Browsed by
Category: Self Reminder

Hanya Sebagian, Bukan Semuanya

Hanya Sebagian, Bukan Semuanya

Saya mau sharing catatan dari apa yang disampaikan Ust. Syahroni Mardani beberapa waktu lalu ya:

– Qiyamullail pada sebagian malam
– Menjaga sebagian pandangan
– Menjaga sebagian suara
– Memakan dari sebagian yang halal
– Berinfak sedekah zakat dan wasiat dengan sebagian harta

Isilah perutmu dengan:
1/3 untuk makanan
1/3 untuk minuman
1/3 untuk bernafas

Sesungguhnya seorang mukmin makan hanya dengan 1 lambung dan orang kafir makan dengan 7 lambung.

IMG_3749

Zakat itu 2,5% atau 5% atau 10%
Berwasiat itu tak boleh lebih dari 1/3 harta

Sesungguhnya 1/3 harta itu sudah banyak, sudah besar. Engkau tinggalkan ahli waris dalam kondisi kaya, maka itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kondisi miskin dan meminta-minta

Sebagian manusia itu jahat, tapi yang baik masih ada.

Manusia ada yang begitu, tapi ada juga yang begini. Mari kita bijaksana.

Selamat berhari Minggu, jangan lupa bahagia

Sholat

Sholat

Sharing notes apa yang disampaikan Ust. Arifin Purba yah.

Jumlah total sholat seumur hidup:
– Baru mulai sholat 5 waktu di usia 10 tahun
– Meninggal usia 70 tahun
– Sholat yang dilakukan = 5 x 365 hari x 60 tahun = 109.000 sholat

Dari jumlah total tersebut:
– Berapa yang diTERIMA?
– Berapa yang diTOLAK?

Bisa ditolak karena:
– Menyia-nyiakan sholat
– Menunda-nunda sholat
– Sholat tanpa ilmu
– Tidak mengerti bacaan sholat
– Sholatnya tidak mencegah diri utk perbuatan buruk

Yakin sholat kita diterima semua?

Pantaskan diri dan perbaiki, yuk!

Hijabku

Hijabku

IMG_9840

Wanita Muslim Indonesia berusaha pakai hijab.

Wanita Arabnya malah nggak pakai hijab kalau lagi di luar Arab.

Semuakah?

Tentu tidak.

Masih banyak wanita arab yg sami’na wa ato’na. Begitu juga wanita Indonesia.

Arab itu negara
Islam itu agama

Saya pakai hijab karena ini salah satu perintah agama yang saya anut, jelas ditulis dalam kitab sucinya (QS 33 : 59 dan 24 : 31)

Saya pakai hijab bukan karena pingin ke arab-araban, cukup idung saya saja lah yang kearaban 😅

Kalau ada orang yang kebetulan menganut agama yang sama dengan saya, tapi belum menjalankan perintah agamanya … itu tanggung jawab pribadi masing-masing. SIAPA PUN ORANGNYA.

QS 39 : 41
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

QS 34: 25
Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat”.

QS 74 : 38
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya

Ibu Jaman Sekarang

Ibu Jaman Sekarang

Saya membaca tulisan ini di Path. Saya share di sini sebagai catatan pribadi dan pengingat diri.

——-

Pagi itu seorang teman memposting foto bayinya, dilengkapi tulisan, “Adek cantik lagi asyik sama empeng barunyaaa..

BREEEEEGGG!!

Seperti yang kuduga, 5 menit kemudian statusnya dibanjiri komentar…

Kok masih bayi udah dikasih dot??

Nanti bingung puting loh!

Eehh gak boleh tau bayi dikasih empeng!

Daan.. kalimat kalimat judgemental lainnya.

Di benak gw, gilaaaakk emak emak jaman sekarang sadeees bener kalo udah ngomentarin orang, wkwkwk..

Tunggu, ojo misuh dulu. Aku lagi gak membenarkan pengguaan empeng pada bayi ya disini. Tapi tentang manners. Tentang adab berperilaku.

Kenapa ya emak emak sekarang (gw termasuk, iya 😝 ) butuh banget merendahkan orang lain untuk meninggikan kepercayaan diri?

Yang kerja, ngenyek yang IRT. Nyebut nyebut, Hare genee masih nadahi tangan ke suami? Hellaaaaww~~ padahal nengadahnya juga sama suami sendiri, bukan sama suami situ, wkwkwk..

Yang di rumah, ngenyek yang kerja. Nyindir nyindir, kuliah tinggi tinggi anak dititipin ke pembantu yang cuma lulusan SMA?? Nyang bener ajee luuu~~ Lupaa… Lupa deh diaa, padahal generasi kita kebanyakan orang tuanya mungkin sarjana juga enggak. Situ berani bilang mereka gak kompeten ngurus anak? Lah elu bisa kuliah tinggi dididik siape cuy? Wkwkwkw..

Yang lahiran normal ngenyek yang cesar. Orang baru posting berita lahiran aja yang ditanya langsung, “NORMAL APA CESAR??” Lah, emang normal ataupun cesar, apa ngaruhnya ama hidup situ sik? Wkwkwkw.. dan lagian kenapa juga mesti dinamain persalinan normal, emang kalo lahirannya cesar, masuk kategori abnormal gitu? 😛

Gusti,
Kalo semua perdebatan dirinciin, bisa lebih dari seribu purnama ini 😂

Sekali lagi pertanyaanku tetep sama,
Kenapa ya kita butuh banget merendahkan orang lain untuk meninggikan kepercayaan diri sendiri?

Yang IRT merasa mulia, saat menyebut wanita karir itu abai terhadap anak anaknya.

Yang karir merasa hebat, saat memandang IRT menyianyiakan modal akademik dan potensi yang ia punya.

Yang homeschool merasa keren, saat rajin mencari dan menjelek jelekkan sistem pendidikan indonesia.

Yang nyekolahin anak merasa paling bener, saat memandang sistem pendidikan lain belom teruji hasil didikannya.

Yang ng-ASI merasa jagoaan, saat nyebut nyebut anak sufor sebagai “anak sapi”

Hey mak,
Bisa kah kita menjadi baik tanpa perlu merasa jadi yang paling baik?

Hey mak,
Tahukah kamu?

Cuma orang orang yang belum bahagia dengan pilihan hidupnya saja lah, yang masih butuh menaikkan harga diri dengan ngenyek pilihan hidup orang lain.

Semoga bukan aku. Semoga bukan kamu. Semoga Allah menjaga, dari tingkah laku kita sendiri yang berpotensi menyakiti saudara kita..

~Jayaning Hartami

Kita Di Sosial Media

Kita Di Sosial Media

Saat pertama ngeblog di akhir tahun 2003, bisa dibilang itu langkah awal wujud eksitensi saya di dunia maya. Setelah itu saya bergabung dalam forum komunitas yang bergerak dari mailing-list kemudian wadahnya berubah menjadi bentuk web.

Kemudian dunia maya ini disebut sebagai sosial media karena menjadi tempat interaksi sosial dan berbagi informasi. Dapat diakses tidak hanya melalui komputer meja tetapi sudah sampai komputer tangan alias smartphone. Berbagai aplikasinya pun bermunculan mulai dari Friendster, Facebook, Twitter, Instagram, Path, Snapchat, Youtube, dll. Saya pun mencoba mengikuti perkembangan teknologi dengan menginstal dan aktif di beberapa sosial media tersebut.

Di sisi lain saya tetap berusaha istiqomah menjaga blog ini dengan selalu update tulisan baru. Gak gampang loh berusaha awet ngeblog sampai lebih dari 10 tahun gini. Kebanyakan blog angkatan saya udah pada mati suri tuh karena yang punya alias penulis blognya lebih memilih eksis di sosial media lain.

Sempat ada masa di mana saya terserang rasa malas menulis blog karena khawatir dengan pembaca. Reaksi pengunjung blog memang susah diprediksi. Kadang mereka gak komentar langsung di postingan, tapi mengirim pesan japri (via email, WA, dll) untuk menanggapi tulisan saya.

Komentar negatif sudah pasti saya terima juga.

Atas cerita perjuangan saya melawan penyakit TBC tulang, ada yang meninggalkan pesan “kasian yah masrafa, udah jelek eh punya emak penyakitan pula

Di postingan resep Udang Gulung, ada yang japri berkomentar “kasian amat anak lo cuma dikasih mie instan. Cuma beda bentuk aja ini mah

Setiap saya sharing cerita perjalanan, pasti ada yang tanya “kerjanya apa sih, mba. Enak banget jalan-jalan mulu

Saat berbagi ide menata rumah dengan menampilkan foto-fotonya, ada aja yang bilang “pamer kekayaan banget sih

Catatan kegiatan olahraga, dikatakan “pencitraan hidup sehat banget sih mbak nya”

Lucu yaaa

image

Saya melihat sekarang makin banyak orang yang berasa malaikat, sibuk mencatat kejelekan orang lain. Gak sedikit yang berasa macam Tuhan, sibuk menghakimi postingan orang.

Setiap mau nulis atau posting foto, saya kadang mikir “ntar dianggap atau dikomentarin apa yah?

Manusiawi kan yah.

Tapi lama-lama saya sadar, kok saya ribet sendiri mikirin omongan orang lain. Padahal tidak semua orang beranggapan negatif, ada juga kok yang bilang mereka merasa terbantu dengan postingan saya.

Niatnya kan berbagi, syukur-syukur kalo bisa memotivasi atau menginspirasi orang lain.

Kalo ada yang merasa terintimidasi atau tersaingi, ya maaf aja. Anggap pelajaran bagi saya supaya merubah gaya bahasa penulisan yang tidak berkesan pamer atau sombong.

image

Niat kita menulis memang cuma Allah yang tau. Kita bisa menghapus postingan kita di sosial media, tapi ingat juga kalau kita tidak bisa menghapus internet history itu dari Allah.

Sekarang tinggal merubah pola pikir setiap akan posting, bertanya dalam hati “apakah postingan ini bisa bermanfaat bagi orang lain dan menjadi ladang amal kita?

Yang pasti saya menulis untuk mencurahkan isi hati. Saya ingin saat saya membaca kembali postingan lama, saya tidak akan merasa malu sendiri. Apalagi kalo sampai dibaca oleh anak dan cucu nanti.

Tidak perlu menjadikan sosial media sebagai ajang keluh kesah atau gerutuan terhadap masalah yang sedang dihadapi. Tidak semua hal harus kita bagi, simpan sebagian sebagai rahasia diri.

image

Setuju sama kak Injul yang menulis bahwa postingan di sosial media, sangat mencerminkan tingkat kedewasaan kita. Tidak hanya konten (foto dan gaya bahasa) yang kita unggah, tapi reaksi kita terhadap postingan orang lain juga bisa menggambarkan seperti apa diri kita sesungguhnya. Apakah kita tulus menulisnya, atau kita hanya ingin punya jatidiri yang berbeda di sosial media. Itu pilihan kita, dan tanggung jawab kita.