Browsed by
Category: Keuangan Keluarga

Komposisi Pengeluaran Bulanan

Komposisi Pengeluaran Bulanan

Siang ini saya makan bersama 5 teman wanita dan berdiskusi sangat seru. Dimulai dari salah seorang teman yang masih single, bertanya “eh emang bulan depan idul adha ya? waah gw gak punya uang untuk beli kambing kurban. gw pikir masih lama

Biasa deh gw, naluri emak-emaknya keluar … bawel “laaahhh kemana aja lo? kalo elo rutin nyisihin 100rb/bulan diniatin utk kurban, harusnya setahun cukup tuh untuk beli kambing

Dilanjut deh “iya yah…duit gw kemana aja ya mbak? harusnya ngatur duit tuh gimana sih? komposisi pengeluarannya harus gimana?

Akhirnya jadi ngomongin financial plan deh. Yah walaupun saya bukan ahli bersertifikat, tapi pengalaman ikut financial planner selama 1 tahun cukup memberi saya wawasan. Bahkan sampai saat ini saya masih menerapkan semua ilmunya untuk mengatur keuangan keluarga.

Yang paling mendasar untuk mengatur keuangan, kita harus mengubah dulu pola pikir bahwa tabungan hanya diambil dari sisa uang yang ada. Yang benar adalah:

Pengeluaran = Pendapatan – Tabungan

Jadi kita harus menyisihkan uang untuk ditabung, dari pertama kita menerima gaji atau pendapatan.

Nah berapa yang harus ditabung?

Kalau bisa sih, minimal tabungan 10% dari pendapatan.

Sementara cicilan hutang maksimal 30% dari pendapatan. Yah gak  munafik lah, untuk keluarga pemula seperti saya, punya rumah dan kendaraan pribadi itu kadang harus memaksakan diri. Gak akan kekejar kalau kita beli rumah secara tunai dari hasil tabungan. Karena harga properti selalu meningkat setiap tahunnya. Sementara bunga tabungan gak pernah lebih dari 10%. Mau gak mau kita mengandalkan KPR dari bank, dengan cicilan 5-20 tahun.

Dengan komposisi tersebut, kita masih punya 60% untuk pengeluaran setiap bulan.

Kalau kita gak punya cicilan hutang, yang ditabung bisa jauh lebih besar lagi.

Untuk yang sudah berkeluarga, apalagi punya anak … sepertinya komposisi pengeluaran seperti ini yang ideal:

  • Tabungan 10% –> dibagi untuk tab dana darurat, tab pendidikan anak, tab pensiun, tab haji, tab rekreasi
  • Cicilan hutang 30% –> dibagi untuk cicilan rumah dan cicilan kendaraan (mobil / motor)
  • Pendidikan anak 20% –> dibagi untuk bayar SPP, antar jemput, les/kursus
  • Pengeluaran rutin 20% –> dibagi untuk belanja bulanan, listrik, telpon, PAM, gas, gaji pembantu, dll
  • Pengeluaran harian 20% –> digunakan untuk tranportasi harian, belanja dapur harian, makan siang dikantor, dll

Trus kapan senang-senangnya?

Nah tinggal diatur deh tuh 40% pengeluaran rutin dan hariannya.

Jangan sampai utak atik tabungan, apalagi mengorbankan kebutuhan pendidikan anak!

Kalau dirasa 40% itu gak cukup juga, maka perkecil lah cicilan hutangnya. Kalau bisa malah gak punya hutang.

Gak cukup juga? Silahkan perbesar pendapatan!

Cuma ada 2 jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang selalu dirasa kurang:

  1. Perkecil pengeluaran (turunin gaya hidup)
  2. Perbesar pendapatan (cari bisnis sampingan atau kerjaan baru yg gajinya lebih besar)

Mau pilih yang mana?

Dicoba yuk komposisi diatas. Lakukan secara rutin dan teratur deh. Rasakan sendiri bedanya. Kita akan sadar nantinya, bahwa ternyata kita bisa. Begitu lihat saldo tabungan … wuiiihh tambah semangat untuk memperbesar presentase tabungan.

Gak percaya? sok atuh dicoba!

Persiapan pindah rumah

Persiapan pindah rumah

Sejak pertama beli rumah tahun 2005, kami sudah membuat rencana bahwa rumah tsb hanya akan kami tempati untuk periode 5 tahun. Jadi kami mencari bentuk bangunan yang pas untuk keluarga pemula, dengan komposisi 2 kamar tidur + 1 kamar mandi + 1 kamar pembantu + 1 kamar mandi pembantu + dapur + ruang serbaguna (ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga). Walau bangunan tsb cuma 65 meter persegi dan tanahnya seluas 90 meter persegi.

Waktu itu Rafa tanya “abis ini kita pindah kemana lagi?

Wajar sih, karena sebelumnya kami sudah pindah 4 kali selama menjadi kontraktor (kontrak rumah sana sini). Tapi waktu itu kami bilang “liat nanti ya mas, sementara kita disini dulu”.

Setelah Fayra memasuki usia sekolah Playgroup (3thn), dan Rafa juga makin besar (9thn) … kamar tidur menjadi masalah diantara mereka.

Sering Fayra telpon siang cuma ngeluh “ma, aku gak bisa bobo siang nih. teman kakak dikamar semua gak pulang-pulang dari tadi

Biasa lah cowok-cowok yang udah beranjak remaja, senengnya ngumpul dikamar temannya. Kalo gak dikamar, ya pasti konvoi main sepeda atau main bola di lapangan sport center.

Pertengahan tahun lalu, kami mulai survey harga rumah dengan komposisi 3 kamar tidur. Gak cuma itu, kami pun langsung menghitung dan simulasi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli rumah tsb. Ketika sudah punya cukup rasa ‘percaya diri’, kami putuskan untuk membeli rumah baru.

Pergulatannya lumayan berat.

Kami ambil pinjaman di bank untuk melunasi rumah lama (yg kreditnya masih sisa 5 tahun) + DP rumah baru. Sambil kami mencoba menawarkan rumah lama. Alhamdulillah sebelah rumah bersedia membeli rumah. Dan uang tsb kami gunakan untuk melunasi utang di bank, sesaat sebelum kami memulai KPR rumah baru. Yaaakkkk gali lubang – tutup lubang – gali lubang baru lagi hihihihihi.

Kami berani nekat seperti itu karena hutang mobil sudah habis periodenya di bulan Feb kemarin. Jadi pengeluaran yang biasanya dipakai untuk bayar mobil, dialihkan untuk cicilan rumah baru. Jadi hutang sekarang cuma 1 … RUMAH BARU.

Ketika masalah utang piutang sudah selesai, dan bisa tarik napas lega … kami memulai hidup baru hanya dengan 1 hutang aja.

Untuk pindah sekolah, saya sudah tulis disini gimana repotnya mencari sekolah baru … yang semuanya diluar prediksi kami. Untuk biaya nya, alhamdulillah tabungan pendidikan anak-anak memang dijadwalkan cair bulan Feb 2010. Jadi tepat waktu, hanya tinggal menambah sebagian yang diluar rencana saja.

Ternyata urusan pindah rumah belum berhenti sampai disitu.

Rumah baru kami tidak memiliki kamar tidur dan kamar mandi untuk pembantu. Jadi kami harus menambah sedikit bangunan dibelakang, yang artinya renovasi. Dan untuk membayar DP renovasi kami harus menguras tabungan yang ada. phieewwhhh.

Perintilannya berdatangan dari mulai biaya pembuatan kitchen set, korden, teralis, furniture untuk kamar Rafa, pembuatan taman depan dan belakang, water heater, tambah AC dan lain-lain.

Semakin mendekati kesiapan rumah yang direncanakan akhir Juni selesai renovasi, kepala saya semakin pusing. Kami tau bahwa semua perintilan itu tidak harus dipenuhi dalam waktu singkat. Tapi tetap aja begitu survey dan tau perkiraan biaya … kepala saya langsung nyut-nyutan. hahahaha

Belum lagi urusan packing dan kendaraan angkut barang nanti. Wuiihhh

Kami hanya punya waktu 2 bulan kedepan, karena kami ingin hidup disana saat tahun ajaran baru di sekolah anak-anak mulai. Karena saya dan suami adalah pekerja luar rumah, otomatis hanya punya waktu libur sabtu dan minggu. 2 bulan x 4 akhir pekan …. bukan waktu yang banyak. Belum lagi dipotong antar anak-anak les, ngemal, acara pentas akhir tahun, ambil raport, acara keluarga. hedeeehhh. Jadi wajar kan kalo saya harus mulai packing dari sekarang? Yah cukup mengisi 2 kardus setiap akhir pekan. Supaya nanti tidak panik dan kecapekan.

Ada teman yang bilang “gila lo banyak duit banget de. Abis beli rumah, masukin anak-anak ke sekolah internasional, liburan ke luar negeri, renovasi … kaya nya duit gak berseri gitu tuh

Saya cuma tersenyum dan mengucap alhamdulillah.

Modalnya adalah perencanaan keuangan yang matang (uang liburan udah disiapkan dari tahun lalu, beli tiket – voucher hotel – USD dilakukan sebelum beli rumah baru), nekat (musti ngukur kemampuan dan lihat peluang), rajin survey cek harga lebih murah sana sini.

Orang kan hanya lihat hasil akhirnya aja, gak tau perjuangan jumpalitan selama proses pencapaiannya. Tidak ada hasil yang instant. Semua harus diawali dengan tekad kuat dan dilanjutkan dengan kerja keras juga gak putus berdoa mohon kelancaran. Insya Allah apapun bisa kita wujudkan.

Sementara segitu dulu sharing tentang pindah rumahnya. Nanti dikabarin lagi kalo ada perkembangan lain. Atau ada yang mo bantuin? bantu packing boleh, bantu angkut barang nanti pun boleh, bantu kasih pinjaman lunak lebih boleh banget hehehehe

Repot demi mereka

Repot demi mereka

Lihat kan betapa repotnya punya 2 orang anak? Foto diatas cuma menggambarkan repotnya dalam mengasuh 2 anak sendirian dalam satu waktu. Kebayang gak repotnya membesarkan mereka dari tahun ke tahun, dilihat dari sisi finansial?

Akhir 2007 kemarin, keluarga kecil kami melakukan financial check-up. Kami membuat list:

  • Berapa penghasilan bulanan dan tahunan kami berdua
  • Berapa pengeluaran rutin per bulan (belanja bulanan, gas, air, listrik, uang keamanan + iuran RT, SPP Rafa, gaji asisten di rumah, dll)
  • Berapa hutang kami (rumah, mobil dan kartu kredit)
  • Berapa cicilan hutang yang harus kami bayar per bulan
  • Berapa tabungan yang kami punya

Percaya atau enggak…saldo tabungan kami hanya 100rb rupiah! Cicilan rumah dan mobil sudah mencapai 40% dari pendapatan kami. Biaya sekolah Rafa mengambil 10%, dan sisa 50% tentu saja habis untuk biaya operasional bulanan.

Tapi di sisi lain, kami mensyukuri bahwa masguh sudah mempunyai asuransi jiwa dari kantornya. Kami berdua juga punya Dana Pensiun yang dipotong 3% dari gaji bulanan + 2% dibayar kantor (menjadi tabungan pensiun 5% dari gaji masing2). Selain itu kami juga punya jamsostek masing-masing sebesar 2% dari gaji bulanan. Memang ini semua membuat potongan gaji menjadi lumayan…palagi potongan pajak. Gak tau kenapa de selalu sakit hati kalo liat potongan pajak di slip gaji. Kalo utk DPLK dan jamsostek gpp deh, kan sama aja nabung dipaksa. Toh uang itu buat kita juga nantinya. Jaminan kesehatan juga 100% dari kantor masguh. Jadi kami gak perlu lagi beli asuransi kesehatan, asuransi jiwa dan nyiapin dana pensiun. Sampai saat ini kami masih merasa cukup dengan yang sudah ada tsb.

Melihat breakdown pengeluaran yang ada, kami berdua bingung biaya apa lagi yang bisa kami pangkas atau kurangi. Alternatif yang tersedia hanya: KURANGI PENGELUARAN atau TAMBAH PENDAPATAN. Alhamdulillah di awal tahun ini kami berdua mendapat promosi dikantor masing-masing yang artinya ada tambahan pendapatan untuk keluarga kecil kami. Allah SWT memang Maha Mengetahui segala kebutuhan hambaNYA.

Dengan komposisi pendapatan yang baru, kami bisa bernapas lebih longgar sekarang. Karena porsinya menjadi berubah. Dan kami bisa menyisihkan sebagian pendapatan kami untuk masa depan anak-anak.

Langkah awal di bulan Januari kami membereskan utang kartu kredit. Gak gampang…tapi harus dilakukan. Bunga kartu kredit 3% per bulan, jika ditotal >30% per tahun! Sedangkan bunga tabungan dan deposito di bank aja gak lebih besar dari 7% per tahun. Utang kartu kredit berawal dari pemakaian rumah sakit setiap bawa anak ke dokter. Tapi begitu kantor sudah mentransfer rimbesan, kami lupa bayar CC nya. Bgini deh akibatnya…utang jadi menumpuk. Jangan ditiru yah!!. Tapi jangan khawatir juga, karena kami sudah membereskannya sekarang.

Bulan Februari kami mulai memilah-milah tabungan. Gaji De di rekening A, gaji masguh di rekening B. Semua itu kami satukan dan langsung bagi menjadi:

  • Transfer ke bank C untuk cicilan rumah dan tabungan pendidikan SMP Rafa – TK Fayra (bulanan)
  • Transfer ke bank D untuk cicilan mobil (bulanan)
  • Transfer ke bank E untuk tabungan haji yang di split dalam 2 account, karena bertekad mo brangkat haji berdua, jadi harus terdaftar 2 nama (bulanan)
  • Transfer ke bank F untuk investasi. Di bank ini nantinya dana kami di split menjadi 3 produk ReksaDana utk 3 kepentingan yang beda yaitu Dana Darurat (min 12x gaji , kata wina), Biaya SMA Rafa dan Biaya SD Fayra (yang ini cuma dilakukan saat terima bonus)

Repot yah? Enggak juga sih…kan sekarang ada ATM bersama. Kita bisa transfer ke rekening di bank lain dalam 1 mesin ATM. Jadi setiap awal bulan, kami bisa berdiri di mesin ATM selama 5-10 menit untuk melakukan semua pemindahan dana itu. Males kalo harus ke bank dan mengisi beberapa form transfer.

Setelah itu selesai, baru kami membayar kewajiban-kewajiban lain seperti bayar skolah Rafa, belanja bulanan, bayar listrik, iuran RT dll.

Semua kerepotan ini terbayar ketika kemarin de ingat bahwa tahun depan 2009 Fayra genap 3thn, udah harus masuk PlayGroup. Berarti akhir tahun 2008 ini kami harus mendaftarkan dan membayar uang sekolahnya. Alhamdulillah dana sudah siap.

Lalu tahun 2010 Fayra harus masuk TK, yang berarti harus bayar sekolah lagi. Ketika melihat tabungan pendidikan…kami bisa santai dan tenang. Uang 250rb per bulan yang kami sisihkan sejak Fayra berusia 6 bulan menjadi sangat berarti, bulan Februari 2010 nanti terkumpul 36 bulan x 250rb … alhamdulillah cukup untuk bayar uang masuk TK di sekolah yang sama dengan Rafa. Coba kalo uang 250rb itu ada di dompet tiap bulan, beli baju 1 stel juga abis, atau ke mall pas wiken bawa anak-anak … pasti abis untuk bayar parkir dan makan 4 orang. Ya kan?

Dari semua breakdown diatas…udah jelas kan kalo kami gak punya tabungan biasa (liquid) atau deposito. Kami memilih jalur lain dengan membuat tabungan dalam bentuk investasi reksadana dan menyandarkan diri kami pada asuransi jiwa, jamsostek juga DPLK untuk masa depan. Bukan apa-apa, kami gatel kalo liat di ATM masih ada saldo lebih. Pasti akan ada aja excuse untuk menghalalkan kami narik duit itu. Selain itu ada alasan lain yang mendasari kami memilih jalur ini, yaitu:

Tabungan biasa, return hanya 2-4% per tahun (baca disini)

Deposito, return hanya 4-6% per tahun (baca disini)

ReksaDana Pasar Uang, return bisa 7% per tahun (baca disini)

ReksaDana Pendapatan Tetap, return bisa 10% per tahun (baca disini)

ReksaDana Campuran, return bisa 20% per tahun (baca disini)

ReksaDana Saham, return bisa 25% per tahun (baca disini)

walo itu semua tentu saja berbanding lurus dengan resikonya. Jangan lupa kalo semua investasi juga ada resiko biar sekedar tabungan biasa. Nabung di celengan juga ada resiko kemalingan, bukan?

Kalo mau tau gimana cara investasi di ReksaDana baca ini aja yah. Atau kalo mo tau perbandingan unit link dan ReksaDana juga bisa baca yang ini. Kalau De sih menghindari unit link, seperti yang dijelaskan disini.

De nulis ini bukan untuk pamer seberapa besar tabungan yang de punya. De juga bukan mau menggurui cara menabung yang baik dan benar. De cuma mau sharing berdasarkan pengalaman hidup kami yang sudah melalui 8 tahun biduk rumah tangga dan memiliki 2 orang anak yang tentunya butuh biaya tidak sedikit untuk masa depan mereka.

Kalo Adit pernah nulis tentang bagaimana cara membesarkan anak, disini de cuma nulis bagaimana mempersiapkan dana untuk masa depan anak. Banyak orang masih menganggap remeh masalah ini “Uang sekolah anak ya nanti aja dipikirin kalo anak udah mau masuk sekolah. Ngapain juga elo skarang mikirin biaya SMA Rafa. Kerajinan amat sih lo de!

Mungkin orang yang ngomong gitu belum tau kalau biaya masuk fakultas kedokteran sekarang >75juta (baca disini). Inflasi biaya pendidikan itu 10-20% per tahun. Kebayang kan brapa biaya yang harus kami siapkan jika Rafa memilih fakultas kedokteran 10 tahun lagi?

kita coba itung yuk:

asumsi inflasi 15% per tahun untuk biaya universitas, maka faktor pengali untuk 10thn menjadi 4,05 (de punya tabel nya kalo gak percaya)

Rp 75,000,000 x 4,05 = Rp 303,750,000

Biaya skrg 75jt, 10 tahun lagi menjadi 300jt

Untuk kamu yang punya rejeki berlebih dan bisa didapat sewaktu-waktu, hal ini mungkin hal sepele. Tapi tidak bagi kami yang penghasilan nya sudah ditetapkan perbulan. Karena itu kami memilih repot sekarang demi masa depan anak-anak kami. Daripada saat waktunya datang kami repot cari hutangan kanan-kiri untuk bayar sekolah anak.

Punya anak itu tidak mudah. Anak itu amanah dari Allah SWT yang harus kita jaga, kita besarkan dan kita berikan pendidikan. Memiliki anak yang sehat, cerdas dan beriman membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Ayo jangan cuma diem aja dan ngebayangin suatu hari nanti anak kita akan menjadi presiden, pilot, insinyur atau dokter! Gak ada gunanya punya cita-cita kalo kita tidak membantu anak kita dalam mewujudkan cita-citanya.

Untuk sementara sampai hari ini, baru ini yang bisa kami lakukan. Bagaimana dengan kalian?

Setiap orang harus menabung

Setiap orang harus menabung

Beberapa hari lalu, saya menerima email dari sebuah milis bukan bunda biasa dengan topik yang sangat menarik.

—————————————————————
From: Bundainbiz@yahoogroups.com
Sent: Sunday, August 12, 2007 11:50 AM
Subject: [BundaInBiz] Wanita karir harus menabung, kenapa yah?

Wanita karir harus menabung, kenapa yah?

Memang sekarang jenjang karir Anda sedang menanjak, pemasukan juga meningkat plus fasilitas kantor yang wah. Namun ada baiknya Anda jangan terus berfoya-foya menghabiskan gaji bulanan Anda. Manfaatnya mungkin baru dirasakan saat masa tua Anda namun bila dimulai dari sekarang tentu hasilnya akan maksimal.

Nah alasan Anda sebagai seorang wanita karir harus segera menabung:

1. Masa hidup Anda sebagai perempuan biasanya lebih panjang daripada laki-laki. Nah, Anda tidak mau bergantung pada keluarga atau anak-anak Anda bukan.
2. Perempuan lebih sering berganti pekerjaan dibandingkan laki-laki. He..mungkin karena perempuan moody kali ya
3. Kebanyakan pekerja perempuan tidak mendapatkan fasilitas pensiun dari perusahaan
4. Kalaupun mendapat fasilitas pensiun, biasanya lebih sedikit dari
laki-laki
5. Mungkin ada yang bisa menambahkan ? nanti saya update lagi artikel
ini di blog saya 🙂

Thanks a bunch…

Regards,

Shu Chin
—————————————————————–
From: Retno Kristiani
Sent: Friday, August 10, 2007 5:33 PM
To: Bundainbiz@yahoogroups.com

Menarik juga nih topiknya….

Tapi menurut de….tidak cuma wanita karir yang harus menabung. Semua orang harus menabung. Walo semua orang juga tau menabung itu perkerjaan yang membosankan.

Setiap orang harus bertanggung jawab dengan masalah keuangan dirinya, ini artinya apa?

  • Artinya kita harus bisa menghasilkan uang sendiri
  • Artinya kita gak boleh minta
  • Artinya kalo kita gak punya…jangan minjem
  • Artinya kalo kita pinjem ke orang, ya kita harus mulangin!

Kalo dulu MENABUNG = PENGHASILAN – PENGELUARAN, sekarang pemikiran itu harus dibalik menjadi PENGELUARAN = PENGHASILAN – TABUNGAN

Jadi usahakan menabung dulu sebelum uang kita habis dipergunakan. Jangan menabung dari sisa pengeluaran.

Kalo sekarang kita merasa uang yang kita hasilkan gak ada sisanya yang bisa ditabung…brarti ada 2 jalan yang bisa ditempuh sebagai solusi, yaitu:

  • Kurangi pengeluaran (bisa dengan ngurangi gaya hidup atau
    standar hidup kita)
  • Perbesar pendapatan

Kalo kita merasa pengeluaran kita udah minim banget…gak ada yang bisa dikurangi lagi….ya berarti udah saatnya kita memperbesar pendapatan!

Memperbesar pendapat bisa diperoleh dengan jalan menambah 1 lumbung (yg tadinya cuma suami menjadi lumbung keluarga…berarti udah saatnya sekarang ibu harus bekerja untuk menjadi lumbung lainnya) atau pindah kerja ke tempat yang gaji nya lebih gede.

Saya gak bilang bahwa semua ibu harus bekerja kantoran (seperti nasib saya sekarang). Tapi setiap ibu bisa mendapatkan tambahan penghasilan dengan menjalani usaha apapun yang bisa dilakukan dari rumah.

Memang tidak mudah untuk memulai suatu usaha. Tapi ingat….kita tidak perlu hebat untuk memulai, melainkan kita harus memulai untuk bisa menjadi hebat!

Mulai nabung? Yukkkkk
Mulai buka usaha? Yukkkk
Cari kerjaan dengan gaji lebih gede? Siapa takut
Tetap kerja dikantor? Boleh aja…ini semua adalah pilihan kok 😉

Bahkan surga dan neraka pun sudah jelas digambarkan dalam alkitab.
Tinggal kita aja yang memilih mo masuk kemana. Apalagi hidup kita….

Kita yang bertanggung jawab atas keuangan kita, hidup kita, keluarga
kita dan masa depan kita

Istri dari 1 suami – ibu dari 2 anak – pekerja kantoran – pemilik online catalog – terima oderan bday cake juga loh hihihi

-de-

————————————————————–

itu isi email balasan de. Menurut kalian gimana…ada yang punya pendapat lain?

Ibu Pekerja

Ibu Pekerja


picture taken form gettyimages

“Elo gak konsisten de!”

Saya cuma tersenyum saat seorang sahabat memberikan komentar itu ketika mengetahui bahwa saya memutuskan untuk kembali kerja kantoran padahal baru sebulan sebelumnya saya memutuskan untuk menjadi Full Time Mother at home (FTM) dengan tekad yang sudah bulat ada di hati saya.Tapi keputusan saya untuk bekerja kantoran lagi, juga bukan hal yang mudah untuk diambil. Hati saya tentu berontak, karena saya masih ingin menjalani hari-hari bersama Rafa. Saya memutuskan ini dengan segala pertimbangan atas kebimbangan dalam hati, dengan mendengarkan masukan dan kritik dari banyak orang juga memohon petunjukNYA. Tetapi saya selalu mengingatkan hati dan pikiran bahwa saya hanya akan bekerja dikantor! Saya tidak akan membicarakan masalah pekerjaan dengan orang luar, tidak menulis tentang pekerjaan saya di blog, juga tidak akan membawa pekerjaan saya pulang ke rumah.

Komentar sahabat ternyata tidak cuma sampai disitu, tapi beliau malah mengajukan pertanyaan yang tidak kalah mengganggu pikiran:

“Apa yang elo cari sih de? Kalo cuma mikirin materi, gak ada abisnya sist!”

Mhmmmm…saya perlu menarik napas dulu untuk menjawab pertanyaan ini.

Pertanyaan yang simple tapi membutuhkan pemikiran yang dalam. Tapi karena pertanyaan itu datang dari seorang sahabat yang kebetulan saat mengajukan pertanyaan ini beliau masih single (baru menikah beberapa hari lalu), saya bisa memahaminya.

Saya punya seorang teman dunia maya (sampai sekarang kami belum pernah berhasil bertemu di dunia nyata) yang bisa menjadi contoh sukses ibu bekerja. Saya juga mempunyai tetangga yang meminta jangan salahkan dirinya kalau harus bekerja. Tapi apa iya sebaiknya perempuan bekerja?

Akhirnya ada beberapa hal yang bisa saya jelaskan kepada sahabat atas pertanyaan apa yang saya cari dengan bekerja kantoran. Saya mencoba mengingat hasil diskusi saya dengan suami ketika kami memutuskan bersama bahwa saya harus bekerja lagi. Ekonomi keluarga menjadi faktor penting yang menuntut saya harus menjalani lagi profesi sebagai Ibu Pekerja.

Seperti yang semua orang juga tahu bahwa biaya hidup yang meliputi kebutuhan pangan sangat fluktuatif dan cenderung naik dari tahun ke tahun. Sedangkan kenaikan gaji tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan harga sembako. Kalau cuma untuk makan sehari-hari, kita yang dewasa mungkin rela melakukan puasa senin kamis demi menghemat belanja bulanan. Selain itu dengan berpuasa kita juga menjalankan ibadah, jadi selain irit kita bisa mengharap pahala. Tapi coba untuk susu anak, apakah kita rela melakukan pemangkasan biaya? Apakah kita akan membiarkan anak minum susu hanya senin-kamis?

Setelah merasakan menjadi kontraktor alias ngontrak rumah sana sini selama 5 tahun, membuat kami berpikir untuk memiliki rumah tinggal sendiri. Keluarga mana sih yang tidak bercita-cita memiliki rumah tinggal sendiri? Memiliki rumah tinggal walaupun belum mencapai titik Rumah Idaman, tetap saja membutuhkan banyak uang karena kenaikan harga tanah tidak kira-kira dari waktu ke waktu. Dan hal ini sulit dipenuhi oleh keluarga baru seperti kami tanpa mengandalkan cicilan dari bank. Kalau hanya mengandalkan gaji suami untuk membayar cicilan, tentu akan sulit. Karena gaji suami pasti sudah terkuras untuk kebutuhan pangan, pendidikan anak, gaji pembantu, juga biaya operasional rumah.

Untuk keluarga yang sudah memiliki anak usia sekolah, biaya pendidikan juga menjadi pengeluaran yang tidak kalah besar. Inflasi biaya pendidikan selalu mengalami kenaikan 10-30% setiap tahun (mulai biaya SPP, buku pelajaran, seragam sampai alat tulis). Untuk keluarga yang belum memiliki anak atau sudah punya anak tapi belum memasuki usia sekolah, sebaiknya pun sudah mulai untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk dana pendidikan anaknya kelak. Karena semakin dini kita menyisihkan, semakin besar dana yang akan kita miliki.

Yang tidak kalah penting nih, kewajiban untuk memiliki kendaraan. Karena kendaraan pribadi sangat dibutuhkan untuk sebuah keluarga yang hidup di pinggiran sebuah kota besar. Apalagi dengan posisi kantor yang berada di tengah kota, sementara tempat tinggal sanggupnya beli di pinggiran. Kondisi kendaraan umum di Indonesia yang masih kurang nyaman dan aman tentu membuat setiap orang berjuang untuk memiliki kendaraan sendiri. Begitu juga dengan kami, keluarga kecil dengan 2 orang anak dan tinggal di selatan Jakarta (bukan Jakarta Selatan yah…masih lebih jauh lagi soalnya) sementara kantor suami tidak jauh dari Monas. Untuk membeli motor, rasanya tidak mungkin. Karena kendaraan ini selain kami pakai untuk ke kantor juga akan kami pakai untuk berpergian dengan anak-anak. Kami khawatir membawa 2 orang anak berpergian jauh dengan motor. Jadi kami memutuskan untuk membeli mobil dengan menyicil di bank. Mhmmmm…pengeluaran dan hutang kami semakin besar saja yah.

Itu belum termasuk cita-cita kami untuk bisa menjalankan ibadah haji, kebutuhan akan liburan, dan terus melanjutkan sekolah sampai ke jenjang yang tak terhingga. Karena kami ingin memberi contoh ke anak-anak bahwa kami tetap ingin belajar walau usia sudah bertambah. Semoga dengan contoh ini anak-anak lebih bersemangat untuk menuntut ilmu.

Jadi bekerja untuk UANG? Yah memang begitu kondisinya. Memang uang bukan segalanya…tapi segalanya bisa kita lakukan saat ini kalau kita memiliki uang!

Saya tidak merendahkan keberadaan suami saya. Dan saya tidak bilang bahwa suami saya tidak dapat mencukupi hal tersebut diatas. Buktinya sekarang saya bisa menikmati hidup cukup layak, menempati rumah mungil milik sendiri, dan memiliki mobil yang bisa mengantarkan saya dan anak-anak kemanapun. Semuanya ini hasil keringat beliau kok. Saya tidak dapat memungkirinya.

Saya dan suami percaya bahwa rejeki setiap keluarga sudah ditetapkan oleh NYA dan datangnya rejeki tersebut bisa melalui siapapun. Rejeki untuk keluarga kami bisa datang dari suami atau bahkan melalui saya selaku istrinya. Rejeki itu sudah diatur dan disiapkan, tinggal bagaimana cara kita menjemputnya saja.

Kalau saat ini penghasilan suami saya lebih besar, berarti itu jalan Tuhan dalam memberi rejeki yang sudah diaturNYA. Kalau nanti penghasilan saya lebih besar dari suami, itu juga pasti jalan Tuhan yang lain sebagai bagian dari rencanaNYA. Jadi suami atau istri tidak boleh merasa sombong ketika penghasilannya lebih besar, atau merasa rendah diri ketika penghasilannya lebih kecil. Justru kita harus bisa memanfaatkan kondisi tersebut untuk mencapai cita-cita financial keluarga.

Ketika saya berdiskusi dengan suami tentang pekerjaan, suami saya berterus terang dan mengungkapkan perasaannya bahwa sebenarnya dia memang ingin saya tetap bekerja. Karena tuntutan ekonomi yang sedemikian rupa, dia merasa belum sanggup memenuhinya sendiri. Saya juga sadar sepenuhnya, bahwa saya dan suami adalah sebuah tim yang sedang menyusun kepingan puzzle hidup keluarga kami. Kalau dia merasa belum sanggup, saya juga tidak boleh egois dengan membiarkan dirinya bekerja keras seorang diri. Karena saya yakin beliau juga punya keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi semua kebutuhan keluarga dan melihat saya dirumah mengurus keluarga.

Hasil diskusi tersebut menghasilkan sebuah keputusan bahwa saya mau tidak mau harus menjalankan profesi sebagai Ibu Pekerja Luar Rumah, sebisa mungkin saya hanya bekerja di kantor. Saat saya pulang ke rumah, saya kembali menjadi diri saya yang berupa seorang istri dari 1 suami dan sekarang ibu dari 2 anak, tanpa embel-embel WANITA KARIR.

Untuk memenuhi kewajiban saya sebagai seorang ibu, saya masih memerah susu untuk stok minum Fayra selama saya tinggal kerja. Walaupun saya hanya bisa memberikan ASI nyaris Ekslusif, tapi ini sudah yang terbaik yang bisa saya lakukan. Saya tetap memasak, mengatur jadwal anak untuk minum susu – makan – tidur, menyempatkan diri membaca cerita untuk anak-anak (walau tidak setiap malam), bermain bersama anak walau hanya 1-2 jam per hari, menata seluruh ruangan yang ada dirumah, saya pun sebisa mungkin menyempatkan diri untuk hadir di setiap acara sekolah Rafa.

Capek pasti saya rasakan. Tapi kalau kita melakukan semuanya dengan ikhlas, insya allah rasa capek akan sedikit kita rasakan (tidak mungkin kalau kita tidak merasa capek sama sekali). Selain capek, waktu yang tersisa untuk anak tidak banyak, Saya selalu mengingatkan diri saya bahwa ini lah perjuangan untuk keluarga. Dan inilah konsekuensi yang harus saya terima sebagai Ibu Pekerja Luar Rumah.

Seperti tulisan mbak wina idealnya seorang ibu bisa bekerja dari rumah. Memang enak kalau kita bisa berpenghasilan, tapi tetap punya waktu untuk antar jemput anak sekolah, sempat memandikan dan menyuapi, sempat bantu bikin PR nya, sempat bermain sepeda di taman, sempat menemani anak melihat Barney and Friends, bahkan sempat ‘ngelonin’ tidur siang sampai ikut ketiduran.

Beruntung saya mempunyai beberapa orang teman yang mempunyai misi dan pemikiran yang sama tentang deskripsi IBU PEKERJA LUAR RUMAH. Saya bisa bertukar pikiran dengan mereka tentang tujuan hidup. Dan kami saling curhat di kala pekerjaan menumpuk tapi sama-sama kangen rumah. Kami bertekad bahwa suatu hari nanti kami akan berhenti menjadi ibu pekerja luar rumah dan berubah menjadi IBU RUMAHAN BERPENGHASILAN. Memang saat ini kami masih bekerja di luar rumah untuk mengumpulkan modal dan menjalin networking demi mencapai cita-cita kami. Teman kantor bercita-cita untuk menjadi tukang kue. ;Teman baik bercita cita menjadi supir antar jemput sekolah. Teman curhat bercita cita menjadi penulis lepas dan editor. Sedangkan saya yang tidak bisa jauh dari komputer dan dunia maya memutuskan untuk menjadi pedagang onlen. Terdengar terlalu sederhana kan cita-cita kami?

Tapi ternyata untuk mewujudkan cita-cita menjadi ‘ibu rumahan berpenghasilan’ ini sungguh tidak mudah. Perlu ide bidang apa yang akan kita jadikan bisnis, perlu modal, pengetahuan, keahlian, dan motivasi kuat untuk menjalankannya. Walaupun kita melakukan usaha dirumah, kita tetap harus bisa mengatur waktu dan disiplin. Kita harus pintar membagi waktu antara mengerjakan pekerjaan rumah dengan mengerjakan bisnis.

Kalau kita kerja kantoran, kita bisa tidak peduli dengan pendapatan perusahaan karena memang kita dibayar fix perbulan. Kalau kita kerja dirumah, pendapatan kita tergantung dari hasil perjuangan kita sendiri. Kalau kerja kantoran, resiko terburuk yang kita terima adalah pengurangan karyawan atau perusahaan ditutup karena bangkrut. Tapi kalo kerja dirumah, resiko terburuk adalah tidak ada pendapatan atau bahkan uang dan tabungan yang kita pakai sebagai modal bisa amblas karena bangkrut.

Apakah anda ingin bekerja di luar rumah (kantoran) atau menjalankan bisnis dirumah, itu adalah sebuah pilihan. Semua pilihan yang diambil pasti ada resikonya. Memang menyenangkan kalau pekerjaan yang kita lakukan bisa menghasilkan, biar sedikit tapi lumayan bisa buat beli BH dan lipstik. Lebih bahagia lagi ketika yang kita lakukan ini berhasil, bermanfaat untuk orang banyak, dan suami juga ikut bahagia dan mendukung karir kita.

Jika gaji suami anda cukup besar hingga bisa mencukupi seluruh kebutuhan ekonomi keluarga, BERSYUKURLAH. Tapi tidak semua orang merasakan yang sama. Untuk itu sebagian dari kita para istri memilih untuk tetap bekerja sebagai bentuk kerjasama dengan suami untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Gak ada salahnya kalau kita coba membantu suami dengan melakukan pekerjaan yang menghasilkan, sebagai wujud kerjasama kita dalam membangun sebuah keluarga yang kita impikan bersama suami. Kapan harus mulai melakukannya? Kenapa juga gak dimulai dari sekarang. Yukkkk..