Visa Oh Visa

Visa Oh Visa

Setelah sebelumnya saya mengalami kejadian Lebay Menuju Dubai, kali ini saya mengalami perjalanan Terjal Menuju Qatar.

2 bulan terakhir saya dan suami sibuk mencari jalan supaya saya bisa membuat visa masuk Qatar, untuk menjemput beliau yang kebetulan sudah hampir habis masa kerjanya di sana.

Apa … udah 6 bulan, de? Gak berasa yah

Eiitt situ yang baca gak berasa, sini yang ngejalanin mah berasa banget! Hahaha

Perbedaan zona waktu selama 4 jam menjadi kendala utama, terutama ketika kami akan melakukan video call untuk mengobati rasa rindu. Sebelum pak suami berangkat ke kantor, anak-anak di sini sudah berada di sekolah. Ketika pak suami pulang dari kantor, anak-anak di sini sudah waktunya tidur. Pak suami libur kerja di hari Jumat – Sabtu, anak-anak di sini libur sekolah Sabtu – Minggu.

Solusinya adalah dengan saling mengalah. Saya yang gak kerja dan gak sekolah, bagian menerima video call tengah malam dan menunjukkan anak-anak yang lagi tidur. Kalau anak-anak libur sekolah, mereka tidur lebih malam supaya bisa ngobrol sama papanya yang masih sore. Kalau pak suami libur kerja, beliau yang rela bangun tengah malam, supaya bisa berkomunikasi dengan anak-anak. Gak enak kalau video call saat pak suami di kantor, takut mengganggu beliau.

Kayaknya lebih enak yang timezone nya 12 jam sekalian, di sana pagi – di sini malam atau sebaliknya. Kalau 4 jam begini jatuhnya tanggung banget.

Diluar itu gak ada kendala berarti, walau berat tapi masih bisa diatasi.

visaohvisa1

Kembali ke urusan visa …

Karena status pak suami yang cuma konsultan berkala dan bukan karyawan permanen, maka perusahaan tidak bisa membantu memberikan sponsor visa untuk anggota keluarga yang akan berkunjung kesana.

Kami mencoba mencari orang Indonesia yang sudah lama menetap di sana untuk membantu membuat surat sponsor, tapi ternyata tidak bisa. Sejak peristiwa Syiria, ijin masuk negara UAE (Uni Emirat Arab) lebih diperketat. Beberapa negara UAE yang sebelumnya memberikan VoA (visa on arrival) untuk warga negara Indonesia, sekarang sudah meniadakan VoA karena Indonesia termasuk dalam daftar negara sarang teroris *sigh*.

Menurut informasi yang saya terima, saya pun tidak bisa mengajukan visa ke kantor Duta Besar karena saya Single Woman Traveller. Untuk masuk negara UAE, seorang wanita membutuhkan pendamping pria dewasa (mahrom). Mas Rafa yang badannya sudah seperti orang dewasa, tidak termasuk dalam kategori mahrom karena usianya masih remaja.

Setelah 2 bulan, saya mendapat informasi kalau ada jalan untuk membuat visa melalui Qatar Airways. Syaratnya adalah saya harus pesan tiket dan hotel melalui Qatar Airways Holidays, dimana tanggal check in dan check out hotel harus bertepatan dengan tanggal landing dan take off pesawat. Gak boleh lebih, gak boleh kurang. Artinya adalah pihak Qatar Airways menjamin saya keluar masuk negara ini, tanpa ada celah saya untuk menetap lebih dari waktu yang ditentukan. Walau sebenarnya saya gak butuh hotel karena bisa tinggal di apartemen pak suami, tapi demi syarat visa ini saya harus bayar hotel 2 malam. Mana hotel yang kerjasama dengan pihak Qatar Airways juga cuma bisa hotel bintang 5. Sepertinya biaya total pembuatan visa kali ini adalah yang termahal selama saya berpergian ke negara orang. Biaya yang dikeluarkan sama besar seperti waktu Noni mengurus visa Amerika nya.

Akhirnya saya datang ke kantor Qatar Airways di Menara BCA, ternyata petugas ticketing hanya bisa membantu untuk pengurusan tiket dan visa dengan lampiran booking hotel dari web Qatar Airways Holiday. Petugas tidak bisa melakukan transaksi di web tsb melalui komputer meja nya. Kebetulan saya membawa laptop hari itu, tetapi tidak ada sinyal di lantai 38 gedung tsb. Saya harus turun ke mall Grand Indonesia untuk sekedar terhubung ke internet. Dengan kecepatan koneksi internet Indonesia yang ala kadarnya, setiap percobaan klik membuat perbedaan harga yang significant. Tiap klik, harga meningkat 100 Riyal (kali Rp3600) … bikin tambah stress aja gak sih?

Melalui WA saya meminta bantuan pak suami untuk melakukan transaksi booking hotel, alhamdulillah berhasil. Saya menerima email notifikasi yang menyatakan proses booking masih menunggu konfirmasi pihak terkait. Saya forward email notifikasi tsb bersama foto passport ke petugas ticketing dan kembali naik ke kantor Qatar Airways. Kata petugas, data tersebut cukup untuk memproses pengajuan visa, meski mereka tidak bisa menjamin bahwa saya akan menerima persetujuan visa. Kalau sampai pengajuan visa ini ditolak, pembatalan tiket pun tetap akan dikenakan biaya administrasi. Sementara biaya untuk pengurusan visa akan hangus.

1 minggu setelahnya saya belum menerima email kalau booking hotel sudah berhasil. Pak suami datang ke hotel dan mendapat informasi kalau belum ada bukingan atas nama saya. Karena khawatir hal ini akan berpengaruh pada pengajuan visa, saya kembali datang ke Menara BCA. Pihak Qatar Airways Indonesia tidak bisa membantu, semua transaksi pada web Qatar Airways Holidays berpusat di Doha. Saya diminta menghubungi langsung ke Qatar baik melalui email ataupun telepon. Malamnya saya baru menerima email notifikasi booking hotel sudah berhasil. Sedikit lega, tapi masih was-was menanti visa approval.

1 minggu berikutnya saya baru menerima email berisi visa approval. Alhamdulillah perjuangan 2 bulan terbayar sudah.

visaohvisa2

Etapi bukan hidup namanya kalau bebas hambatan tanpa masalah, kan?

Urusan visa saya selesai, kali ini giliran pak suami yang bermasalah sama visa.

Pak suami bekerja di Qatar dengan membawa bekal berupa visa Multi Entry yang berlaku selama 6 bulan. Syaratnya adalah beliau harus ke luar negara setiap bulan untuk bisa tetap tinggal di Doha. Bulan ke 2, pak suami mendapat tugas untuk rapat di Oman. Bulan ke 3, pak suami memilih pulang ke Jakarta bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Bulan ke 4, pak suami mendapat jatah tiket pulang pergi dari kantor untuk bisa berkumpul dengan keluarga. Bulan ke 5, pak suami kembali pulang lagi ke Jakarta karena bertepatan dengan hari raya Idul Adha (selain itu harga tiket ke negara tetangga cuma beda tipis dengan tiket ke Jakarta karena liburan).

Bulan ke 6, pak suami tidak bisa ke negara tetangga karena VoA untuk warga Indonesia telah dihapuskan. Tapi karena ke luar dari negara ini merupakan syarat mutlak, akhirnya pak suami bersama rekan kerjanya yang sudah tinggal tepat 1 bulan mengajukan visa masuk Dubai melalui Emirate Airlines dengan cara sama seperti saya (harus ambil paket tiket + hotel). Berangkatlah mereka hari Kamis kemarin.

Sabtu malam adalah jadwal mereka kembali ke Doha. Sampai di erpot, petugas menahan pak suami yang kebetulan visa nya habis bulan November ini. Urusan visa ini menjadi perdebatan panjang yang berakibat pak suami ketinggalan penerbangan. Jam 10 malam akhirnya beliau diberikan visa masuk Dubai lagi yang berlaku selama 1 minggu, untuk menunggu visa masuk Qatar diperpanjang oleh kantornya.

Jam 10 malam waktu Dubai, adalah jam 2 pagi waktu Indonesia.

Bagaimana saya bisa tidur kalau suami sedang bermasalah di negara orang?

Sebenarnya jika saat itu pak suami memegang tiket Dubai – Jakarta, maka tidak akan ada masalah. Atau kalau mau berpikir pendek untuk bisa bebas dari masalah, tinggal lari ke counter dan membeli tiket pulang ke Jakarta. Tapi kan tanggungjawab beliau di Qatar belum berakhir. Laptop dan barang-barang masih di Doha, pekerjaan juga belum selesai.

Mana hari Sabtu kantor libur dan rekan kerja juga pasti sudah pada tidur. Mau tidak mau pak suami harus menunggu Minggu pagi untuk koordinasi masalah visa ini dengan kantornya. Akhirnya pak suami tinggal di hotel dekat bandara untuk sementara.

Menurut informasi temannya, urusan visa ini membutuhkan waktu 1-2 hari kerja. Padahal jadwal saya berangkat ke Qatar itu Selasa malam.

Apa jadinya kalau saya sampai di sana, sementara pak suami masih ditahan di Dubai?

Saya diminta merahasiakan masalah ini ke orangtua suami yang sudah menginap di rumah kami, untuk menjaga anak-anak selama saya tinggal pergi. Anak-anak tidak akan ikut pergi karena mereka tidak bisa membolos sekolah terlalu lama apalagi sebentar lagi waktunya mereka Ujian Akhir Semester.

Sudahlah saya kurang tidur karena terus memantau update dari pak suami, pagi hari saya masih harus akting di depan mertua seolah tidak ada masalah yang sedang dihadapi anak mereka.

Stress tingkat dewa!

Berharap kekuatan doa orangtua bisa memberikan kemudahan dan percepatan dalam urusan yang sedang kami hadapi, akhirnya pak suami mengijinkan saya untuk menceritakan masalah ini ke orangtuanya dengan pelan-pelan. Khawatir mama akan menangis begitu tau anaknya sempat luntang lantung di bandara negara orang.

Setelah diskusi sama mama papa, saya diminta menunggu kabar sampai Minggu tengah malam waktu Jakarta. Kalau belum ada kepastian pak suami bisa masuk Qatar, maka saya akan pergi ke kantor Qatar Airways hari Senin siang untuk membatalkan tiket dan hotel.

Subhanallah, beneran deh kekuatan doa orangtua itu tiada tandingannya!

Saat sholat ashar, mama papa menangis tersedu dalam doanya. Memohon kelancaran urusan anak pertamanya. Alhamdulillah satu jam kemudian, pak suami memberikan kabar bahwa urusan visa sudah selesai dan beliau dijadwalkan untuk terbang kembali ke Qatar jam 11 malam hari itu juga. Pak suami diminta pindah bandara untuk naik Qatar Airways, masuk ke Doha menggunakan visa existing dan kantor sebagai penjamin suami.

Visa oh visa!

Alhamdulillah semua urusan visa sudah selesai. Senin siang saya tinggal mencari souvenir Indonesia untuk bos-bos dan rekan kerja pak suami di Doha.

Mohon doa supaya urusan dan perjalanan kami diberi kemudahan dan kelancaran ya.

 

PS:

Untuk beberapa orang yang japri ke saya karena begitu mengenal saya dengan baik, dan bertanya “tumben amat update IG dan Path kayak gitu, ada apa?

Tau banget bahwasannya gak mungkin saya upload foto pak suami hanya karena gak bisa nahan kangen :p

Semoga posting ini bisa menjawab ya. Terima kasih atas rasa sayang yang ditunjukan dengan perhatian, sampai paham banget kalo ada yang aneh dengan diri saya.

Love you more!

7 thoughts on “Visa Oh Visa

  1. ya ampun De, susah bgt ya skr emang mau kemana2 kalo urusannya visa dan ijin tinggal. Si Matt juga gt kemaren dengan imigrasi sampe akhirnya tiket kami ke Srilanka hangus

  2. Mbak De, ternyata perjalananmu ke Qatar begitu berliku prosesnya. Mamaku pernah tinggal selama 14 tahun (2001-2015) di Qatar dan visa kerjanya selalu diurus oleh pihak Qatar, dari cerita mamaku sih gampang tapi mungkin sekarang situasinya berbeda ya. Have fun selama di Doha ya :*

  3. Hi mbak, kebetulan saya mau ke Doha minggu depan dan mendadak bgt urusan personal. Tapi saya single woman traveler, begitu baca blog ini lsg mengekeret. Yg saya mau tanyain, itu utk hotel yg udh konfirm Demi urusan bisaaa, apa gk masalah cancel saat visa udh approved? Saya jg soalnya bakalan di rumah keluarga sepupu saya, dan mereka walo org embassy jg gk bisa bantu sponsorship. Jalan satu2-nya utk akomodasi mesti punya konfirm booking hotel? Duh mana gk ada yg free cancellation kan. Hiks help need advice! Makasih mbak.

    1. Hai Mba Tania,
      Iya … kalo waktu itu pengalaman saya … booking hotel di web Qatar Airways Holiday adalah jalan yang memungkinkan untuk membantu pembuatan visa.

      Saya kurang tau apakah bisa Free Cancellation atau enggaknya. Coba hubungi kantor Qatar Airwayd di Grand Indonesia aja mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *