di sebelahnya mesin penjual kopi.

Yang penasaran mau lihat isi dalamnya lebih jelas, bisa menyaksikan video di bawah ini yaa:

Kalo menurut saya sih, museum ini seperti Museum Angkut di Malang tapi dengan skala lebih besar dan lebih niat. Sama-sama koleksi pribadi seseorang yang luar biasa, cuma mungkin beda jumlah uang pemiliknya aja yaaa. Hehehe