Browsed by
Category: Rumah

Pojokan Tangga

Pojokan Tangga

Udah lama kan yah gak berbagi poto dalam rumah?

Agak bingung dengan area sekitar tangga di rumah. Mau ditaruh sesuatu takut sempit, gak ditaruh apa-apa kok gatel yah liat kosongan doang.

Akhirnya mencoba bereksperimen dengan sticker di tikungan tangga. Dari pada pakai wallpaper mahal, ngecat pun males naik-naik tangga karena temboknya tinggi … jadi mari coba kita tempel wall sticker aja dan hiasi bawahnya dengan pohon plastik:

Pohon plastik nya dimasukkan ke dalam pot kaleng:

Sementara ujung tangga atas, ada sisa lahan sedikit.

Lumayan bisa ditaruh rak untuk menyimpan buku, mainan dan art tools anak-anak:

Lumayan lah daripada kosong melompong yah?

Dan sekarang saya makin gatel dengan tembok lain, naksir wall sticker disini *heeellppp*

Masuk Tabloid Rumah lagi

Masuk Tabloid Rumah lagi

Setelah ditampilkan pada Rubrik Renovasi Tabloid Rumah edisi November 2010 seperti yang sudah diposting disini, beberapa minggu lalu kami menerima dua edisi yang menampilkan foto salah satu bagian rumah. Kami sudah menandatangani surat pernyataan bersedia untuk penggunaan foto berulang kali untuk rubrik yang berbeda, edisi berbeda ataupun dalam bentuk materi lain yang berkaitan dengan Tabloid Rumah. Jadi gak kaget lagi.

Yang pertama edisi tentang dapur dengan judul Dapur Merah Penuh Gairah:

Yang kedua rubrik tentang rak sepatu:

Kondisi rak sepatu saat ditutup seperti ini (sebelum atasnya dihias dengan frame foto ini):

Posisi rak sepatu itu tepat disebelah pintu masuk. Jadi kalau buka pintu depan, akan terlihat seperti ini:

Geser ke kiri dikit, baru keliatan meja makannya:

Hehehe begini lah tampilan kalau ngintip lantai bawah rumah kami. Jangan diketawain yaaa

Note:

Kecuali foto rak sepatu tertutup, foto lainnya diambil oleh fotographer Tabloid Rumah

Selametan Rumah

Selametan Rumah

Selametan, konon diambil dari bahasa Jawa –> SELAMET yang artinya selamat atau rasa aman. Selametan sendiri merupakan ritual yang dilakukan oleh orang Jawa untuk memohon keselamatan atau mengungkapkan rasa syukur atas perasaan aman akan perubahan hidup. Ada selametan yang berkaitan dengan kehidupan (misalnya ulang tahun, perkawinan, kehamilan 7 bulan, sunatan, dll), ada juga yang berkaitan dengan kematian (3 hari, 7 hari, 40 hari, 1000 hari setelah kematian seseorang).

Saat menghadiri acara keluarga akhir minggu lalu, saya menerima beberapa pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan selametan. Katanya karena saya baru pindah rumah, sudah sepatutnya saya menyelenggarakan acara selametan ini. Sebagai ungkapan rasa syukur kami atas karunia tempat tinggal baru dan memohon agar rumah ini memberikan rasa aman dan keselamatan bagi kami penghuninya.

Kamu udah pindah rumah, kapan selametan nya?

Mosok kita liat rumahnya di tabloid doang, kapan diundang selametannya nih?

Rumah kalian di BSD itu keluar tol pondok indah di pintu mana sih? eh udah selametan?

Pindah rumah udah agak lama tapi kok belum ada undangan selametannya sih?

Dan masih banyak pertanyaan juga pernyataan lain yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku kerabat.

Herannya … tidak ada satu orang pun diantara mereka yang hadir pada saat kami sedang repot pindahin barang alias pindahan.

Tidak ada satu orang pun diantara mereka yang sekedar bertanya:

kalian kapan pindah? butuh bantuan apa?

mo dibantuin angkat2 gak?

udah dapat truk? barang kecil2 masukin ke mobil gw aja

Gak nyalahin mereka juga sih, mungkin mereka bosan mendengar saya pindah rumah. Rumah BSD ini kan kepindahan yang ke 5 sejak kami menikah. Dari Cempaka Putih ke Cibubur ke Kayu manis ke Ciputat baru deh ke BSD. hehehe maklum kontraktor. Kontrak rumah sana sini…

Tapi apa iya untuk datang ke rumah kami harus tunggu undangan dulu? Atau sedemikian pentingnya acara selametan itu, sampai mereka tidak mau datang sebelum kami melaksanakannya? Takut gak selamet di rumah kami? Atau ada alasan lain?

Sebelum kami masuk ke rumah ini, tak lupa kami berdoa memohon akan keselamatan dan juga bersyukur kepadaNYA atas rahmat luar biasa yang telah diberikanNYA ini. Dalam doa kami, dalam sholat kami, dalam hati kami. Memang kami belum sempat membuat acara apapun karena menurut kami, acara itu hanya adat bukan kewajiban atau anjuran dalam agama. Untuk mengundang orang, kami perlu mengaturnya sedemikian rupa. Menyiapkan tempat, konsumsi, setidaknya permisi sama penghuni kanan kiri rumah karena pastinya acara kumpul-kumpul ini berdampak untuk tetangga. Parkir mobil, berisik, ramai, dll.

Kalo memang mau main ke rumah, ya tinggal telpon aja kok. Kalau kami ada, pintu rumah kami terbuka lebar untuk siapapun yang datang. Siapa sih yang gak mau dikunjungi kerabat? Kalo kami ada acara diluar rumah, kita bisa atur waktu lagi kan? Mosok gitu aja harus tunggu undangan sih.

Nah untuk yang pernah tanya kapan acara selametan rumah kami, coba saya tanya dulu deh: Kalo saya bikin selametan, pada mau bantu gak? Hayoo siapa yg mau nyumbang es buah, ayam goreng, sayur sop, sambal, lalapan, keripik, kue, cemilan? Atau bantuin beres-beres nyiapin ruang tengah aja deh. Trus kalau acara selesai, bantuin beresin ruangan lagi yaaa.

Mau gak? Janji yaaaa

Masuk Tabloid Rumah

Masuk Tabloid Rumah

Duh maaf ya kalo kampungannya keluar, norak mau pamer nih hihihihi.

2 minggu lalu ada seseorang yang menelpon saya, katanya beliau suka baca blog ini dan tau kalo saya baru aja pindah menempati rumah yang sudah selesai direnovasi. Tetapi di blog ini cuma ada foto kamar anak-anak, tanpa ada foto bagian rumah lain. Beliau minta ijin untuk meliput rumah saya dan dimasukkan ke dalam rubrik Renovasi dalam Tabloid Rumah.

Sang jurnalis tsb datang ke rumah saya hari rabu 2 minggu lalu untuk survey dan mengambil beberapa foto, kemudian keesokan harinya diajukan ke rapat redaksi. Dan ternyata rumah saya dinyatakan layak tampil. Beberapa hari kemudian kami membuat janji untuk foto session.

Penata gaya atau stylish tabloid tsb menelpon saya, menanyakan list barang-barang yg dia sebutkan apakah saya punya. Seperti bed cover, karpet, vas bunga, peralatan makan (table set), peralatan masak, buku tebal, dll. Kebetulan saya punya, walo gak tau apakah barang saya termasuk layak atau enggak. Dan mbak ini berpesan “barang yang gak penting diumpet-umpetin dulu yaaa” hehehehe apa yang musti diumpetin, wong belum banyak barang.

Pada hari yang ditentukan, kru dari tabloid datang ke rumah sebanyak 5 orang. Terdiri dari 2 juru foto + 2 penata gaya + 1 penulis (yang menelpon saya). Pertama mereka keliling rumah dulu, sambil memikirkan mau ditata seperti apa dan ngambil foto dari arah mana. Komentarnya “udah rapi kok. Tinggal tambah pernak pernik dikit. yuk kita mulai

Ternyata proses foto memakan waktu hampir 5 jam. Saat stylish menambah ornamen (tata bantal, taruh buku, toples makanan, bunga segar didalam vas, etc), sang juru foto sibuk menempatkan tripod dan pencahayaan tambahan. Sementara itu saya dan masguh diminta menceritakan latar belakang renovasi yang dilakukan, interview dilakukan di teras rumah. Setelah rapi mereka mulai foto seluruh bagian rumah.

Kami diminta menandatangani surat pernyataan bahwa kami bersedia jika foto hari ini dimuat diseluruh produk turunan Tabloid Rumah. Dari mulai buku, edisi khusus, dll. Jadi foto ini kemungkinan akan digunakan tidak hanya sekali (satu edisi) melainkan bisa berbagai macam edisi. Yang menandatangi surat tsb pemilik rumah dan juru foto.

Dari seluruh bagian rumah, mereka suka dengan rak sepatu hitam dipintu masuk, kamar anak dan dapur merah. Foto tsb tidak ditampilkan detil dalam edisi ini, tapi akan digunakan untuk edisi lain dalam rubrik yang membahasnya secara khusus. Edisi dibawah ini hanya fokus membahas tentang renovasi rumah saja. Ruang makan pun gak ditampilkan disini.

klik gambar untuk melihat lebih besar, atau beli tabloidnya kalau mau lebih jelas hehehehe

Yak akhirnya saya mejeng untuk yang ke 11x dalam media cetak. Walau begitu tetap aja norak saat melihat hasil cetakannya hahahaha. Udik tenan!

Eh jangan tanya lagi gimana caranya saya bisa sering masuk majalah yah. Sumpah deh, beneran saya gak kenal sama wartawan. Apalagi kalo dituduh saya membayar mereka untuk bisa tampil. Duh daripada bayar, mending duitnya untuk jalan-jalan aja kali.

Mas jurnalis berpesan, kalau saya punya teman yang rumahnya mau diliput …diminta untuk menghubungi beliau. Ada yang mau saya referensikan supaya rumahnya¬† bisa disurvey beliau?