Perjalanan Mantan Pasien TBC Mendapatkan Residence Permit Qatar

Perjalanan Mantan Pasien TBC Mendapatkan Residence Permit Qatar

Sejak ada konflik politik dengan negara tetangganya, pemerintah Qatar memberikan bebas visa bagi orang Indonesia yang mau berkunjung sampai dengan maksimal 30 hari.

Saya dan anak-anak yang mau tinggal lebih lama dari itu, menggunakan Family Visa yang berlaku selama 5 tahun untuk sekali masuk ke negara ini. PakSuami yang sudah mendapatkan Residence Permit (kartu Qatar ID), menjadi sponsor visa kami.

Begitu mendarat dan stempel passport di imigrasi bandara Doha, paksuami langsung menerima SMS “istri dan anak2-anak kamu sudah tiba di negara ini. Mereka punya waktu maksimal 7 hari kerja untuk melakukan medical checkup kalau mereka mau tinggal lebih dari 30 hari

Artinya kalo kami tidak melakukan medical checkup dalam waktu 7 hari, maka kami harus keluar dari negara ini di hari ke 31 setelah mendarat.

Medical checkup wajib dilakukan untuk usia >12 tahun. Fayra tidak perlu medcheck, tapi tetap wajib datang ke kantor Medical Commission.

Kalau hasil medcheck bagus, paksuami akan menerima SMS lagi untuk proses berikutnya yaitu sidik jari. Seminggu kemudian biasanya QID sudah bisa kami terima. Dianggap SAH menjadi penduduk negara ini.

Kami tiba di Qatar tanggal 28 Dec 2017, kami pergi ke Medical Commission tanggal 1 Jan 2018 untuk melakukan tes darah dan Xray dada. Fayra hanya menunggu diluar setelah data diri dan foto diserahkan ke petugas. Pintu masuk untuk laki dan perempuan dipisah. Jadi tidak bisa suami mengantar masuk istri, atau ibu mengantar masuk anak laki. Petugas di dalam akan memandu kita, cukup sodorkan form dan lakukan pembayaran sebesar QAR 100 per orang.

Melihat hasil xray saya yang tidak normal, petugas meminta saya kembali ke papan xray dan melakukan foto 6 gaya dari semua sisi (360 derajat).

Malamnya paksuami menerima SMS yg menyatakan hasil medcheck Rafa bagus. Tapi sampai 2 hari kemudian belum ada notifikasi hasil medcheck saya. Deg-degan parah.

C423D949-C57B-4FF4-AEA2-C260AC1A72C6
Tanggal 3 Jan 2018 malam, saya dan paksuami sama-sama menerima SMS dari pemerintahan yang meminta saya datang kembali ke Medical Commission.

Hasil Xray saya sebelumnya:

  • Di foto dada depan, rusuk gak ada 2
  • Di foto belakang, L2-L3 nyambung dan bengkok
  • Di foto agak kebawah, tulang pinggul groak
  • Dan ada TB mark di paru-paru

Di form saya diberikan stempel “abnormal” … kalo kata mas Ragil “being normal is so last year” Hahaha

Tanggal 4 Jan 2018 saya datang ke Medical Commission dan diperiksa dokter, dicek kondisi jahitan 30cm di punggung.

Saya jelaskan riwayat penyakit, saya tunjukkan surat rekomendasi dari dari dokter tulang Indonesia dan rekam medis sebelumnya. Bahkan saya tunjukkan foto-foto Xray sebelum dan sesudah operasi saya tahun 2003-2004.

Perawat bilang dokter mengijinkan saya untuk bisa tinggal di Qatar selama 1 tahun dengan stempel baru di form “Conditional Residence”. Tidak deportasi (dipulangkan ke negara asal) seperti yang saya khawatirkan sebelumnya.

Tapi saya diberikan rekomendasi dan form pengantar untuk ke RS lain untuk pemeriksaan lebih detil lagi.

Kalo nanti diperiksa mereka hasilnya OK … maka RS akan langsung lapor ke kantor imigrasi untuk memberikan status full Residence Permit bagi saya.

Tidak banyak orang yang tahu kalau penyakit TBC itu meninggalkan jejak di paru seumur hidup.

Seperti halnya bekas luka alias koreng di kulit.

Meskipun TBC yang pernah diderita bukan TBC paru (bisa tulang seperti saya, usus, lambung, kulit, otak, darah, dll).

Dalam istilah medis disebut TBC Mark/Scar. Dan ini tidak ada cara apapun untuk menghilangkannya.

Walau pasien sudah mendapat pengobatan sebelumnya dan sembuh secara sempurna, jejak itu tidak akan pernah hilang dari tubuhnya. Katanya ada kemungkinan 10% bahwa penyakit ini bisa kambuh jika mantan pasien tidak menjaga pola hidupnya.

Hal ini menjadi kendala untuk mendapatkan persetujuan Visa atau Residence Permit dari negara adidaya yang sangat khawatir terhadap penyakit TBC.

Beberapa negara secara tegas menolak dengan alasan ‘tidak sehat untuk dijadikan penduduk tetap’, dan langsung memulangkan orang tsb ke negara asalnya (deportasi).

Tapi ada beberapa negara yang memilih untuk memberikan pengobatan jika memang mantan pasien dianggap memiliki gejala penyakit tsb (diduga kambuh).

Tanggal 8 Jan 2018 saya kembali memenuhi panggilan pemerintah Qatar untuk ke RS yang ke 3x nya guna mendapatkan pemeriksaan lebih detil.

Kali ini ke RS Rumailah (salah satu member dari Hamad Medical Corporation),  di gedung Communicable Disease Center di bagian Outpatient. Saya tunjukan form pengantar ke suster yang standby di depan pintu masuk, kemudian barcode pada form tersebut di-scan, dan saya diminta ke bagian pendaftaran untuk menyerahkan form. Setelah itu saya diminta duduk di ruang tunggu wanita. Selanjutnya akan ada perawat lain yang memanggil nama saya dan memandu masuk ke dalam.

Saya diperiksa tinggi dan berat badan, dicek apakah ada gejala TBC (batuk, demam, turun berat badan >5 KG, dll). Lanjut dengan ambil 2 tabung kecil sample darah. Kemudian saya diminta ke ruangan lain yang tertutup rapat untuk menyerahkan air liur dalam tabung kecil. Saya diminta kembali ke ruang tunggu, sejam kemudian diminta masuk lagi untuk menyerahkan air liur dalam tabung kedua.

Terakhir saya diberikan surat pengantar untuk bertemu dokter spesialis minggu berikutnya.

9212CB3C-8A52-48BD-8109-6459BE7CBC99

Tanggal 15 Jan 2017, jam 7 pagi Doha masih berselimut kabut. Jarak pandang tidak lebih dari 1 KM.

Calon penduduknya yang satu ini (tunjuk diri sendiri) berjalan melawan dingin menuju RS yang ke 4x untuk bertemu dengan dokter spesialis.

Sebenarnya negara ini gak ribet kok, semua sistematis dan teratur di Qatar.

Negara menjalankan peraturan ketat seperti itu untuk melindungi warga negaranya dari penyakit menular. Semua intruksi harus ngapain, dimana dan jam berapa, dikirim ke kita melalui SMS. Bahkan malam sebelum tanggal yang dijadwalkan, kita akan menerima SMS reminder. Administrasi terkomputerisasi dengan baik dan alat-alat pemeriksaannya canggih. Kondisi RS seperti yang saya lihat dalam film-film Hollywood.

Jadi saya jalani saja tanpa keluh. Toh semua yang saya jalankan tidak diminta biaya apapun. GRATIS!

Saya hanya berdoa semoga niat baik saya datang ke negara ini untuk mengabdi pada keluarga, menghasilkan keputusan yang baik pula hingga dipercaya untuk menerima QID.

Kalo ternyata diputuskan harus pulang?

Ya sudah mungkin itu yang terbaik dari Allah SWT dan pasti ada rencana lain dariNYA.

Gitu aja saya mah mikirnya.

La hawla wa laa quwwata illa billah

D16EB467-571E-4C03-ADEC-7A0C7A325EF7

Saya diminta menjelaskan pengobatan apa saja yang ditempuh sebelum dan sesudah operasi, obat apa saja yang saya konsumsi. Saya yang masih ingat detil nama-nama obatnya, menyebutkan dengan lancar. Minum obat tanpa putus selama 1,5 tahun membuat saya hafal semua namanya di luar kepala.

Alhamdulillah dokter spesialis yang memeriksa hasil lab (darah + ludah)  dan Xray, menyatakan saya sudah sembuh total dari TBC Tulang, sudah mendapat pengobatan tuntas dan tidak akan menularkan yg lain.

Bahkan dokter ini kagum sama hasil operasi 14 thn lalu yg sedemikian keren, tulang belakang saya tidak pake pen titanium … hanya diganjel 2 rusuk dan sebagian tulang pinggul. Saya pernah dipasang pen titanium sepanjang 14cm selama setahun, tapi dokter terpaksa mencabutnya karena oglek setelah saya membawa ransel ke Eropa hanya 3 bulan setelah pemasangan. Jadi beliau mengganti pen tersebut dengan tulang saya sendiri.

Dokter di RS Rumailah ini heran melihat saya bisa berjalan normal, kaget mendengar saya cerita sudah menyetir mobil  setiap hari selama 4 tahun terakhir dan melakukan jogging 5KM setiap hari. Beliau sampai bertanya di RS mana dulu saya dioperasi dan siapa nama dokternya.

I proudly said “Dr.LG is one of the best spine surgeon in Indonesia

103F0811-B448-4A80-A18F-2A15A08502B1

Allahu akbar … alhamdulillah saya diberikan form untuk kembali ke Medical Commission guna mendapat stempel persetujuan keluarnya Residence Permit. Legaaaa banget!

Saya langsung memberikan kabar baik ini ke Dr. LG yang selama 2 minggu terakhir saya minta bantuannya untuk standby menerima telpon jika pemerintah atau RS di Qatar membutuhkan penjelasan lebih detil dan akurat dari dokter yang menangani pengobatan saya di Indonesia. Beliau ikut lega dan bahagia dengan keluarnya keputusan ini.

Foto di atas saya ambil bulan Juni 2017 ketika saya mengunjungi Dr. LG untuk meminta surat rekomendasi yang menyatakan saya bersih dari TBC, tulang sudah direkonstrukti dengan baik, dan sembuh sempurna. Sekalian pamit ke beliau karena saya akan tinggal jauh dan tidak lapor diri setiap tahun (medical check up) seperti yang biasa saya lakukan selama 13 tahun terakhir.


Alhamdulillah saya sudah menerima SMS:

MC No xxxx.
يرجى من حامل رقم القومسيون أعلاه مراجعة وزارة الداخلية لاستكمال الاجراءات.
The Holder of the above MC No. is kindly requested to go to Ministry of Interior to complete the procedures.

 

Hidup kalo lurus aja kan gak seru yah … macam roller coaster kalo sampe naik turun ditebalik-tebalikin baru asyik dan menantang hehehe.

Setelah Medical Commission selesai investigasi TBC Tulang dan kasih approval, tgl 18 Jan 2018 saya lanjut Finger Print di Ministry of Interior (kantor Kementrian Dalam Negeri Qatar).

Awalnya lancar tuh 9 jari, eh terakhirnya ini jempol kiri gak mau kedeteksi. Padahal sudah menjalankan tips dari mba @zenobiasatriano untuk rajin-rajin oles vaseline petroleum jell beberapa hari sebelum sidik jari dan pagi sebelumnya gak nyuci piring biar kulit jari gak kering.

Hal yang lumrah sih kalo harus balik lagi untuk mengulang sidik jari. Malah ada teman yang cerita kalo dirinya bolak balik sidik jari sampe 10x! .

Alhamdulillah tgl 25 Jan 2018 balik lagi untuk sidik jari, lancar jaya dalam waktu 15 menit. Antrian cuma 4 orang sebelum saya, tapi proses scanning jari saya makan waktu lebih lama dari orang lain. Sampai berulang-ulang pakai antiseptik tangan dan lotion baru terdeteksi semua. Lanjut dengan scan retina mata dan telapak tangan. Setelah itu saya boleh pulang.

Beberapa hari kemudian paksuami menerima SMS yang menyatakan hasil sidik jari saya sudah OK dan bisa datang ke kantor Imigrasi untuk pengambilan kartu Qatar ID. Wuiiihh lega banget.

Saaahh deh jadi penduduk Qatar terhitung akhir Jan 2018. Bismillah …

Share this...
Share on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

6 thoughts on “Perjalanan Mantan Pasien TBC Mendapatkan Residence Permit Qatar

  1. Bacanya sampe ikutan deg2an juga, meskipun dah tahu hasil akhirnya. Niat baik insyaAllah akan selalu direstui Allah ya De.. selamat menempuh hidup baru di tempat baru.. sukses selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *