Rafa Kuliah Di Mana?

Rafa Kuliah Di Mana?

Kalau di Indonesia, pertanyaan “Mau kuliah di mana?” biasanya diajukan ketika seorang anak sudah naik kelas 3 SMA.

Begitu kami hidup di Qatar, anak-anak yang bersekolah di British atau American School sudah mempersiapkan diri 2 tahun sebelum kuliah. Selain merancang nilai raport yang diusahakan nilai meningkat setiap semester (grafik meningkat selama di SMA), mengambil International Standard Test (seperti TOEFL, IELTS, IGCSE, A-Levels, SAT) dan mereka juga mempersiapkan essay (dengan tema “kenapa saya mau kuliah di kampus X untuk jurusan Z“).

Rafa pindah sekolah ke Qatar saat menjalani tahun ke 2 SMA (kelas 11 masuk semester 2). Dia hanya punya waktu 1 tahun untuk mempersiapkan diri seperti anak-anak lain di sini. TOEFL sudah diambil di Jakarta saat mudik lebaran. IELTS akan ditempuh bulan ini. SAT akan diambil bulan Maret nanti. Alhamdulillah nilai raport sudah dijaga dan terus menanjak grafiknya. Tinggal menyusun essay aja yang belum sempat dikerjakan. Karena di kelas akhir HighSchool (Senior Class), banyak tugas-tugas harian juga yang musti dilakukan yang bentuknya sering berupa research (laporan ditulis dalam bentuk essay sekian ratus kata) atau presentasi.

Kalo di Indonesia paling sibuk bimbel tiap pulang sekolah nih. Di sini gak umum tuh anak SMA ambil bimbel atau guru privat sepulang sekolah. Yang namanya belajar ya di sekolah aja. Sisa waktunya belajar sendiri di rumah.

Ketika kami tanya “kamu mau kuliah di mana, mas?

Anaknya menjawab “kek nya aku pingin pulang dan kuliah di Indonesia aja deh

Keputusannya bulat, mau kuliah jurusan Arsitektur.

Beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menawarkan beberapa progam internasional untuk anak Indonesia di Luar Negeri, di antaranya:

  • UI

  • ITB

  • UGM

Syarat kuliah Program Internasional:

  • IBT TOEFL min score 61 atau IELTS min score 5.5
  • General SAT¬†
  • Nilai raport 5 semester atau 3 tahun terakhir

Sayangnya jurusan yang diminati Rafa belum ada program internasionalnya.

Ikut SBMPTN dong?

GAK BISA, karena syarat ikut SBMPTN itu minimal harus 5 semester menempuh SMA di Indonesia. Sementara Rafa cuma sempat merasakan 3 semester di Indonesia.

Ingin tahu biaya kuliah per semester di Indonesia tahun 2018?

Tabel tersebut dibuat oleh salah satu lembaga keuangan yang menawarkan produk asuransi pendidikan. Karena tabel ini merupakan literasi keuangan, sudah pasti ditampilkan biaya paling mahal atau biaya rata-rata yang ada di beberapa kampus. Dan tentunya biaya kuliah bisa beragam tergantung jurusan juga jalur masuk yang ditempuh.

Melihat biaya kuliah program internasional di PTN dan kuliah reguler di universitas swasta Indonesia yang sudah cukup mahal … untuk informasi aja nih … uang masuk Arsitek UnPar Bdg tahun 2018 sudah 146jt. Sementara biaya per semester 30jt. Biaya ini sama dengan biaya kuliah universitas bergengsi di negara tetangga.¬†Akhirnya sebagai alternatif, sekarang kami mulai melirik universitas di negara lain yang biayanya tidak jauh beda dengan universitas swasta di Indonesia.

Seorang teman yang baru pulang liburan dari Amerika dan kebetulan ikut program “MIT open house” mengirimkan foto biaya masuk universitas tsb melalui WA ke suami saya:

Mari kita hitung kursnya:

Biaya ini adalah biaya kuliah per TAHUN.

Mereka menawarkan beasiswa, tapi tidak ada yang diskon 100%. Tetap ada biaya yang harus kita siapkan sekitar 15-30 ribu USD per tahunnya.

Kami sempat mengunjungi beberapa pameran pendidikan di Qatar, saya share hasilnya siapa tau ada yang butuh informasinya.

Pendidikan Amerika:

  • Biaya pendidikan per tahun rata-rata $20-55 ribu
  • Biaya hidup per tahun rata-rata $10-15 ribu
  • Total dana yang dibutuhkan sekitar $35-70 ribu per tahun

Pendidikan Malaysia:

  • Biaya pendidikan per tahun rata-rata $3.500 – 6 ribu
  • Biaya hidup per tahun rata-rata $5-8 ribu
  • Total dana yang dibutuhkan sekitar $8-14 ribu per tahun

Sekali lagi musti saya tekankan biaya pendidikan tentunya tergantung jurusan dan kampus pemerintah atau swasta ya.

Sementara untuk biaya hidup itu sudah termasuk penginapan (kos, asrama kampus atau sharing apartment), makan, ongkos transportasi, buku, dll. Biaya ini akan sangat tergantung dari GAYA HIDUP SISWA tentunya. Akan lebih irit kalau siswa bisa masak sendiri, nyambi kerja paruh waktu, rajin nongkrong di perpustakaan daripada beli buku, dll.

Pendidikan di Malaysia mirip dengan Eropa, programnya 1 + 3 tahun.

Jadi ada 1 tahun Foundation atau yang biasa disebut Pre-Uni / Pre-College, bisa di-skip kalau anak menempuh SMA di British Curriculum School sampai year 13 juga memiliki nilai IGCSE A-Levels.

Indonesia dan Amerika menganut SMA sampai kelas 12, jadi wajib ambil 1 tahun foundation kalau mau kuliah di negara-negara tsb.

Kemudian lanjut jejang universitas selama 3 tahun.

Biaya pendidikan di Eropa dan Canada tidak jauh beda dengan Amerika. Kebetulan beberapa kampus dari Inggris sudah datang ke sekolah Rafa untuk presentasi program mereka ke murid-murid SMA.

Sebenarnya kami sudah mempersiapkan tabungan pendidikan yang insya Allah cukup untuk bayar kuliah Rafa di Indonesia. Cuma kami lagi deg-degan kalau Rafa diterima kuliah di negara mahal. Hehehe.

Kami mengIMANi matematika Allah SWT yang tidak ada yang bisa menandingi jika DIA sudah berkehendak.

Toh kami belok ikhtiar menjemput rezeki ke negeri gurun ini juga bagian dari menjalani salah satu skenario Allah SWT. Kami yakin insya Allah, ada rencana lain yang sudah disiapkanNYA. Kami hanya tinggal memantaskan diri dengan berusaha dan berdoa.

Dari 8 macam rezeki yang tertulis di atas, tinggal kencengin aja ikhtiarnya. Insya Allah sudah dijaminNYA. Gak usah takut!

Justru yang gak dijamin Allah SWT itu surgaNYA.

Ini yang bikin takut.

Share this...
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *