Browsed by
Tag: Kyoto

Japan D6 – Back to Kyoto

Japan D6 – Back to Kyoto

Setelah menempuh perjalanan 30 menit dari Osaka ke Kyoto, kami merasa masih punya waktu untuk menuju 1 objek wisata lagi di Kyoto.

Hari ke 5 cuma datang ke 2 tempat, hujan deras dan sudah tutup. Jadi paling enggak kali ini harus masuk ke salah satu kuil terkenal lagi di Kyoto. Tapi tidak bisa yang terlalu jauh dari Ryokan.

Sanjusangendo Temple

Ada yang bilang kuil ini berisi 1000 patung Budha, ada yang bilang isinya 1001 patung Kannon. Saat masuk ke dalamnya memang banyak barisan patung, tapi saya tidak kerajinan menghitungnya. Hihihi.

kyoto8

Saat masuk ke dalamnya, kita diminta untuk membayar 600 yen. Di pintu masuk bangunan sepanjang 120 meter ini, kita juga diminta untuk mencopot sepatu, menyimpan di rak dan menggunakan alas kaki yang telah disediakan oleh pihak kuil.

Meski ditemukan tahun 1164, tapi bangunan ini masih terus dipelihara dengan baik. Memang terlihat ada debu di badan-badan patung, tapi keseluruhan bangunan sangat bersih loh. Kebetulan pada hari kami kesana, ada ibu-ibu yang sedang membuat rangkaian bunga di beberapa titik bangunan. Saya suka sekali melihat mereka lihai menata aneka bunga dan daun dalam aneka bentuk vas. Kesenian ini disebut Ikebana.

Sayangnya kita tidak diperkenankan untuk mengambil foto di dalam bangunan kuil.

kyoto9

Saya senang sekali karena pemerintah Jepang saat melestarikan kebudayaan dan bangunan-bangunan bersejarah. Walau tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris di Kyoto, tapi papan petunjuk menuju semua objek wisata dibuat dalam 3 bahasa (Jepang – Korea – Inggris). Begitu juga semua petunjuk informasi pada transportasi umum (bus – kereta). Selain itu, semua objek wisata selalu dilengkapi dengan papan bertuliskan “wheel chairs are welcome

kyoto10

Ketika jalan-jalan di luar bangunan kuil, angin semakin menggigit. Langit pun semakin gelap. Khawatir hujan turun deras seperti hari sebelumnya, kami bergegas beranjak menuju Ryokan untuk mengambil koper.

Dalam perjalanan dari Ryokan ke arah stasiun kereta Kyoto, hujan salju turun dengan lembut. Pertama saya hanya merasa kacamata seperti terantuk-antuk batu kecil. Saya lepas kacamata, eh ada bulir putih masuk ke dalam mata. Begitu saya memejamkan mata, butiran putih itu terasa mencair. Saya menadahkan tangan, bulir-bulir putih halus memenuhi sarung tangan hitam … loh ini salju kali yah?

Saya tengok ke arah Masguh meminta konfirmasi “ini salju ya?

I feel my first SNOW RAIN!

Saya pun jejingkrakan sambil menyeret koper di perempatan jalan.

Norak banget deh, maklum di kampung halaman gak ada hujan salju hahahaha.

Sementara orang-orang lain di kanan kiri saya selama menyebrang jalan, mempercepat langkah mereka untuk bisa segera masuk ke dalam stasiun. Saya malah asyik hujan-hujanan. Yaaa, mereka mah udah biasa kan … kalo saya baru pertama nih.

Malam ini kami menuju Narita dan menginap 1 malam di sana. Hari ke 7 siang kami kembali pulang ke Jakarta.

Lengkap sudah perjalanan saya ke Jepang diceritakan di sini. Lengkap juga pengalaman saya merasakan:

  • Hari ke 1 kedinginan karena salah kostum
  • Hari ke 2 melihat tumpukan salju
  • Hari ke 3 lebih kedinginan lagi
  • Hari ke 4 kepanasan
  • Hari ke 5 kehujanan basah kuyup
  • Hari ke 6 merasakan hujan salju

Thanks Rabb, for those experiences. Never thank YOU enough. YOU’re the greatest!

Semua posting tentang Jepang bisa dilihat di http://www.masrafa.com/category/jalan-jalan/japan/

Japan D6 – Osaka

Japan D6 – Osaka

Hari ke 6 di Jepang, saatnya kami menginjak kota lain yaitu Osaka.

Dari Kyoto kami naik kereta ke Osaka dan menempuh waktu 30 menit. Sengaja pagi-pagi setelah sarapan berangkatnya, karena kami harus ke Narita malam ini juga dan sudah pesan kursi untuk shinkansen dari Kyoto ke Narita.

OSAKA

Objek wisata yang terkenal di Osaka antara lain:

  • Universal Studio
  • Osaka Aquarium
  • Osaka Castle
  • Shintennoji Temple

2 nama paling atas tidak akan kami kunjungi karena tidak membawa anak-anak. Awalnya mau ke Osaka Castle, tapi ternyata kami salah naik kereta. Dan ketika kami lihat papan petunjuk di dalam kereta, stasiun akhir yang dituju kereta ini adalah Tennoji Station. Objek wisata terdekat dari Tennoji station itu Shintennoji Temple. Jadi lah tujuan berganti ke sana.

Dari stasiun Tennoji, kami harus berjalan kaki sekitar 15-20 menit menuju Temple. Perjalanan terasa menyenangkan karena kami melewati pasar. Jangan bayangkan pasar inpres seperti di Indonesia yah, ini pasar dipinggir jalan … bersiiihhhh banget.

osaka1Saya melewati penjual rempah dan aneka manisan. Harum rempah yang dibawa angin sampai ke hidung saya. Pedagangnya ramah sekali dan pandai berbahasa Inggris. “you can try, just take it“, dia menawari saya untuk mencicipi beberapa manisan buah.

osaka2

Bulan Maret merupakan penghabisan musim dingin. Beberapa rumah yang saya lewati di sepanjang jalan kaki, sudah memamerkan aneka bunga dalam pot kecil di depan rumahnya. Takjub deh, mau sekecil apapun tempat tinggalnya, orang Jepang sangat peduli dengan kerapihan dan keindahan. Halaman depan dengan lahan terbatas pun tak lepas dari hiasan pot bunga hidup. Dan di pasar ini, saya senang melihat pedagang bibit tanaman yang menggelar beraneka ragam jenis tanaman bunga dan buah.

osaka3

Kami melewati juga pasar bekas, dari mulai sepatu, pakaian, selimut, karpet, peralatan makan sampai buku-buku bekas. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Untuk pakaian dan jaket tebal, dijual dengan harga mulai dari 50rb (kalo dirupiahkan). Untuk aneka sepatu, dijual dengan kisaran harga 70-150rb saja. Kondisi barang yang dijual masih bagus dan layak pakai. Yah namapun negeri 4 musim, pakaian dan sepatu digunakan sesuai musim, paling lama 3-4 bulan.

osaka4

Jepang memang dikenal sebagai negara mahal. Makanya di awal saya agak mikir juga waktu mau bawa anak-anak ikut serta kesini. Namun untuk harga buah, saya bilang Jepang cukup murah (walau masih lebih murah harga buah di China sih). Strawberry buah kesukaan Fayra, dijual dengan harga 50rb per kotak. Isinya lebih dari 300 gram, satuan buahnya sebesar jambu air. Rasanya manis dan segar.

Strawberry macam ini dijual juga di deretan buah import di supermarket Jakarta. Tapi harga 250 gram nya bisa mencapai 70-90rb. 2x lipat harga di Jepang kan.

Ish dasar emak-emak yaaa … lagi ngomongin jalan-jalan malah bahas harga buah. Jangan sampe keluhan harga bawang ditulis juga disini. Hahaha

Lanjut yaaaa…

Akhirnya setelah 20 menit berjalan kaki santai, kami sampai juga di Shintennoji Temple. Seperti biasa deh, setiap sampai di suatu negara, kota atau pun objek wisata saya selalu mencari peta.
osaka5

Kuil ini ditemukan tahun 593 oleh Pangeran Shotoku. Untuk masuk ke halaman seputar kuil, kita tidak dikenakan biaya. Tetapi kalau mau masuk ke dalamnya, harus membayar 300 yen.

osaka6

Di pintu depan kami sempat bertemu dengan seorang bapak tua yang fasih berbahas Inggris. Beliau menanyakan asal negara kami, dan menceritakan sejarah singkat kuil ini.

osaka10

Patung pada foto di atas, katanya adalah dewa Kelahiran dan Kematian. Berada di kanan dan kiri pintu masuk ke dalam kuil, sebagai lambang awal dan akhir kehidupan.

osaka7

Saat terjadi tsunami di Jepang tahun lalu (eh bener tahun lalu kan yah?), pagoda pada kuil ini hanya bergerak ke kanan dan ke kiri sedikit. Tidak ada kerusakan yang terjadi pada bangunan kuil.

osaka8

Sayang kami tidak punya cukup waktu untuk masuk ke dalam. Padahal tiket masuk juga tidak mahal, dan area kuil ini sangat luas. Ada taman cantik di dalam kuil ini yang sebenarnya bagus untuk foto-foto hehehehe.

Kuil ini lebih menyenangkan dibanding kuil yang ada di Kyoto. Sangat tenang dan pengunjungnya tidak seramai kuil-kuil di Kyoto.

Belum puas nih menjelajahi Osaka, cuma ke 1 tempat ini doang.

Apa daya kami harus segera kembali ke Kyoto untuk check out hotel dan pergi ke Narita malam ini juga.

Semua posting tentang Jepang bisa dilihat di http://www.masrafa.com/category/jalan-jalan/japan/

Review: Satomo Ryokan – Kyoto

Review: Satomo Ryokan – Kyoto

Mendengar cerita teman yang baru pulang dari Jepang akhir Januari, beliau memberikan saran agar saya mencoba penginapan tradisional Jepang yang biasa disebut Ryokan.

Sepanjang jalan menuju Kyomizudera Temple, saya memang terpesona dengan rumah penduduk Jepang.

kyoto7

ryokan14

ryokan15

Pingin banget merasakan tidur beralaskan tatami (tikar yang menjadi alas rumah Jepang). Teman saya bilang kalau menginap di ryokan, pasti merasakan suasana itu. Dan beliau menyarankan saya untuk tinggal di SATOMO RYOKAN.
ryokan1

Letaknya sangat strategis, tidak jauh dari kantor pos Kyoto. Tepat bersebrangan dengan stasiun kereta JR dan terminal bus Kyoto. Bersisihan dengan Yodobashi Mall. Tinggal jalan kaki 5 menit dari penginapan ini, kita sudah sampai ke beberapa tempat yang biasa dicari orang (stasiun kereta, terminal bus, mall, McD, aneka restoran, mall, dll).
ryokan8

Begitu masuk ke dalam, kita akan diminta melepaskan alas kaki dan menaruh di rak yang tersedia di pintu masuk. Selop dengan berbagai ukuran (S – M – L – children) sudah dihamparkan untuk bisa kita gunakan. Untuk anak-anak, selopnya diberi hiasan gambar kartun. Lucu deh.
ryokan9

Kamar kami terletak di lantai 3. Begitu membuka pintu yang terbuat dari besi tebal, kita akan menemukan tampilan seperti foto di bawah. Sebelah kiri kamar mandi, sebelah kanan lemari pakaian. Di lurusan depannya ada pintu geser yang terbuat dari anyaman.
ryokan2

Suhu di dalam kamar lebih hangat dari pada di lorong kamar mandi dan lemari. Selain ada penghangat di ujung atas langit-langit dekat jendela, sepertinya di lapisan bawah tatami juga ada penghangat deh. Soalnya lantai tatami juga hangat sekali. Membuat kita nyaman, karena udara di luar sangat dingin. Kyoto memang lebih dingin dari pada Tokyo. Apalagi ditambah hujan seperti hari ke 5 ini.
ryokan3

Ukuran kamar kira-kira 3 x 4 meter. Tapi terkesan luas karena tidak banyak perobotan di dalamnya. Di bagian kiri ada meja pendek beserta termos air dan peralatan minum teh. Disediakan teh hijau dan gula juga. Termos juga berisi air panas.
ryokan4

Di pojok kiri dekat jendela ada meja TV kecil. Orang Jepang memang sangat efesien yah. Walau meja TV nya kecil, tapi di lengkapi dengan TV flat screen 32″, deposit box, kulkas mini, telepon meja, alat untuk masak air elektronik, alat untuk masak nasi, senter dan 1 kotak berisi 2 gelas.
ryokan5

Di pojok kanan dekat jendela terdapat meja rias mungil. Lengkap dengan hair dryer, tempat sampah dan tempat tisu. Kalau mau dandan disini, kita duduk beralaskan bantal tipis layaknya wanita jepang. Ah saya jadi ingat film Oshin *buka aib, ketauan umur deh*
ryokan6

Trus tidurnya gimana?

Tumpukan kain putih yang dilihat saat kita masuk ke dalam kamar, tinggal dibuka saja. Kain putih itu ternyata kasur tipis, selimut lumayan tebal dan 1 buah bantal. Uups, maaf sajadah nya ikut ke foto. Yang pasti itu bukan sajadah yang disediakan pihak penginapan. Hihihi
ryokan7

Kalau dirasa kasur atau selimut kurang tebal, pihak penginapan menyediakan tambahannya di dalam lemari. Selain itu tersedia juga kimono dan peralatan mandi, dari mulai sisir – jepit rambut – handuk (3 ukuran) – sikat dan pasta gigi – garam untuk larutan perendam kaki dengan wangi aneka bunga (ada 3 pilihan) – garam aroma therapy untuk berendam di bath-up (ada 3 pilihan wangi buah).
ryokan10

Sebelum pesan ryokan, sebaiknya cek dulu ketersediaan kamar mandi nya. Tidak semua ryokan menyediakan private – bathroom, atau kamar mandi di dalam kamar. Kebanyakan ryokan hanya menyediakan onsen (pemandian air panas untuk umum).

Satomo ryokan menyediakan 2-2nya. Ada kamar mandi di dalam kamar, juga ada pemandian umum yang terletak di lantai 2 untuk wanita dan di lantai 5 untuk pria. Di tempat pemandian air panas ini, kita wajib untuk bugil … asli telenji bulet neeek. Maka saya tidak berani mencoba onsen, khawatir orang-orang kabur lihat badan saya penuh resleting. Hahahaha

Kamar mandi yang tersedia di dalam kamar ini berukuran mungil. Tapi bersih dan lengkap. Terpisah dengan toilet, tapi letaknya bersisihan. Ada wastafel, bath-up, shower, sabun, shampo, conditioner, sampai bangku kecil dan baskom untuk merendam kaki. Di dalam toilet juga di sediakan selop khusus.
ryokan11

Kita bisa memilih menginap + sarapan, atau tanpa sarapan. Tentunya harga kamar tanpa sarapan lebih murah. Tapi dengan selisih 100rb, kami memilih dengan sarapan. Harga makanan di Jepang cukup mahal, sekali makan bisa 150-200rb/orang. Jadi 100rb itu bisa dibilang murah untuk makanan selengkap ini dan menambah pengalaman makan secara tradisional:ryokan12

Suatu hari nanti kalo ada rejeki bisa ke Jepang lagi dan membawa anak-anak, saya akan mengajak mereka untuk menginap di ryokan juga. Supaya mereka bisa mempelajari isi rumah tradisional Jepang dan memahami perbedaan budaya yang ada.

I want my children to be like all great travellers. They see more than they remember, and remember more than what they have seen. (quote by Benjamin Disraeli)

Semua posting tentang Jepang bisa dilihat di http://www.masrafa.com/category/jalan-jalan/japan/

Japan D5 – Kyoto

Japan D5 – Kyoto

Hari ke 5 di Jepang, Masguh sudah tidak ada kerjaan lagi. Tapi kami memperpanjang masa kunjungan di Jepang selama 2 hari ke depan.

Karena beberapa tahun lalu Masguh pernah 1 bulan tinggal di Tokyo, jadi kunjungan kali ini Masguh ingin mencoba keluar kota Tokyo. Sekalian mencoba merasakan naik kereta peluru (bullet train) yang terkenal dengan kecepatannya itu.

Batas waktu check-out kamar hotel adalah jam 10 pagi. Jadi sebelum kami sarapan, sekalian mengurus check-out. Setelah itu cusss menuju Tokyo Central untuk naik Shinkansen ke Kyoto.

kyoto1

Walau JRpass hanya berlaku untuk shinkansen yang murahan (Hikari), tetap aja kami norak saat kereta keren ini ada di depan mata.

Jarak Tokyo – Kyoto sekitar 450-an kilometer, seperti jarak Jakarta – Semarang, ditempuh kereta ini dalam waktu 3 jam saja. Sementara kalo kita naik kereta Argo dari Jakarta ke Semarang, butuh waktu 5-6 jam. Kebayang betapa cepatnya kereta peluru ini?

Shinkansen Hikari yang lebih lambat dari Nozomi ini, kecepatan maksimumnya 200an kilometer per jam. Jadi penasaran bagaimana rasanya naik Shinkansen Nozomi yang paling mahal dan paling cepat (sampai 300an KM/jam) itu yah? *ndeso mode ON*

Sampai di Kyoto sekitar jam makan siang. Belum bisa check-in di penginapan (harus jam 4), jadi kami hanya pergi ke penginapan untuk menitipkan koper saja. Kemudian kami mencari makan siang di sekitar stasiun, lalu pergi ke kantor pusat informasi mencari petunjuk untuk pergi ke objek wisata terdekat.

Kyoto ini seperti kota Solo. Objek wisatanya lebih ke pariwisata budaya dan tradisional. Selain pemandangan alam, 90% objek wisata di Kyoto berupa kuil. Enaknya disini, pemerintah menyediakan transportasi yang sangat mendukung pariwisata. Ada bus dengan rute melewati beberapa objek wisata. Tarif bus per 1x naik adalah 220 yen. Tapi kita bisa ambil 1 day pass (sepuasanya naik bus selama 1 hari) seharga 500 yen saja.

Tentu saja kami membeli tiket 1 day pass. Saat naik pertama kali, kita tinggal masuk ke dalam bus. Begitu akan turun dari bus, kita masukan kartu/tiket ke dalam mesin yang terletak di sebelah supir. Mesin tsb akan mencetak tanggal pada bagian belakang kartu. Untuk naik bus berikutnya, kita hanya perlu menunjukan tanggal pada kartu tsb ke supir bus saat akan turun. Mudah ya?

Saat menitipkan koper di penginapan, petugas resepsionis meminta kami membawa payung yang mereka sediakan di dekat pintu masuk. Kata beliau, menurut perkiraan cuaca di TV sore hari ini diperkirakan akan turun hujan. Dan benar aja dong, turun bus langsung disambut hujan deras.

Kyomizudera

Pemberhentian pertama kami: Kiyomizudera Temple, artinya Kuil Air Murni yang berasal dari perairan murni dekat situs Air Terjun Otowa di timur bukit berhutan Kyoto. Didirikan tahun 780, masuk ke dalam daftar situs yang dilindungi UNESCO.

Saat turun di halte Kyomizudera, papan petunjuk arah menuju kuil ini terpampang jelas. Informasinya, jarak kesana sekitar 500 meter. Ternyata jalannya menanjak aja dong, secara lokasinya di pinggir bukit kan. Begitu sampai di gerbang, tersaji hamparan puluhan anak tangga. Belum hilang ngos-ngosan jalan kaki dari bawah tadi. Udah harus naik tangga lagi?

Yak mari foto-foto dulu deh.

kyoto2

Meski pakai payung, tetap saja tas + sepatu + jeans + coat yang kami gunakan basah kuyup. Jangan tanya dinginnya deh, sudahlah udara winter ditambah baju basah kuyup itu membuat badan menggigil disko.

Salut sama para wanita yang menuju tempat ini menggunakan kimono lengkap dengan sendal jepit kayu. Saya pun mengajak 2 gadis cantik berkimono untuk foto bersama. Kapan lagi bisa foto dengan gadis jepang, mumpung disini kan.

kyoto3

Saat memberi aba-aba “1…2…3” baru Masguh ceklek kamera, 2 gadis ini berteriak “yi, er, san

Jiahahahahaha … saya tertipu!

Mereka bukan Oshin sang gadis Jepang, melainkan versi KW nya. Mereka adalah Amoy sang gadis China, karena mengucapkan 1-2-3 dalam bahasa Mandarin (akibat sering ke China nih, jadi tau deh)

Gak sanggup naik tangga banyak (inget jadwal periksa tulang tahunan bulan depan/April), jadi cukup sampai di pintu masuk ini aja deh. Karena sudah semakin sore, kami melanjutkan perjalanan naik bus lagi. Diputuskan untuk batal masuk ke dalam kuil ini.

Sebenarnya ada becak ala Jepang, seperti tampak pada foto dibawah ini:

kyoto4

Mana tegaaaa.

Saya pikir becak di Indonesia sudah tidak manusiawi karena tukang becak harus genjot sepeda di belakang. Ternyata di Jepang lebih parah karena tukang becaknya harus lari menarik becak dengan tubuh kita di atasnya. Pantesan tukang becak di Jepang badan nya kekar macam Mr. Barbel yang rajin nge-gym.

Ginkakuji

Kunjungan berikutnya: Ginkakuji Temple, atau yang biasa disebut Silver Pavilion. Tempat ini menjadi pusat budaya tradisional Jepang dari mulai kesenian, upacara minum teh, seni merangkai bunga, puisi, design taman dan arsitektur khas Jepang.

Di dalam nya berisi pavilion perak, beberapa bangunan kuil/candi, taman lumut dan taman kering ala Jepang, kebun dan lain-lain. Kalau dilihat dari peta dibawah ini sih, kebayang betapa luasnya:

kyoto5

Sayangnya nih …

Kami tiba disana bertepatan dengan jam tutup mereka. Jadi lah kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Cuma boleh foto di depan pintu masuknya saja:

kyoto6

Kami jalan balik ke arah halte bus. Matahari sudah mulai tenggalam saat bus datang. Kami putuskan untuk kembali ke hotel, ganti baju -sarung tangan – sepatu kemudian pergi lagi di sekitar penginapan untuk mencari makan malam. Kulit telapak tangan dan kaki saya mulai keriput dan pucat akibat kedinginan.

Owhyah … kenapa saya tidak menyebut HOTEL malah menulis PENGINAPAN?

Karena di kota Kyoto ini, kami tinggal di penginapan tradisional Jepang yang disebut RYOKAN. Unik banget deh. Tunggu liputannya di posting berikut yaaaa.

Semua posting tentang Jepang bisa dilihat di http://www.masrafa.com/category/jalan-jalan/japan/

Touch Down Japan

Touch Down Japan

Baru tahun lalu, masguh bertanya “pingin jalan-jalan kemana lagi yang belum pernah kamu kunjungi? Anak-anak kaya nya udah siap untuk perjalanan 6-8 jam di pesawat tuh

Waktu itu saya menjawab sekenanya “Jepang atau Australia deh. Aku belum pernah

Masguh sudah pernah ke 2 negara yang saya sebutkan itu. Tapi dia bertanya saya mau kemana, kan?

Sempat cari informasi ke mbak Lily yang menawarkan Japan Halal Trip. Tapi kok mahal banget yah untuk bisa ke Jepang. Tahun lalu kami baru umroh + bayar SD Fayra, tahun ini bayar SMP Rafa. Gak tau deh kapan bisa kesampaian ke Jepang. Yang penting diniatin, suatu hari nanti harus bisa sampai ke negara ini.

Per Desember 2012 Masguh menerima tugas baru di kantor yang membuatnya akan lebih sering berpergian lagi. Mendengar jadwal pergi 1/2 tahun 2013 saja sudah membuat saya geleng-geleng kepala. Tapi langsung semangat ketika menerima pertanyaan “dari semua negara tujuan itu, kamu mau ikut yang mana?

Horrrrreeeeeeee.

Saya langsung cek roadmap produk yang harus saya luncurkan tahun ini. Akhir February bisa nih cuti abis launching, karena February 2013 genap setahun saya kerja di perusahaan ini dan sudah melengkapi peluncuran 6 produk yang ditargetkan di awal tahun 2012. Bisa jadi alasan bagus ke juragan saat minta ijin cuti, toh? Hehehehe *devilish smile*

Dan beruntungnya bulan February ini adalah jadwal Masguh pergi ke …. TOKYO

Yippiiieee.

Seperti biasa yang namanya liburan nebeng, hotel dan biaya hidup akan ngikut Masguh. Saya hanya perlu modal tiket saja. Sempat mikir mau bawa anak-anak, tapi tidak jadi dengan alasan:

  1. Tiket ber 3 ampuuunn mahalnya. Dan kalau pergi ber3 ke negara mahal seperti Jepang ini, bukan nebeng liburan lagi namanya. Sudah pasti nombok
  2. Saya gak sepede waktu bawa anak-anak ke Hongkong, karena merasa di Hongkong lebih banyak orang yang berbicara bahasa Inggris walau saya tidak bisa berbahasa Mandarin atau Canton. Sementara di Jepang, konon katanya tidak banyak orang yang berbahasa Inggris.
  3. Saya belum pernah ke sana. Selama Masguh kerja, saya gak berani bawa anak-anak jalan sendirian tanpa modal pengalaman pernah kesana dan tanpa bisa bahasa setempatnya.
  4. Agak repot kalau anak-anak harus bolos sekolah selama seminggu. Apalagi Rafa sudah kelas 6 juga.
  5. Saya belum pernah melakukan winter trip. Sejauh ini kalau jalan ke negara 4 musim, selalu dalam periode akhir Maret sampai September. Kalau saya sendiri belum pernah merasakan winter trip, gimana mau mempersiapkan anak-anak untuk merasakan dingin yang ekstrim.
  6. Paspor anak-anak habis masa berlaku bulan May 2013.

Akhirnya diputuskan cuma saya yang ikut. Nanti kapan-kapan insya Allah kalau ada rejeki, akan balik lagi kesana membawa anak-anak. Itung-itung survey medan dulu lah.

japan1

Total perjalanan kami adalah 8 hari. Kami berangkat Minggu tengah malam, pulang Minggu siang. Efektif disana cuma 6 hari sih. Jadi kami hanya membawa:

  • 1 tas kamera DSLR
  • 1 tas laptop (namanya juga kerja)
  • 1 koper besar berisi seluruh pakaian saya dan Masguh dan souvenir kantornya untuk dibagikan di acara di sana.
  • 1 koper kecil berisi baju tebal + coat + sarung tangan + topi cupluk + syal untuk ganti di airport tujuan
  • 1 tas selempang berisi dokumen + dompet + gadget

Alhamdulillah anak-anak tidak rewel atau ngambek ditinggal, karena mereka diberi pengertian kalau papanya kerja sementara mamanya akan ikut untuk survey tempat liburan bagus untuk mereka. Hehehe

Sampai di Narita Airport, semua orang keluar dari belalai langsung lari ke kamar mandi untuk ganti baju tebal. Sebelum mendarat, pramugari mengumumkan suhu setempat diperkirakan minus 4 derajaat Celcius.

Melihat matahari yang gonjreng banget, dengan sok tau nya saya hanya lapis jaket kulit ditambah syal. Saya merasa sudah pakai baju 2 lapis dibalik jaket (tank top + kaos lengan panjang). Berapa suhu hari itu?

japan2

Saat masih menunggu Limo (bus express airport ke hotel) yang menjemput, saya merasa cukup hangat dengan kostum yang saya gunakan itu. Tapi begitu keluar pintu ke arah bus, saya berasa digampar oleh angin yang sangat menggigit. Langsung saya pakai sarung tangan dan menutup muka dengan syal.

Wokeh, ternyata saya tertipu dengan penampakan matahari yang bersinar sangat terang itu.

Kostum saya di hari berikutnya:

  • 3 lapis baju
  • coat tebal
  • legging di dalam jeans
  • kaos kaki tebal yang saya pakai sampai diluar jeans
  • sepatu boots
  • sarung tangan
  • syal

Badan frankenstein penuh tambalan ini kewahalan menghadapi suhu 1-5 derajat Celcius. Memang sejak operasi ke 5, saya lebih mudah kedinginan walau suhu hanya 10-15 derajat Celcius. Meski baru ini merasakan suhu dibawah 5 derajat.

japan5

Begitu mengetahui saya dan Masguh pergi tanpa membawa anak-anak, langsung orang berkomentar “bulan madu kedua yaaa?

japan3

Well … kinda *_^

Setelah 13 tahun bersama, boleh dong kali ini kami menikmati waktu hanya berdua? Untuk menjaga soda-soda asmara tetap berbusa. Hahahaha

Semoga kami bisa seperti kakek nenek yang kami temui di Tokyo Central Station ini. Masih semangat keliling dunia berdua tanpa kenal usia.

japan4

Ada pepatah yang bilang “Young people travel for knowledge, Old people travel for experience

Saya setuju dan suka sekali dengan kalimat tersebut.

Jepang adalah negara ke 12 yang saya kunjungi. Selama disini saya pergi ke 4 kota berbeda: Tokyo, Kyoto, Osaka dan Kawaguchi. Saya juga sempat kopdar dengan teman blogger, Fety di Shibuya.

Cerita detil perjalanan ini, nantikan dalam posting berikutnya yaaa

PS: iya saya masih ingat kok cerita Taiwan belum selesai. Nanti disambung lagi deh, karena yang ini lebih hangat. Hehehehe

Semua posting tentang Jepang bisa dilihat di http://www.masrafa.com/category/jalan-jalan/japan/