Raport Pertama Di Qatar

Raport Pertama Di Qatar

Alhamdulillah anak-anak sudah melalui setengah semester di sekolahnya dan menerima raport pertamanya kemarin.

Pihak sekolah membagikan lembaran hasil test MAP dan nilai seluruh pelajaran dalam bentuk print-out, bukan buku seperti keluaran DikNas Indonesia. Raport diserahkan ke anak-anak dan hari itu mereka pulang lebih cepat dari biasanya. Jam 12:30 sudah bubar karena guru-guru mempersiapkan diri untuk Parents Teachers Conference (PTC) di sore harinya.

Pertemuan orangtua dan guru di sekolah ini tidak diwajibkan, biasanya orangtua datang karena ada hal yang harus didiskusikan dengan guru terkait dengan raport yang diterima murid.

Bedanya dengan sekolah di Indonesia yang kalau ambil raport atau pertemuan orangtua dan guru diselenggarakan pagi sampai siang hari, di Qatar orangtua diminta datang jam 16:30 sampai jam 19:30.

Kalau di Indonesia, orangtua murid cukup datang ke walikelas saja … di Qatar kita mendatangi guru dari setiap mata pelajaran. Tenang … pelajaran di sini gak sebanyak di Indonesia kok.

Total cuma ada 9 pelajaran:

  1. Art Language (sastra Inggris) untuk Rafa, English untuk Fayra
  2. Pre-Calculus untuk Rafa, Math untuk Fayra
  3. Chemistry (kimia) untuk Rafa, Science (Ilmu Pengetahuan Alam) untuk Fayra
  4. US History untuk Rafa, Social (Ilmu Pengetahuan Sosial) untuk Fayra
  5. World 2nd Language (Rafa ambil Arabic, Fayra ambil French)
  6. ICT (komputer)
  7. PE (olahraga)
  8. Islamic Studies (untuk muslim)
  9. Optional (Rafa ambil Music, Fayra ambil Art)

Pelajaran kedua anak ini tidak sama karena Rafa duduk di kelas 11 (High School), sementara Fayra di kelas 6 (Middle School). SD standar Amerika (Elementary School) cuma sampai kelas 5, jadi meski baru kelas 6 Fayra masuk ke dalam Middle School. Saya sudah cerita kan yah, kalau anak-anak sekolah di salah satu American Curriculum School?

Saya dan paksuami tiba di sekolah jam 5. Sampai di lobby sekolah, masguh mengambil foto denah yang berisi nama guru anak2 untuk tiap pelajaran dan posisi ruang kelasnya. Kebetulan sekolah ini menerapkan sistem “Moving Class”, jadi anak-anak selalu pindah ruangan kelas sesuai dengan mata pelajaran.

Kami hanya mendatangi guru yang sekiranya anak-anak mengalami kendala dilihat dari nilai atau komentar guru yang tertulis di lembar raport.

Pertemuan orangtua murid dengan guru ini memang tidak wajib. Kalau merasa nilai anak-anak cukup OK dan anak tidak ada keluhan selama belajar di sekolah, orangtua tidak perlu datang sih. Tapi karena anak-anak baru mengalami tinggal dan sekolah di luar Indonesia pertama kali, kami merasa butuh bertemu dengan pihak sekolah untuk mengetahui proses adaptasi anak-anak di 3 bulan pertamanya.

Alhamdulillah komentar guru-guru sangat baik, anak-anak malah dibilang cukup bagus proses adaptasinya. Awalnya pihak sekolah sempat khawatir karena anak-anak masuk di tengah tahun ajaran, tapi ternyata anak-anak bisa mengikuti proses belajar dengan lancar tanpa perlu pendampingan khusus dari guru.

Language barrier (kesulitan berkomunikasi) yang awalnya sempat kami khawatirkan, ternyata tidak kejadian sama sekali. Anak-anak malah dianggap bisa berkomunikasi dengan sangat baik, tulisan tangan mereka bagus, bisa presentasi di depan kelas dengan lancar, aktif dalam mengerjakan tugas kelompok, mengumpulkan semua tugas tepat waktu, sebagian besar nilai mereka pun di atas nilai rata-rata kelas.

Yang perlu ditingkatkan hanya kemampuan anak-anak dalam menulis esai. Ini pengaruh pendidikan Indonesia yang tiap ulangan atau tes, biasanya disajikan dalam bentuk soal pilihan ganda. Sementara kalau sekolah Amerika sebagian besar soal diberikan dalam bentuk esai.

Anak-anak tidak biasa mendeskripsikan sesuatu secara panjang lebar, harus mulai membiasakan diri sekarang. Apalagi untuk Rafa yang tahun depan sudah harus masuk universitas, kemampuan menulis laporan lebih dari 500 kata dan membuat slide presentasi menjadi makanan sehari-hari.

Bagaimana cara meningkatkan kemampuan menulis esai? Harus rajin membaca buku, katanya.

Pihak sekolah menghimbau anak-anak untuk membaca buku minimal 20 menit per hari. Hal ini bermaksud untuk menambah kosakata dan mempelajari gaya penulisan.

Kami menyadari banyak orangtua yang memiliki pedoman “nilai sekolah itu gak penting, nilai bukan satu-satunya jalan menuju sukses

Kalau kami berdua justru sepakat bahwa “nilai merupakan tolok ukur kemampuan anak dalam memahami pelajaran yang diberikan di sekolah”. Kalau nilai anak di bawah rata-rata nilai kelasnya, berarti anak-anak memiliki masalah dalam memahami apa yang dipelajari di sekolah. Harus dicari tau penyebabnya dan cara mengatasinya.

Apalagi untuk Rafa yang mau kuliah tahun depan, harus memastikan nilainya cukup untuk bisa diterima di universitas dan jurusan yang diinginkannya.

Perusahaan yang bagus, memilih calon karyawan yang memiliki latar belakang pendidikan dari sekolah yang bagus (ternama dan diakui lulusannya). Universitas yang bagus memilih anak yang memiliki prestasi bagus di sekolah sebelumnya.

Soft skill (kemampuan berkomunikasi/berinteraksi, kemampuan menyelesaikan sebuah masalah, kemampuan membawa diri, dll) sangat dipengaruhi dengan kondisi lingkungan pendidikan seseorang.

Bagaimanapun nilai atau kemampuan akademik menjadi faktor penting juga dalam menentukan masa depan anak-anak nanti. Jadi tidak bisa dianggap hal sepele. Ini sih kesepakatan antara saya dan suami dalam menentukan pendidikan bagi anak-anak kami yaa. Silakan kalau memiliki pendapat yang berbeda.

Eh kok jadi ngelantur kemana-mana gegara cerita ambil raport anak-anak di sekolah ya …. hehehe.

Membahas perkembangan 2 anak dengan beberapa guru dan ditutup dengan bertemu kepala sekolah untuk membahas strategi yang harus dilakukan Rafa dalam mempersiapkan diri mencari universitas pilihannya … memakan waktu total 3 jam!

Kami tiba di sekolah jam 5 sore, baru pulang jam 8 malam. Karena kami harus mondar mandir keliling cari ruangan dan antri di tiap-tiap ruangan guru.

Ibu di sebelah saya tiba jam 2 siang di sekolah, selesai di jam yang sama dengan kami … karena anaknya ada 4 di sekolah itu.

Alhamdulillah ternyata … punya anak sedikit juga hahahaha.

Yang pasti kami bersyukur begitu mengetahui anak-anak tidak ada masalah berarti dalam proses adaptasi di negara ini. Kami sangat menghargai usaha anak-anak dalam melakukan yang terbaik dengan kondisi yang pasti tidak mudah bagi mereka. Masya Allah … alhamdulillah ya Allah.

Semoga ke depannya anak-anak bisa menjalani kehidupan di sini dengan lebih baik. Allahuma aamiin.

Share this...
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

3 thoughts on “Raport Pertama Di Qatar

  1. Wah. hebat ya mbak anak anaknya. sudah bisa beradaptasi dengan baik.

    Nilai emang penting juga seh ya mbak. paling gak jangan sampai gara gara nilai rendah jadi gak bisa mendukung cita citanya kelak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *