Review: 5FootWay Inn Singapore

Review: 5FootWay Inn Singapore

Perjalanan kemarin merupakan pengalaman pertama saya menginap di sebuah HOSTEL. Biasanya kalau tugas kantor, saya mendapat jatah hotel berkelas lumayan. Sementara kalau liburan keluarga, kami memilih hotel melati atau maksimal bintang 3-4 karena tidak tega mengajak anak-anak menginap di hostel. Tetapi pengalaman kemarin sangat membuka mata saya, dan seperti nya akan merubah pola pikir saya untuk liburan keluarga berikutnya.

Mau tau kenapa?

Ternyata hostel itu menyenangkan!

Dan tidak mengkhawatirkan untuk anak-anak.

*pasrah deh dibilang norak atau telat tau*

Beginilah hasil review saya tentang hostel 5FootWay Inn Project China Town 1 – Singapore:

Lokasinya sangat strategis. Benar-benar sesuai namanya, 5 langkah dari pintu A stasiun MRT China Town. Langkah bule yang kakinya panjang tapi yaaaa. Hehehehe. Kalau langkah saya sih mungkin bisa 10footway. Pokoknya begitu keluar pintu A (seperti tampak di foto atas), tinggal liat kanan aja. Plang 5footway berwarna hitam putih terlihat sangat jelas. Hanya sekian langkah saja, sudah sampai.

Tampak depan, bangunan bertingkat ini seperti layaknya toko di China Town. Bawahnya digunakan untuk cafe kecil, ruang resepsionis dan ruang tunggu. Pintu menuju kamar penginapan ada di bagian kanan, hanya pemilik kunci (petugas hotel dan tamu menginap) yang bisa masuk karena bagian depan dilengkapi dengan alat security khusus.

Banyak toko cindera mata dan resto di sekitar hostel ini. 1 blok di belakangnya, ada China Town Street Food yang buka sampai tengah malam. McD 24 hours juga tidak jauh, hanya jalan kaki sekitar 100 meter saja.

Kami datang sekitar jam 11 siang. Waktu cek in sekitar jam 2-3, jadi kami hanya menitipkan koper-koper di belakang resepsionis. Ada ruang kecil seperti gudang yang berisi barang-barang tamu yang belum bisa masuk ke kamar.

Setelah koper tersimpan, kami memulai petualangan hari itu dengan jalan-jalan ke arah Marina Bay Sands. Kami kembali ke hotel sekitar jam 5, ambil kunci kamar dan masuk deh. Kami dapat kamar di lantai 2. Tangga nya lumayan tinggi dan sempit.

Alhamdulillah tas saya dibantu bawa oleh petugas, bukan manja bukan sombong … tapi saya memang dilarang dokter untuk membawa beban lebih dari 5KG. Sebelum berangkat pun teman-teman paham kondisi saya, dan mereka sudah berjanji akan membantu saya. Sebetulnya saya pun tidak boleh naik turun tangga. Tapi paling saya hanya naik tangga saat malam (pulang jalan-jalan), gak masalah hostel nya tidak ada lift … toh gak akan sering naik turun juga. Paling banyak hanya 2x sehari, karena hostel hanya tempat untuk tidur saja. Hehehe

Pilihan kamarnya beragam. Ada yang 1 kamar berisi 1 tempat tidur tingkat (2 bed), ada juga 4 – 6 – 8 – 10. Bisa pilih mau kamar campur atau khusus perempuan. Kami ambil kamar yang berisi 6 bed khusus perempuan. Tarif nya $32/bed.

Karena kami ber 6 dalam 1 kamar, kami hanya mengambil 4 kunci. Kita harus membayar deposit kunci $20/kunci … uang ini akan dikembalikan saat kita check out. Dalam kamar tidak disediakan handuk, kalau lupa bawa bisa sewa handuk dengan harga $2 saja di resepsionis.

Design kamar sangat minimalis. Semua berwarna putih, dengan demikian kebersihan kamar terlihat menonjol. Setiap bed dilengkapi dengan bantal dan selimut. Dilengkapi juga dengan AC dan kipas angin. Ada locker susun, ada juga laci besar di bawah tempat tidur.

Disamping (dinding) ada sebuah kotak berisi lampu baca dan colokan utk charge gadget kita. Sayang saya lupa foto, jadi mari kita pinjam dari Travideas untuk melihat lebih jelas penampakan kotak yang saya maksud tsb:

Kalau mau pilih kamar campur (cowok – cewek) atau tidak ada teman yang dikenal dalam 1 kamar atau tidak bisa mendengar suara berisik saat tidur … kita bisa beli earplug seharga $1 di resepsionis. Dijamin langsung senyap. Untuk yang khawatir terhadap kebersihan kamar, bisa membawa sendiri sarung bantal dan seprai seperti salah seorang teman saya. Paling enak sih bawa kain bali tipis, bisa digunakan sebagai alas tidur, selimut tambahan atau pun korden dengan menyampirkan di pinggir tempat tidur.

Semua kamar mandi berada di luar kamar. Di lantai 2 ini ada kamar mandi khusus untuk perempuan. Di dalamnya terdapat 3 wastafel dan 4 bilik (2 toilet duduk + 2 shower). Kecil sih tapi bersih, air dan tisu berlimpah. Saya belum pernah masuk kamar mandi dan kehabisan tisu. Selalu ada cadangan tisu di setiap bilik toilet. Karena ruangan terbatas, pintu di setiap bilik merupakan pintu geser.

Sarapan diberikan gratis di hostel ini. Menu nya berupa roti, selai (kacang – stroberi – blueberry), cereal, susu dan aneka kopi. Tempat makan berada di lantai 2, di teras belakang yang terbuka. Ada pantry yang dilengkapi dengan mesin pembuat kopi, ada sink tempat cuci piring, ada kulkas, ada microwave, ada toaster, ada ruangan mencuci baju juga loh … pokoknya lengkap deh. Eh tapi disini tidak disediakan TEH ya. Jadi sebaiknya bawa sendiri.

Karena hostel murah, semua nya dilakukan self-service.  Cuci piring sendiri setiap habis menggunakan peralatan makan, pencet dan pilih sendiri jenis kopi yang diinginkan (black coffee, cappuccino, latte, mocha, milo, teh tarik, white coffee), panggang sendiri roti nya, tuang sendiri cereal dan susunya.

Enaknya menginap di hostel, kita bisa tambah teman dan kenalan. Karena sering ketemu orang lain saat di pantry  atau pun di kamar mandi. Waktu malam pertama, kami sharing bolu dengan cowok bule yang lagi sendirian browsing internet. Hari kedua saat sarapan, kami sharing teh dengan opa dari Austria.

Opa ini hebat banget deh, sudah renta tapi masih keliling dunia bersama istrinya. Biasanya mereka pergi mengajak seluruh anaknya, tapi kali ini jadwal libur sekolah salah satu anaknya (usia 16thn) gak cukup panjang. Jadi liburan ke Lombok kali ini, mereka hanya bertiga saja (opa + istri + 1 anak). Karena penerbangan Austria – Lombok tidak ada yang langsung, mereka harus transit beberapa kali: Austria – Perancis – Singapore – Bali – Lombok. Setiap transit harus menginap 1 malam, karena tidak ada jadwal terbang yang dekat. Pantas saja mereka harus cuti 2,5 – 3 minggu untuk perjalanan ini.

Pagi itu kami ngobrol lumayan lama. Dari sekedar tanya tentang liburannya, sampai saya menerima wejangan tentang agama. Opa ini seorang pendeta, beliau concern tentang anak muda sekarang yang katanya tidak banyak yang beriman. Di Austria hanya 4% dari penduduknya yang benar-benar menjalankan perintah agama, sisa nya hanya beragama dalam dokumen negara tidak dalam hatinya. Karena tau saya seorang muslim, tambah panjang lah ceramahnya tentang silsilah nabi sampai kitab suci. Bagaimana kalau beliau tau saya pernah memeluk agama yang sama yah? Bisa digeret ke gereja siang itu juga. Hahahahaha.

Jadi saya hanya duduk mendengarkan saja. Dan ketika teman-teman saya mulai melipir menjauh satu-persatu, saya langsung ancam dalam bahasa Indonesia “yang kabur, gw jitak yah!” … mumpung opa gak ngerti hihihihi.

Okay mari lanjut review tentang hostel ini.

Seperti yang saya tulis diatas, lantai 1 hostel ini dibuat seperti cafe kecil. Kita bisa membeli aneka minuman dan makanan ringan. Diujung ruang ada 2 komputer yang bisa digunakan pengunjung. Ada ruang tunggu, lengkap dengan beberapa permainan (monopoli, scrabble, dll). Mereka yang menempuh penerbangan jauh (biasanya tamu dari bagian barat dunia), menggunakan ruangan ini untuk tidur sebelum mereka bisa masuk ke kamar. Kasian lah yah, masih jetlag setelah 20-30 jam perjalanan.Eh disini juga tersedia kartu pos yang bisa diambil GRATIS!.

Oya … di hostel ini tersedia free WiFi 24 jam penuh! Saat kita menerima kunci kamar, petugas akan memberikan username dan password untuk konek ke jaringan mereka. Kami sangat memanfaatkan fasilitas ini tiap malam. Apalagi kalo bukan untuk upload foto ke social media, chatting dan skyping (video call) dengan suami dan anak-anak di rumah.

Saya gak kapok deh menginap di HOSTEL, karena ternyata sangat homey, bersih dan menyenangkan. Berasa tinggal di kos-kosan, walau foto rame-rame dalam kamar mendapat komentar di FB “penampungan TKW” hahahahaha. Benar juga sih, beberapa tempat tidur tingkat dalam 1 ruangan itu bagaikan di tempat pengampungan tekawe.

Saya berencana suatu hari nanti akan mengajak Rafa untuk backpacker berdua. Saya ingin Rafa merasakan pengalaman yang sama. Terbuka wawasannya, tambah kenalan, berinteraksi dengan banyak orang baru, dan yang paling penting … bisa menikmati keindahan dunia dengan menghargai perbedaan yang ada di depan mata kita.

Tips and Trick menginap di hostel:

  • Jangan lupa bawa handuk dan peralatan mandi
  • Bawa sarung bantal, seprai atau sehelai kain tipis jika khawatir akan kebersihan hostel
  • Masukan pakaian ganti di dalam kantong plastik, supaya terlindung dari cipratan air saat kita bawa ke kamar mandi. Ingat, posisi kamar mandi agak jauh dari kamar. Jangan keluar kamar mandi hanya dengan lilitan handuk, kemudian lari ke kamar. Bahaya, ini bukan rumah sendiri hehehehe
  • Jangan lupa bawa converter / adapter. Supaya gak repot karena bentuk colokan listriknya beda dengan Indonesia
  • Cek usia tamu yang diijinkan menginap di hostel. Ada hostel yang hanya menerima tamu usia >12 tahun, tapi ada juga yang menerima anak >2thn dengan syarat harus ambil 1 kamar (bukan cuma ambil 1-2 bed).
  • Hostel seperti ini paling cocok jika kita berpergian dengan teman-teman lebih dari 2 orang, bisa ambil kamar yang isinya 4-6-8-10 bed. Atau kalau berpergian cuma berdua bisa ambil kamar yang isinya 2 bed, tentunya akan lebih murah dari di hotel.
  • Kalau berpergian membawa 2 orang anak (keluarga kecil 4 orang), ya tentunya akan lebih murah di hotel sih.
  • Kalau berpergian bersama keluarga >5 orang, lebih baik sewa apartemen saja. Akan lebih murah lagi daripada hostel.

Review pengunjung lain dalam bahasa Inggris:

Tertarik untuk mencoba?

Share this...
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

17 thoughts on “Review: 5FootWay Inn Singapore

  1. yang paling penting emang masalah kebersihan ya. kalo bersih ya asik2 aja…

    dan kalo bisa 1 kamar emang pas ama orang2 yang kita kenal. kalo share ama orang lain yang pasti kurang nyaman….

  2. Salam kenal,

    Mau tanya dong. Di 5 Foot Way ini anak balita diperkenankan menginap gak ya? Soalnya ada hostel yang biasanya tidak boleh. Anak saya usia 3,5 tahun.

    Thanks sebelumnya.

    1. boleh kok.

      lihat aja foto yang lagi di teras belakang untuk sarapan, ada foto anak kecil kan tuh?

      meja sebelah diisi keluarga yang membawa 2 anak kecil.

      iya memang hotel lain ada yang melarang anak <17 tahun

  3. Hai.. aq mau tny apa anda tau lokasi 5footway.inn Project Chinatown 2 apa berdekatan dgn 5footway.inn Project Chinatown, saya rencana ke Singapore Juni 2014 dan klo memang lokasi 5footway.inn Project Chinatown 2 jg ok saya maungkin ambl dsana krn lbh murah hrgnya.
    Sebenarnya msh galau mau ngnep di 5footway.inn Project Chinatown or 5footway.inn Project Chinatown 2 or 5footway.inn Project Boat Quay hehehhe msh pertimbangan smuanya .

    Mohon info nya…

    trims

  4. Hai Mbak De! Salam kenal.
    Saya juga pernah menginap di 5footway Inn Project 1. Highly recommended hostel!^^
    Btw nice blog,Mbak. Glad to find you saat mencari “menginap di ryokan” di Google-san. 😀

  5. 5Footway.inn project chinatown 1 OK banget, keluar stasiun MRT lsg terlihat, depan hostel pusat souvenir China Town, buat muslim makan di MC Donald aja 100M dari hostel.
    Project Chinatown 2 sekitar 500 meter dari Project Chinatown1. Buat muslim ada mesjid & rumah makan halal pas diseberang jalan project china town 2

Leave a Reply to De Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *